Temen2 sekalian, salah satu karakteristik yg saya yakini sebagai jantung suksesnya kebanyakan entrepreneur adalah kemampuan mereka untuk terus bekerja di bidang yg mereka minati meskipun berada dalam kondisi gagal dan kekurangan uang. Apa yg lantas juga membedakan mereka dari kebanyakan orang adl kemampuan untuk memaksa diri agar tetap produktif meskipun mereka sebenernya tidak dalam mood yg bagus.
Memang cukup susah untuk bisa terus PeDe akan kesuksesan diri ketika kita sama sekali belum pernah mengalami sukses itu sendiri. Di masa2 ini lah affirmasi diri, informasi yg benar dan keyakinan fake-it-till-you-make-it amat membantu dalam mewujudkan gagasan Anda amat berperan penting. Tapi toh kemudian, bukankah sukses itu adalah perjalanan alih2 tujuan. Jika Anda sudah menjalani profesi yg sungguh Anda minati, maka Anda sebenarnya sudah sukses.
Salah satu tantangan terbesar bagi para entrepreneur mula adalah self doubt; . Orang2 di sekitar bisa jadi akan menghardik dan bersikap non-suportif atas maksud Anda berbisnis scr mandiri. Sementara itu hasil yg bisa Anda peroleh juga tidak datang dg cepat dan dalam jangka waktu yg cukup lama Anda harus bekerja setiap hari untuk reward yg tak banyak. Kesabaran (yg beralasan) dan kekuatan keyakinan ambil peran amat penting di sini.
Salah satu perihal yg selalu saya lakukan ketika sedang tidak merasa antusias adl berfokus pada output dan tindakan (fokus kok dua?
). Bersemangat dan merasa terhempas adl sebuah bentuk pilihan. Saya boleh jadi sedang merasa remuk di dalam, tapi saya tahu betul bahwa ketika saya menghasilkan output atau mengambil tindakan produktif, artinya saya terus mendekat pada pengharapan (goal) yg saya ingini. Perasaan semakin dekat pada tujuan itu lah yg kemudian membuat saya merasa nyaman dan terus bertindak dan terus menghasilkan output.

Lebih jauh lagi, bila Anda berfokus pada dua hal ini, maka aktivitas fisik yang Anda lakukan itu akan membawa dampak positif pada kondisi emosi Anda. Negative emotion breeds negative actions. Ada benarnya. Tapi, Positive actions can also breeds positive emotions.
So, kenapa kok menjalani karir/profesi atau memulai bisnis atas dasar hobi tak sebegitu mudahnya?
- Tidak menyediakan waktu atau belum bisa membaca kecenderungan minat, kecenderungan bakat dan kompetensi
- Masih terpengaruh cara pandang kebanyakan orang akan profesi tertentu, ttg bagaimanakah kriteria profesi dibilang keren dan sukses
- Meremehkan hobi sendiri, lupa utk mencari tau atau mengeksplorasi segala potensi profesi yg bisa dimunculkan dari hobi
- Belum berhasil menemukan komunitas yg suportif
- Belum mengasah kemampuan utk berfokus pada output & tindakan produktif
Jika Anda bener2 pengen mengecap rasanya sukses, maka Anda harus menempuh dan merampungkan langkah2 yg diperlukan untuk mencapainya. Bukan hanya sebagian saja darinya dan juga bukan hanya ketika mood Anda lagi bagus. Hal ini butuh upaya yg kuat & kongruen terlepas bagaimana kondisi eksternal maupun pergolakan internal Anda.
Ya sudah, klo sudah begini, langsung aja Anda segera ambil tindakan.
![]()
Pindah Halaman: 1 2






April 2nd, 2008 at 2:35 pm
[...] Kenapa Berbisnis Atas Dasar Hobi Tidak Sebegitu Mudahnya? Bagi post ini ke teman2 Anda: These icons link to social bookmarking sites where readers can [...]
April 3rd, 2008 at 1:22 am
cuma modal hobi pasti belum cukup…masih ada faktor teknis berbisnis yang juga musti dikuasai…iya tho?
