<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>akhmadGuntar dotcom &#187; Manajemen Karir</title>
	<atom:link href="http://akhmadguntar.com/category/manajemen-karir/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://akhmadguntar.com</link>
	<description>Manajemen Produktivitas &#38; Pengembangan Diri</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Sep 2010 15:35:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>9 Kiat Menjadi Supervisor Handal</title>
		<link>http://akhmadguntar.com/9-kiat-menjadi-supervisor-handal.html</link>
		<comments>http://akhmadguntar.com/9-kiat-menjadi-supervisor-handal.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jun 2010 22:15:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Guntar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manajemen Karir]]></category>
		<category><![CDATA[karir]]></category>
		<category><![CDATA[karyawan]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen karir]]></category>
		<category><![CDATA[manajer]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan karir]]></category>
		<category><![CDATA[pensiun]]></category>
		<category><![CDATA[sukses karir]]></category>
		<category><![CDATA[supervisor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akhmadguntar.com/?p=1314</guid>
		<description><![CDATA[Supervisor adalah seseorang yang ditugasi untuk membuat perencanaan, melakukan pengawasan dan pengelolaan terhadap orang-orang yang ada di bawahnya berdasarkan hierarki jabatan. Berikut ini adalah kiat untuk menjadi supervisor yang lebih baik khususnya dalam kaitannya menghadapi mereka yang disupervisi. 1. Perhatikan betul momen interaksi Anda. Bersikaplah lebih cermat dari biasanya di setiap interaksi dan komunikasi antara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/supervisorpengawas.jpg" alt="9 Kiat Menjadi Supervisor Handal" /></p>
<p>Supervisor adalah seseorang yang ditugasi untuk membuat perencanaan, melakukan pengawasan dan pengelolaan terhadap orang-orang yang ada di bawahnya berdasarkan hierarki jabatan. Berikut ini adalah kiat untuk menjadi supervisor yang lebih baik khususnya dalam kaitannya menghadapi mereka yang disupervisi.</p>
<h3>1. Perhatikan betul momen interaksi Anda.</h3>
<p>Bersikaplah lebih cermat dari biasanya di setiap interaksi dan komunikasi antara Anda dan anak buah. Lebih cermat di sini dalam artian bersikap reflektif dan awas: &#8220;Apakah aku mau manakala disuruh atau dinasehatin dengan cara seperti ini?&#8221;, &#8220;Apakah aku sudah menunjukkan rasa hormat kepada mereka yang aku suruh ataukah aku terkesan mentang-mentang dan sok?&#8221;, &#8220;Apakah cara ngomong yang seperti ini bisa dipahami oleh mereka?&#8221;<br />
<span id="more-1314"></span><br />
Ada kalanya anak buah enggan membuka mulut terhadap supervisor karena mereka khawatir terlihat bodoh atau mereka bermaksud mencari tahu sendiri apa-apa yang sebenarnya mereka tidak mengerti. Maka bersikaplah cermat dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan reflektif seperti di atas. Baca juga bahasa tubuhnya, apakah bola matanya melihat ke kiri samping atau atas selama beberapa saat lalu sesudah itu dia mengernyitkan dahi? Itu tandanya dia tak punya suatu pengalaman pun dari ingatannya yang membuat dia bisa pahami omongan Anda. Apakah dia mendengarkan Anda sambil menutupi mulutnya dengan telapak tangan setelah itu dia silangkan tangan di depan dada apalagi sambil menatap Anda sambil tundukkan kepala? Itu artinya dia awalnya ragu dengan apa yang Anda sampaikan, dia membandingkan dengan apa-apa yang dia ketahui dan lalu tidak bersepakat dengan Anda.</p>
<h3>2. Dapatkan masukan langsung dari anak buah Anda.</h3>
