Jika Anda terlibat di usaha start-up spt saya, tau sendiri deh. Biarpun udah bagi2 peran, tapi masih banyak proyek dan urusan2 yang kudu ditangani sendiri. Yang satu belum selesai, kerjaan lain udah nunggu diselesein. Meminjam istilah teman, kayak lagi renang aja, tangan kaki gerak mulu :mrgreen:. Konsep “konsentrasi layaknya garis lurus tanpa adanya distraksi dan intervensi hingga 100% penyelesaian” terasa salah dan non-feasible bagi saya, mungkin juga bagi Anda. Lha wong gimana, kerjaannya emg banyak kan. Iya nggak, sih? ![]()
Hal terpenting dr pengerjaan multitasking adl penentuan apa2 yang emg kudu dikerjakan. Hukum pareto, meskipun saya bisa pahami & -klo ndak lupa- terapkan dlm konteks pembuatan & pemasaran produk, tp dlm konteks penyelesaian task harian, saya blum bisa terapkan tuh. Nilai dari 80 persen aktivitas akan terkandung dalam 20 persen aktivitas dlm daftar. Saya ndak paham, klo semuanya emg udah layak dikerjakan, lantas pareto ini buat apa?
Yang jelas, secara riil saya memang menemukan ada aktivitas2 yang awalnya terlabeli sbg Wajib tyt jadi ndak penting lagi, atau basi. Sehingga yang dilakukan tentu saja adl mendiskontinyu pengerjaannya. Dan setau saya, ini memang adl fenomena yang wajar bagi sebuah start-up bisnis.
Hal penting selanjutnya, penentuan urutan pengerjaan, ndak saya lakukan atas dasar pareto, melainkan skdr dr itung2an sederhana; manakah yang lebih mendesak & lebih cepat terselesaikan. Bagi saya, penentuan berdasarkan value & contribution hanya berlaku ketika masih dalam gambaran besar.
Pendeskripsian dan penentuan urutan ini biasa saya lakukan setiap pagi sbelum berangkat ngantor. Think on paper, begitu deh sebutannya. Ada lantas yang menyarankan baiknya aktivitas ini dilakukan pada malam hari sebelumnya aja. Biar waktu bobo, subconscious mind kita bisa mbantu mikirin. Kapanpun dilakukan, berdasarkan pengalaman saya, aktivitas ini efektif dilakukan sebelum berangkat kerja.
Think-on-paper ini bisa pake perangkat apa aja. Saya sdr masih pake notes kecil biasa, dg mengembangkan notasi2 khusus. Mo pake PDA atau aplikasi apapun di PC ndak masalah. Yg penting itu dipake scr rutin hingga jadi kebiasaan, sama seperti menarik dan menghembuskan nafas.

Dlm Think on Paper, saya juga melakukan penyusunan bongkahan task; mengumpulkan task yang mirip dlm satu bingkai waktu. Reply email, blogwalking (wait, bloging adl kerja?:roll:), prospekting mail/telepon, riset data di internet, masing2 dlm bongkahan waktu yang sama, demikian juga nulis proposal2, surat resmi, analisa gagasan dlm bongkahan waktu yang sama, pokoknya task yang identik dikumpulin dalam bingkai waktu yang sama.
Soalnya dalam hal ini berlaku konsep learning curve.
The more we do of a repetitive task, the faster and easier we will perform each subsequent task of that kind.
Jika awalnya butuh 10 menit utk kerjakan suatu task, maka akan cuman jadi 8 menit aja utk task berikutnya yang bersifat identik, 7 menit utk yang selanjutnya dst. Anda coba aja deh, manjur kok. Kita bisa hemat waktu sampe 20 persen (itungan kira2 lah :-)) untuk selesaikan task2 yang bersifat identik.
Selanjutnya adl pengalokasian tugas2 dalam nuansa fokus mode A atau B. Ini sekedar istilah saya sendiri aja sih. Fokus mode A klo saya masih bisa tuntaskan task dg distraksi.
Distraksi? Yup, the paradox of work.
“You cant get any work done at work” Fully 50-75 percent of the time in any work environment is spent in conversation and discussion with other people.