Hedi’s last blog post..Ultah Presiden
April 3rd, 2008 at 3:08 am
wah kadang saya bermimpi bisa ngak saya berpenghasilan dari hobi ngeblog hehehe :Dsaya masih punya motivasi dalam berkarir tidak melalui hobi.kadang juga kalo disatukan hobi dan kerja malah ngak bisa bekerja maksimal dan atau berhibur dengan nikmat.kalo kerjaan sumpek ada hobi bisa dinikmati hehe
aRuL’s last blog post..SPMB dan duit
April 3rd, 2008 at 3:40 am
menurut saya, karena ya emang yg namany bisnis itu semuanya susah, gak ada yg gampang
April 3rd, 2008 at 5:11 am
harus banyak persiapan dan banyak modal untuk memulai bisnis. tidak hanya kesenangan belaka
April 3rd, 2008 at 11:32 am
Hedi:
Betul sekali, yg namanya berbisnis tentu butuh kompetensi, jaringan, permodalan finansial dsb. Tapi apa yg penting adl kita memulainya dg hobi sbg bahan bakar untuk bersedia mendapatkan seluruh sumberdaya yg dibutuhkan utk berbisnis.
aRul:
Seperti yg sudah saya sebutkan di posting berbisnis dg hobi, memang tidak semua hobi bisa dg mudah dikonversi jadi profesi (khususnya krn kita di Indonesia). Realitanya, konversi dari hobi ke profesi tidaklah selalu bisa sedemikian langsung atau mentah2.
Semisal seseorang yg berhobi sulap, tidak lantas dia harus jadi pesulap. Ya memang bisa, tapi kita juga perlu pertimbangkan feasibility dr hobi itu sendiri sbg suatu profesi tunggal. Ada market demand & faktor lain yg perlu dipertimbangkan. Shg yg perlu dilakukan adl mempertemukan -mengawinkan- hobi -dlm contoh ini adl sulap- dg konteks pekerjaan lain, misal dg public speaking, event organizing, house production, child care, baby sitting, production house, advertising, franchising, dsb. Ini menjadikan seseorang belajar kompetensi2 komplementer yg sudah jadi kewajiban utk saat ini.
Seseorang yg gemar menulis semisal, bisa memilih jd penulis novel, dan itu adl contoh raw conversion dari hobi ke profesi. Tapi dia juga bisa memilih utk mjd blogger professional yg mana dia perlu belajar ttg SEO, social networking, blog optimization, dan beragam aspek teknologi lain. Semakin luas kompetensi komplementer (pelengkap/pendukung) dan semakin pandai menemukan ceruk yg miliki tema dasar sesuai hobi, maka semakin besar pula pencapaian (semisal finansial) yg seseorang dapatkan.
Kamal & Antown:
Betul, yg namanya bisnis -apalagi memulainya- memang ndak gampang, dan malahan juga ndak sebentar. Dia yg menjalani -saya rasakan sdr- harus bersedia berada dlm kondisi yg scr finansial tertinggal dr rekan2 satu angkatannya. Dusta klo ada yg bilang klo berbisnis itu gampang. Shg justru krn itulah maka seseorang perlu memulai dan menjalaninya atas dasar hobi dan kesukaan shg kala menjalani dia tetap bisa bersyukur pd Tuhan dan berkata “It’s really worth it”
Perlu saya tekankan, bahwa issue mendasarnya adl berprofesi/berbisnis atas dasar hobi/preferensi. Tidak lantas merupakan anjuran utk serta merta keluar atau berpindah pekerjaan. Pun tidak serta merta saya mengajak seluruh pembaca utk berbisnis. Jika memang sudah menikmati dan menjalani dg penuh bersyukur dlm profesi sbg karyawan, dosen atau yg lain, that’s good. Gagasan pentingnya adl kita most likely akan bisa jadi luar biasa di bidang apapun yg kita geluti klo kita punya kesukaan & penghargaan yg tinggi atasnya. Utk mereka yg jadi dosen, ndak usah berpikir jadi entrepreneur tu lebih keren dan mulia. Justru cara pandang inilah yg saya sebut jd salah satu penghalang utk sukses. Sesungguhnya kita bisa jadi luar biasa dan berguna dalam bidang apapun kita, asal kita menikmati dan bersedia utk luangkan resource kita utk terus jd lebih baik di sana.
April 3rd, 2008 at 1:35 pm
Hobinya sih kelihatannya asyik, tapi berbisnisnya itu rasanya yang nggak mudah. Tapi kalau berbisnisnya itu bisa betul-betul seiring dengan hobi, termasuk dalam hal kemampuan menikmatinya, bagus banget tuh…
April 3rd, 2008 at 4:34 pm
[...] Anda ikuti pemaparannya di Kenapa Berbisnis Atas Dasar Hobi Tidak Sebegitu Mudahnya? Ditulis oleh Akhmad Guntar [...]