<p>Terutama di saat momen informal, coba tanyakan kepada anak buah tentang apa-apa yang bisa membuat Anda bisa lakukan tugas dengan lebih baik;</p>
<ul>
<li> Kamu pernah nggak punya supervisor yang sip? Dia orangnya kayak gimana? dan apa yang biasa dia lakukan?</li>
<li> Kamu masih inget nggak pujian paling indah yang pernah kamu dapatkan dari supervisor kamu? Itu pujian atas apa?</li>
<li> Pernah nggak kamu nemui supervisor kamu lagi menjengkelkan atau bersikap apapun yang kamu jadi bener-bener nggak suka? Kalau nggak pernah, kira-kira apa yang bakal mbikin kamu jengkel ama supervisor kamu?</li>
<li> Menurut kamu sendiri, apa yang kamu butuhkan untuk membuat kerjaanmu jadi tambah bagus?</li>
<li> Menurutmu aku punya sifat apa yang bisa mbikin temen-temenmu benci atau gak betah sama aku?</li>
</ul>
<p>Seluruh pertanyaan di atas pada dasarnya menanyakan persepsi anak buah terhadap supervisor sehingga bisa ditemukan informasi yang spesifik dari tiap orang. Anda tidak sebaiknya menghabiskan seluruh pertanyaan itu pada satu orang. Atau jikapun Anda memang punyai karyawan yang amat kritis, jangan tanyakan itu semua pada satu waktu. Untuk karyawan yang kurang kritis (atau kurang cerdas), Anda sebaiknya berikan dia waktu untuk menjawab; entah beberapa jam atau hingga keesokan harinya.</p>
<h3>3. Dengarkan dengan lebih baik</h3>
<p>Semakin Anda handal dalam mendengarkan kebutuhan orang lain, semakin orang lain akan merasa dihargai, hingga kemudian semakin juga mereka menghargai dan mendengarkan Anda. Tidak hanya itu, mereka akan lebih permisif atas kesalahan atau khilaf yang Anda pernah lakukan.</p>
<p>Terkadang anak buah sekedar ingin agar suaranya didengarkan (terutama perempuan) tanpa kemudian menuntut ada penyelesaian dari apa-apa yang mereka sampaikan. Maka jangan selalu terbebani bahwa Anda harus mengakhiri sesi obrolan Anda dengan solusi. Yang wajib Anda lakukan adalah membiarkan dia berbicara hingga rampung, melakukan parafrase sewajarnya, mengorek informasi yang relevan dari apa yang sekiranya belum disampaikannya, dan tidak mempersalahkan apa-apa yang dia rasakan.<br />
Mendengarkan orang lain juga berarti tidak hanya terpaku pada sampaian lesan. Perhatikan juga sikap tubuhnya, perhatikan juga apa kebutuhan yang dia punya yang terungkap dari sumber-sumber yang lain, terutama dari teman satu wilayah kerja.</p>
<h3>4. Ciptakan atmosfer yang aman untuk berbicara lepas</h3>
<p>Supervisor yang sedemikian tampak berkuasa bisa membuat anak buah sungkan atau malah sampai tak berani bersuara. Jika Anda bersungguh-sungguh ingin meminta umpan balik dari anak buah, maka Anda harus membuat mereka merasa aman dulu untuk bersuara dengan jujur. Hal ini Anda lakukan dengan sejak awal mengatakan betapa Anda menghargai kejujuran yang disampaikan dengan cara yang baik (misal untuk bicara keburukan, jangan di depan umum). Setelah ada yang benar-benar bersuara kepada Anda, maka jangan pernah hukum. Jika memang dia menyampaikan dengan cara yang kurang santun, atau bahkan informasi yang dia sampaikan ternyata bohong, maka jangan sampai para anak buah salah mengira bahwa Anda membenci sikap keterbukaannya.</p>
<p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/ulurantangansupervisi.jpg" alt="9 Kiat Menjadi Supervisor Handal" /></p>
<h3>5. Jika memang ada perilaku atau performa buruk, tangani dengan cepat dan tegas</h3>
<p>Perilaku yang buruk (berbohong, menyalahgunakan kewenangan, memanipulasi, korupsi) harus diberantas sejak masih berupa tindakan-tindakan sederhana. Kepedulian Anda dalam menangani &#8220;dosa-dosa&#8221; kecil akan membuat anak buah Anda sungkan dan ragu sekedar untuk merencanakan &#8220;dosa-dosa&#8221; besar. Di sinilah letak ketegasan. Sementara itu, manakala umpan balik atau penyikapan diberikan setelah kesalahan terjadi berlarut-larut, maka bisa jadi banyak hal yang sudah tidak lagi diingat dan tidak terasa urgen lagi perihalnya. Oleh karenanya, lakukan evaluasi dengan segera.</p>