Sementara mode B adl ketika kebutuhan The Flow mjd kewajiban. Thanks for the reference, Ndry
When you have a long stretch when you aren’t bothered, you can get in the zone (the flow state of mind). The zone is when you are most productive. It’s when you don’t have to mindshift between various tasks. It’s when you aren’t interrupted to answer a question or look up something or send an email or answer a Yahoo Messenger. The alone zone is where real progress is made.
Untuk mendapatkan mode B, saya biasa kerja di kamar kost, just me and my laptop. Klo Anda terikat jam kerja, saya sarankan utk gunakan waktu di pagi hari sebelum berangkat ngantor utk dapatkan mode B ini. Sementara klo udah di kantor dan pengen serius beneran, saya matikan tuh semua browser di monitor satu dan dua, termasuk Yahoo Messenger. Dan terbukti jadi lebih khusyu’ & tuma’ninah dlm bekerja ![]()
Issue menariknya, dg banyaknya task yang masih dlm status on-progress, kadar stress bisa lebih tinggi ketimbang klo urusannya dirampungkan bergantian satu per satu. Ya nggak?
Ndak cuman itu, klo tumpukan tasknya ndak termanage dg baik, selesainya kan jadi lebih lama. Hal ini malah berpotensi menurunkan rasa percaya diri.
Motivasi kan dateng dari feeling of achievement & accomplishment. Klo kerjaannya beres, makin baik kita merasa ttg diri sendiri, dan makin semangat juga kita ngerjain task lain. Nah klo kerjaannya nggak beres2 trus gimana dong?
Maka adl penting utk membuat jurnal pengerjaan tiap hari. Progress apapun didokumentasikan, tanpa ada prasyarat tercapainya state finished/completed. Hal ini, selain memberikan sense of achivement (on progressing & doing something), juga untuk membantu mengevaluasi produktifitas dan prioritas penyelesaian tugas. Klo saya dan temen2 gunakan online Bulletin Board untuk ini; pelaporan tiap hari, dg acknowledgement, masukan dan support dari atasan & sesama rekan kerja.

Dan sekedar ngingetin kita bersama, jangan lupa juga untuk melakukan perekayasaan tugas; delegasikan, sederhanakan (kurangi kompleksitasnya), tunda, outsource dan juga diskontinyukan kerjaan2 yang belakangan ketahuan klo ndak penting.
Klo ternyata masih juga mbikin kepala cenat cenut, spt saya seharian di akhir minggu kemaren, anggep aja kita sedang menembus batas; Reaching Out …Into a New Height
Ayoo, semangat..semangat..!!!






August 13th, 2006 at 6:00 pm
Multitasking. I spent most of my time on multitasking, not to do the tasks itself, but for deciding what to do, which one comes first and what came second. Huehue..
Wah, urutan cara kerja kita mirip ternyata ^^
My “alone zone” takes over my sleeping time. Great progress. Minimum distraction. But it kills everyone around (saya selalu nyetel musik kenceng-kenceng kalo lagi kerja, on the speakers, not headphones)
Got a suggestion to fix this problem? Other than shifting into the normal work hours? Believe me, that one will never work on me
August 14th, 2006 at 6:25 am
klo hukum pareto dalam manajemen kualitas seingat saya kata Bapak Dosen dulu … ^_^ … mengatasi 20% masalah yang bisa memberikan pengaruh ke 80% hasil.
“Saya ndak paham, klo semuanya emg udah layak dikerjakan, lantas pareto ini buat apa?”
Pareto sama ama konsep ABCDE atau aturan hukum Islam wajib, sunah, mubah, makruh ama haram. kan ga semua layak dikerjakan …
misal, konsep ABCDE itu, klo yang dikerjakan yang A, akan ngasih 80% dari nilai keseluruhan aktifitas tuh ya … ^_^ … dan A itu ibarat sholat kali ya … hukumnya wajib … ^_^
anyway … wajah di foto tuh serius banget jangan2 malah lagi nonton Batman Return … pasang wajah dingin karena terpengaruh sama Bruce Wayne … ^_^ … *nuduh …
August 14th, 2006 at 6:32 am
eh … ternyata dibawahnya “Saya ndak paham, klo semuanya emg udah layak dikerjakan, lantas pareto ini buat apa?” dah ada keterangan lebih lanjut … jadi malu … abis yang diliat paragraf awal dan ama gambarnya duluan … hehehe … ^_^ …. jadi ndak jawab pertanyaan deh … wong dah dijawab dhewe … ^_^ …
August 14th, 2006 at 9:32 am
Wah, kayaknya situasi ini cocok deh untuk penerapan Getting Things Done (GTD). Ini merupakan konsep manajemen workflow yang populer banget di Amerika khususnya Silicon Valley. Ada istilah-istilah seperti konteks, waiting for, someday, next action dll yang sudah mencakup “mode” dan delegasi.
