May 11
Pada post sebelumnya, telah saya sampaikan bahwa beda pria wanita juga tampak pada perihal bagaimana mereka berkomunikasi. Nah, perbedaan ini bukanlah untuk kemudian dijadikan pembenaran untuk bersikap apa adanya. Kita bisa memilih untuk lebih produktif dan efektif dalam berkomunikasi.
Kita mulai dulu dari tips untuk para cowok. Sejak dulu kan cowok selalu dituduh sebagai kaum yang tak pengertian thd cewek. Bisa jadi itu memang benar. Entah apa karena kebanyakan cowok memang bebal atau kebanyakan cewek memang sebegitu susahnya untuk dimengerti, itu tak perlu diperdebatkan. Apa yg lebih penting adalah memahami perbedaan yg ada dan membuat penyikapan yg lebih bijak atasnya.
Okai, para cowok, perhatikan yg berikut ini:
Baca lanjutan post »
Feb 15

Hari sabtu 9 Februari 2008 kemarin saya mendapat kehormatan untuk memberikan seminar di hadapan lebih dari 200 orang dalam acara seminar Character Building. Seminar ini diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Elektro yg juga menghadirkan Ibu Marissa Haque, yg serius bener2 keliatan masih berumur 30an. Dalam seminar itu saya mempresentasikan materi Menjadi Diri Sendiri, Globalisasi 3.0: Tantangan di Depan Mata + Shift Happen, dan Pengembangan Karakter di Zaman Global. Saya akan paparkan beberapa bagian dari presentasi saya di blog ini.
Kita seringkali dilatih untuk meyakini bahwa diri ini unik, bahwa setiap kita ini ibaratnya satu di antara seribu. Keyakinan semacam ini biasa ditanamkan untuk membentuk rasa percaya diri. Tapi klo kita mau serius menelaah pengibaratan ini, kita harus berani mengkoreksi batas2 percaya diri kita.
Jika Anda di Cina, lalu mengatakan bahwa Anda adalah satu di antara seribu, maka sesungguhnya masih terdapat 1,3 juta orang yang sama spt Anda. Penduduk Cina adalah 1,3 milyar, maka satu di antara seribu berarti… Got it? Jika Anda mengatakan perihal yg sama di India, maka sesungguhnya masih ada 1,1 juta orang yg sama spt Anda. Sehingga jika Anda di Indonesia ini mengatakan bahwa Anda adalah satu di antara seribu, …you do the math.
Baca lanjutan post »
Jan 22
Pada post sebelumnya saya menulis tentang pernikahan yg bisa mbikin seseorang jadi lebih endut. Tentu ini adalah fenomena yg tidak diharapkan. Berikut ini adalah apa2 yg saya sedang dan coba untuk lakukan:
KOMUNIKASIKAN DAN BIKIN KESEPAKATAN
Begitu udah nikah, perihal komunikasi memang jadi perkara yg amat dipentingkan untuk hampir semua urusan. Begitu juga dg yg satu ini. Pada post sebelumnya kan saya sudah katakan bahwa pernikahan bisa mbikin sang istri demen masak untuk menyenangkan suami. Ketika sang istri tidak terinformasikan secara benar tentang program diet sang suami (atau sebaliknya), maka beragam jenis camilan dan makanan maknyus penggemuk badan bisa beredar di alam sekitar. Mereka yg tidak punya masalah dg kegemukan memang bisa jadi ndak paham betapa tersiksanya bila diri ini dikelilingi berbagai junk food dan makanan enak yg perusak diet

Baca lanjutan post »
Jan 15
Baru juga berapa minggu menikah, lha kok bobot saya udah naik tiga kilo. Gawwat! Ini bener2 harus disikapi dg segera.
Sudah sejak lama sebenernya saya temui fakta pembukti di lapangan; temen2 -dan termasuk jg kakak- yg setelah beberapa bulan menikah, semua menunjukkan kemajuan yang relatif sempurna di daerah perut. Olok2an kasarnya; perut mereka lebih maju mendahului kariernya
Sadly, perempuan dan laki-laki yg sudah menikah tenyata lebih berpotensi untuk jadi gemuk ketimbang ketika masih membujang. Begitu hasil penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2002 di American Journal of Human Biology. Peneliti Jeffery Sobal dari Cornell University juga menegaskan bahwa pasangan yg baru menikah akan berpotensi jadi lebih gendut, melebihi para bujang atau mereka yang telah menduda, menjanda, dan bercerai.
Update: dari majalah TIME, 4 Februari 2008
Marriage is fattening, particularly for husbands. Married man are nearly 20% more likely than unmarried men to be overweight.
Lha kok bisa?
Baca lanjutan post »
Recent Comments