<h3>6. Berlatihlah dalam menemukan kebaikan orang lain</h3>
<p>Semakin Anda terampil dalam menemukan kebaikan dan performa baik anak buah, sekecil apapun itu, dan lalu mengungkapkan kepada mereka &#8211;apalagi di hadapan orang banyak, itu akan membuat reputasi Anda semakin meningkat di hadapan anak buah. Bahkan mereka yang belum tampakkan performa baik pun menjadi hormat dan suka pada Anda.<br />
Yang biasanya terjadi adalah, performa buruk dikecam dan diungkit-ungkit, namun performa baik dianggap sudah biasa karena sudah selayaknya memang begitu. Saya sendiri mengalaminya, memang tidak mudah untuk memuji kebaikan-kebaikan kecil dan tidak selalu menggaris bawah pada kesalahan-kesalahan. Namun itulah kualitas yang diharapkan oleh anak buah.</p>
<h3>7. Jangan Jai&#8217;m secara berlebihan</h3>
<p>Jaga image atau ja&#8217;im memang diperlukan. Berbicara dengan bahasa indonesia formal dan mengenakan pakaian resmi memang bisa mengundang rasa hormat, yang mana itu penting untuk dipunya seorang supervisor. Namun jangan lantas keterusan. Ingatlah bahwa rasa hormat anak buah harusnya bukan sekedar dari busana dan cara bicara (tapi itu tetap penting), melainkan sejak awal sang supervisor perlu miliki pengetahuan, skill, dan mentalitas yang lebih baik atau yang memang bisa diteladani. Maka manakala di luar kantor, jangan terus terbawa kondisi formal, karena toh masih ada hal lain yang bisa datangkan hormat selain dari formalitas. Banyak sekali perihal yang bisa digali dari anak buah manakala mereka sedang tidak terkondisikan secara formal dan tidak sedang merasa ada jarak yang jauh antara mereka dan Anda sang supervisor.</p>
<h3>8. Tunjukkan bahwa Anda peduli pada anak buah sebagai manusia</h3>
<p>Dalam bisnis yang kian kompetitif seperti sekarang ini, bersikap tegas dan selalu bercara pandang &#8220;ini bisnis, jangan main-main&#8221; mudah sekali untuk dilakukan. Yang lebih sulit adalah menyeimbangkannya dengan cara pandang bahwa anak buah bagaimanapun juga manusia; mereka punya kebutuhan untuk dihargai, dimengerti kebutuhan dan emosinya, serta diperhatikan. Penelitian yang dilakukan oleh Gallup menunjukkan bahwa bagaimana sikap dan perasaan sang atasan terhadap anak buah memberi dampak positif yang besar pada bagaimana anak buah akan bersikap dan berperforma pada pekerjaan mereka.</p>
<p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/kerjasupervisor.jpg" alt="9 Kiat Menjadi Supervisor Handal" /></p>
<p>Karyawan yang merasa dirinya diperhatikan akan merasa enggan untuk meninggalkan tanggung jawab, semakin kecil peluangnya mengalami kecelakaan kerja, semakin kecil kemungkinannya mengajukan komplain atau klaim, menjadi enggan untuk berbuat buruk seperti mencuri, lebih susah untuk berhenti, dan tentunya akan lebih berpeluang bicara baik tentang supervisor mereka ke rekanan, teman, dan keluarga.<br />
Bentuk konkrit yang menunjukkan Anda peduli semisal adalah:</p>
<ul>
<li> Mengetahui siapa anak buah Anda di luar pekerjaan; keluarganya, hobinya, anaknya sekarang berapa, dan apa-apa yang tidak relevan dengan urusan pekerjaan.</li>
<li> Menanyakan bagaimana kabar anak buah Anda, misal ketika tampak sakit, bingung, sangat bergembira atau emosi intens lainnya.</li>
<li> Manakala anak buah Anda tak sungkan untuk menanyakan informasi yang tak terkait kerja; misal tentang tempat rekreasi yang cocok untuk keluarga, tempat rental kendaraan yang bagus dan murah, dsb.</li>