Sesuai judul bukunya “Getting Things Done: The Art of Stress-Free Productivity”, idenya adalah bagaimana kita bisa produktif tanpa stres. Kebetulan saya pernah menulis ringkasannya :).
August 14th, 2006 at 9:40 am
Buat mas S Setiawan:
Klo menurut saya ada baiknya kita melatih kekuatan konsentrasi kita. Klo merhatiin orang sholat, ga peduli betapa berisiknya orang di sekitar kita, yg namanya flow itu pasti kebentuk.. meskipun yah.. lebih baik sholat di lingkungan yg ga berisik.
Menurut saya (lagi) sih.. konsentrasi yg terlatih itu artinya kita ga butuh headset gede (yg biasanya peralatan wajib programmer sakti), atau nunggu larut malam dulu, atau harus men’diam’kan lingkungan sekitar (dengan cara apapun, berat nih) baru bisa masuk ‘flow’. Flow itu bisa kita bikin kapan kita mau, dalam waktu yg ga lama, dalam kondisi yg gimana pun. Tanpa headset, musik, mp3 favorit,dkk. Itu baru namanya jagoan.. kerja di jam kantor -normal- plus istirahat di malam hari kan lebih sehat.. ya ga? (lagi-lagi) ini menurut saya loh ya..
August 14th, 2006 at 4:48 pm
Ah, I think the ppl around have reached the point of deafening themselves. It have lasted years, they have lived with it.. :-”
Aih, no, I don’t have problems with concentration or getting myself into a fine Flow. Some things are habbitual. Not that I cant work in the morning or noon if required
And it feels nice listening to some tunes while working. Back to that, most things are habbitual. But thank you for the advice
Already shifting to the normal AM to PM schedule anyway.. ^^
August 15th, 2006 at 2:02 pm
kalo aku seeh first thing first, yang paling penting dan utama di dulukan
August 17th, 2006 at 3:24 am
Setuju. Tapi sulitnya kalau kita sedang mengerjakan itu semua tiba-tiba harus mampir untuk meeting yang lebih dari 1 jam. Wah sudah bubar konsentrasi
August 17th, 2006 at 1:39 pm
Iya, saya sepakat dengan Anda. Bahwa segala hal harus berdasarkan prioritas. Tetapi jangan lupa, hindari multitasking… Kebanyakan malah ndak ada yang selesai. Atau kalo toh selesai, hasilnya ndak se-perfect yang kita inginkan.
August 18th, 2006 at 9:34 am
Aribowo:


Yep, first thing first it is. Dan tantangannya adl membuat pemilahan perihal2 yg penting & utama scr konkrit & aplikatif
Barry:
Iyah. Betuls. Meeting emg bisa ngerusak the Flow. Klo saya di kantor, kadang meeting via intranet messenger. tapi ya gitu, capek ngetiknya, lebih cepet klo ngomong emg
Dianika:
iya, mbak Dianika, sepakat. Meskipun setahu saya, para wanita cenderung lebih bisa multitasking ketimbang cewek
August 18th, 2006 at 3:03 pm
Itu, ralat, “Para wanita cenderung lebih bisa multitasking ketimbang cewek” :-” Hayoo, ada yang salah huruf.. :-”
August 18th, 2006 at 6:42 pm
Hukum pareto, meskipun saya bisa pahami & -klo ndak lupa- terapkan dlm konteks pembuatan & pemasaran produk, tp dlm konteks penyelesaian task harian, saya blum bisa terapkan tuh. Nilai dari 80 persen aktivitas akan terkandung dalam 20 persen aktivitas dlm daftar. Saya ndak paham, klo semuanya emg udah layak dikerjakan, lantas pareto ini buat apa?
kalo udah semua dikerjakan dan karena 80% aktivitas terkandung dalam 20% aktivitas jadi pareto buat menejelenterehkan *wedeh* hal-hal mana yang harus lebih difokuskan dbanding yang lain meski tetep semua dilakukan.
*komen ngga jelas dari a tired six sigma green belt :D*
August 19th, 2006 at 2:20 am
karena kerjaan saya “berdasarkan acuan tanggal & jadwal”, makanya di bilik saya banyak kertas tempel…hehehe
btw, tips yg bagus
August 25th, 2006 at 5:52 pm
Wah wah…
Saya dulu suka multitasking (gemini nih), tapi tidak lagi.
Multitasking itu tidak manusiawi. Bahkan proserpun tidak multitasking, yang ada hanya ilusi multitasking.
Banyak kok yang sudah menghitung secara empiris bahwa multitasking itu tidak bagus.
Mending, seperti kata Nana, ikut paretto. Fokus saja ke 20, dapet 80. Kerjakan sesuatu dari sampai khatam, baru beralih ke yang lain. Itu lebih menghasilkan dan produktif. Sudah kodrat kita tidak bisa multitasking kok
August 28th, 2006 at 9:11 am
Nananias:
Saya sepakat sekali, mbak Nana. Makasih atas pencerahan dan penegasannya ^_^
Hedi:
Good for you deh klo dah ndak multitasking. Sepakat, processor ae gak multitasking. Demikian juga dengan kita; gak mungkin bener2 bersamaan dlm ngerjain task.
Someday, semoga mas Hedi lah yang akan membuat orang2 bekerja berdasarkan acuan tanggal dan jadwal. Krn sampean lah yang menentukan buat mereka; since you are the boss
Andry:
Onok maneh; gemini senenange multitasking
Bahwa multitasking itu ndak bagus, aku juga sepakat. Masalahnya klo kondisinya ndak bisa sejalan dengan model yang kita harapkan; kerjaan sedemikian bajibun dan saling menyela. Shg pareto emg very helpful. Dan adl tantangan & skill tersendiri utk mengkontekskannya scr tepat
August 29th, 2006 at 8:39 am
saya dulu termasuk mabuk multitugas, karena berharap pada dukungan teknologi. dalam beberapa hal bisa, tapi otak saya — dan lebih penting lagi: jiwa saya — akhirnya menolak.
skala prioritas? sekarang sering saya abaikan. to-do list saya kurangi. merupakan kebahagiaan jika halaman depan outlook kosong, dan kalender dalam ponsel juga kosong.
saya sekarang sering pakai intuisi dan mood. baguskah untuk kerja tim? sayang sekali tidak.

adakah kekacauan? sedikit. datang ke tempat yang salah, dengan waktu yang salah, ketemu orang yang salah.
September 26th, 2006 at 2:19 pm
Mas Guntar, sekarang aja udah terbukti kalo harddisk SATA kinerjanya lebih wah daripada harddisk PATA
September 28th, 2006 at 11:09 am
Teknologi bisa jadi mendukung multitask, tapi gaya produktivitas kita bisa jadi kurang bersesuaian dg itu. Dan tepat krn alasan itulah teknologi muncul; untuk memfasilitasi gaya produktivitas kita yg cenderung singletasking.
Gimana2, pemfokusan segenap sumberdaya diri pada satu penugasan emg memberikan hasil lebih optimal, scr hasil & pikiran. Seandainya saja the nature of work - scr khusus yg saya jalani - terbangun atas teknologi Serial ATA alih2 yg Parallel, tentu akan lebih enak
October 17th, 2006 at 11:30 pm
Sepertinya dunia mengharapkan kita untuk multitasking saat ini, diamini oleh teknologi maka sehari bukan 24 jam namun lebih. Terima kasih atas sharingnya, menarik sekali. Salam kenal..
October 18th, 2006 at 6:46 pm
Maka sehari bukan 24 jam, namun lebih

Jika saja waktu orang bisa diperjualbelikan, maka saya akan berani berinvestasi untuk itu. Anda juga tentunya
October 7th, 2008 at 7:02 am
[...] jadi lebih awas dan bersiap sedia untuk urusan selanjutnya. Yang penting adalah segera memulai, menciptakan flow produktif dan meraup motivasi darinya. Jadi ketika Anda merasa malas untuk melakukan sesuatu, mulai saja [...]