<li> Menunjukkan ketertarikan pada karir profesional anak buah Anda</li>
<li> Membantu anak buah Anda memecahkan masalah terkait pekerjaan</li>
</ul>
<h3>9. Teladankan sikap sopan dan menghormati</h3>
<p>Di tengah lingkungan kerja yang sedemikian padat urusan, karyawan bisa tenggelam dalam pekerjaan mereka dengan bertumpuk email, SMS, dan dokumen kerja. Terkadang itu semua bisa membuat seseorang lupa untuk menanggapi dengan cara-cara yang baik hingga akhirnya menimbulkan perasaan tak nyaman di pihak lain. Hal ini semisal saja:</p>
<ul>
<li> Tidak membalas panggilan telepon, email, atau SMS. Ini membuat pihak lain jadi geregetan, utamanya untuk urusan yang mendesak.</li>
<li> Tidak memberitahu bahwa Anda sudah benar-benar membaca pesan email yang telah terkirim atau apakah yang sudah dikirimkan itu memang betul-betul sesuai dengan apa yang diinginkan.</li>
<li> Malas berucap &#8220;Minta tolong&#8221; dan &#8220;Terima kasih&#8221;</li>
<li> Hadir rapat terlambat</li>
</ul>
<p>Dan kiat terakhir ini lah yang secara umum perlu dijadikan pegangan: jadilah teladan, dalam perihal sekecil apapun.</p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://akhmadguntar.com/kiat-menghadapi-rekan-kerja-yang-menjengkelkan.html" rel="bookmark" class="crp_title">Kiat Menghadapi Rekan Kerja yang Menjengkelkan</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/bagaimana-cara-berhenti-kerja-resign-yang-baik.html" rel="bookmark" class="crp_title">Bagaimana Cara Berhenti Kerja (Resign) yang Baik</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/kesalahan-pada-tes-wawancara-kerja.html" rel="bookmark" class="crp_title">Kesalahan yang Perlu Dihindari pada saat Tes Wawancara Kerja</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/kiat-produktivitas-20-sepuluh-alasan-untuk-mematikan-tv.html" rel="bookmark" class="crp_title">Kiat Produktivitas #20: Sepuluh Alasan Untuk Mematikan TV</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/pertanyaan-pembuka-interview-ceritakan-ttg-diri-anda.html" rel="bookmark" class="crp_title">Pertanyaan Pembuka Interview: Ceritakan ttg Diri Anda</a></li></ul></div><img src="http://akhmadguntar.com/?ak_action=api_record_view&id=1314&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akhmadguntar.com/9-kiat-menjadi-supervisor-handal.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Work Less, Live More: Mencapai Semi Pensiun Sejak Dini</title>
		<link>http://akhmadguntar.com/work-less-live-more-mencapai-semi-pensiun-sejak-dini.html</link>
		<comments>http://akhmadguntar.com/work-less-live-more-mencapai-semi-pensiun-sejak-dini.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 05:30:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Guntar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manajemen Karir]]></category>
		<category><![CDATA[karir]]></category>
		<category><![CDATA[karyawan]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen karir]]></category>
		<category><![CDATA[manajer]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan karir]]></category>
		<category><![CDATA[pensiun]]></category>
		<category><![CDATA[sukses karir]]></category>
		<category><![CDATA[supervisor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akhmadguntar.com/?p=1232</guid>
		<description><![CDATA[Work Less, Live more adalah buku panduan &#8220;how-to&#8221; yang ditulis oleh Bob Clyatt terkait bagaimana cara sampai pada kondisi semi-pensiun di kehidupan Anda. Meskipun buku ini memberikan penekanan yang besar pada pengaturan finansial pribadi dan urusan investasi, namun perihal menariknya adalah terkait filosofi bagaimana hidup semi-pensiun. Ini bukan hanya perkara finansial, namun juga bagaimana menjaga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.amazon.com/Work-Less-Live-More-Retire/dp/1413302009"><img class="alignright" src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/4174REZ2RCL_BO2204203200_PIsitb-sti.jpg" alt="Work Less, Live More:  Mencapai Semi Pensiun Sejak Dini" width="240" height="240" />Work Less, Live more</a> adalah buku panduan &#8220;how-to&#8221; yang ditulis oleh Bob Clyatt terkait bagaimana cara sampai pada kondisi semi-pensiun di kehidupan Anda. Meskipun buku ini memberikan penekanan yang besar pada pengaturan finansial pribadi dan urusan investasi, namun perihal menariknya adalah terkait filosofi bagaimana hidup semi-pensiun. Ini bukan hanya perkara finansial, namun juga bagaimana menjaga kesehatan psikologis selama masa transasi dan hidup sepenuh-penuhnya di masa pensiun.</p>
<p>Semi Retire atau semi pensiun adalah kondisi bekerja paruh waktu dengan alasan usia atau kesehatan. Namun kemudian gagasan semi pensiun berkembang untuk orang-orang yang tidak merasa puas dengan pekerjaan mereka dalam hal rutinitas atau apapun yang memicu ketidakbetahan. Semi pensiun dianggap merupakan cara untuk lakukan transisi dari full time kerja dan full time pensiun. Dengan semi pensiun, seseorang akan punya waktu untuk lakukan perpindahan gigi dari atmosfer kerja ke atmosfer pensiun.  Tabiat part time work dari semi pensiun dimaksudkan untuk beri kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan ketertarikannya di luar kerja. Dengan demikian, ketika yang besangkutan sudah betul -betul pensiun, dia telah memiliki  kesiapan emosi yang cukup.<br />
<span id="more-1232"></span></p>
<p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/retire_22.jpg" alt="Work Less, Live More:  Mencapai Semi Pensiun Sejak Dini" width="500" height="332" /><br />
Dalam bukunya, Clyat mengawali dengan menyatakan bahwa untuk mencapai kondisi semi pensiun, sejak awal kondisi atau motif yang mendasari harus dibikin jelas terlebih dahulu. Dan alasan ini harus yg bersifat compeling atau betul-betul membuat kepengen. Implikasinya, bila Anda memang sudah suka dengan pekerjaan yg sekarang ini dijalani, maka ya sudah, buat apa berhenti?  Sudah suka, dapet duit lagi, lha ngapain berhenti.</p>
<p>Jika bermaksud mengambil jalur semi-pensiun, harusnya itu didasari oleh ketidakpuasan dengan kondisi yg dialami sekarang, dan juga keinginan untuk mengimplentasikan rencana terkait pemanfaatan waktu Anda di masa depan.</p>
<p>Di buku ini, Clyatt amat menekankan tentang hidup hemat. Begitu sudah ada gambaran tentang apa-apa yang dimau, maka berikutnya adalah spend less than you earn. Ini artinya berusaha keras untuk mendapat pemasukan lebih besar dan juga berfokus untuk bisa hidup hemat dalam pengeluarannya. Targetnya adalah untuk memaksimalkan nilai rentang antara pemasukan dan pengeluaran.</p>
<p>Salah satunya caranya adalah dengan mengoptimalkan ikhtiar investasi. Sementara itu, banyak orang merasa tertekan secara berlebihan terkait investasi. Clyatt mengatakan sebenarnya mudah saja manakala prinsip-prinsip dasar dituruti: Invest lah di banyak ranah berbeda, hindari biaya secara cerdas, dan jangan melakukan micromanagement terhadapnya.</p>
<p>Berikutnya, gagasan yang disampikan adalah terkait &#8220;Lakukan Apa Saja yang Anda Mau, Yang Penting Lakukan Sesuatu&#8221;. Banyak orang yang begitu rampung melepas anak mereka berumah tangga,  mereka rasakan mere punya lebih banyak waktu &#8216;luang&#8217; ketimbang apa-apa yg mereka rasa bisa lakukan. Padahal pensiun itu bukan lantas berarti menganggur dan miliki waktu luang yang berlimpah. Maka Clyatt mengatakan bahwa kunci untuk kehidupan semi pensiun yang sukses adalah dengan mengisi jam-jam pribadi dengan beragam aktivitas yang mengaktifkan pikiran, emosi dan tubuh.</p>
<p>Dalam semi retirement, aspek Live More adalah penting. Maka perlu dperhatikan perangkap psikologis yang bisa menjeba seseorang dalam kehidupan semi pensiunnya. Semisal saja, Clyatt meyebut rasa bersalah, kebosanan, kepanikan dan khawatir dan ego sebagai emosi yang perlu diwaspadai. Di bukunya ini dia juga memberikan beberapa saran untuk mengatasinya. Kebanyakan berkisar pada penekanan bahwa bila apa yang diinginkan adalah kebebasan untuk memilih apa yang dilakukan dengan hidup Anda, maka ya sudah, lakukan saja apa-apa yang Anda inginkan.  Miliki tubuh dan pikiran yang sehat, bangunlah hubungan yang baik dengan orang lain, terlibatlah dalam aktivitas yang bermakna. Jangan khawatirkan masa lalu; hiduplah di masa sekarang dan lihat apa-apa yang bisa Anda lakukan di masa depan.</p>
<p>Banyak orang yang berpindah dari kehidupan kerja full time di kantor menuju full time pensiun merasa kesulitan beradaptasi. Biasanya karena mereka merasa kehidupan mereka tidak lagi terstruktur sebagaimana biasa. Banyak yang lantas merasa kebosanan dengan rutinitas, ada juga yang sampai mengalami depresi akibat merasa diri tak menuju ke mana mana. Maka semi pensiun menawarkan suatu pengalaman yang mengaktifkan pikiran, fisik dan perasaan, yang tanpa kemudian terbebani keharusan untuk menghasilkan uang.</p>
<p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/Stivers-9-10-07-work-retire.gif" alt="Work Less, Live More:  Mencapai Semi Pensiun Sejak Dini" width="493" height="376" /></p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://akhmadguntar.com/kiat-mencari-kerja-sambilan-part-time.html" rel="bookmark" class="crp_title">Kiat Mencari Kerja Sambilan (Part-Time)</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/tips-negosiasi-gaji-pada-tes-wawancara-kerja.html" rel="bookmark" class="crp_title">Tips Negosiasi Gaji pada Tes Wawancara Kerja</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/7-kiat-mencapai-kondisi-flow-produktivitas-khusyu%e2%80%99.html" rel="bookmark" class="crp_title">7 Kiat Mencapai Kondisi Flow &#8211; Produktivitas Khusyu’</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/manipulasi-jarak-psikologis-jurus-jitu-pecahkan-masalah-sendiri.html" rel="bookmark" class="crp_title">Manipulasi Jarak Psikologis: Jurus Jitu Pecahkan Masalah Sendiri</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/david-allen-getting-things-done-produktivitas-pribadi.html" rel="bookmark" class="crp_title">David Allen &#8211; Getting Things Done; Produktivitas Pribadi Bebas Stres</a></li></ul></div><img src="http://akhmadguntar.com/?ak_action=api_record_view&id=1232&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akhmadguntar.com/work-less-live-more-mencapai-semi-pensiun-sejak-dini.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kiat Mencari Kerja Sambilan (Part-Time)</title>
		<link>http://akhmadguntar.com/kiat-mencari-kerja-sambilan-part-time.html</link>
		<comments>http://akhmadguntar.com/kiat-mencari-kerja-sambilan-part-time.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 05:35:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Guntar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manajemen Karir]]></category>
		<category><![CDATA[karir]]></category>
		<category><![CDATA[kerja sambilan]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen karir]]></category>
		<category><![CDATA[part time]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akhmadguntar.com/?p=1205</guid>
		<description><![CDATA[Jika Anda adalah ibu rumah tangga, mungkin sempat terpikir untuk bisa bekerja kembali tanpa harus mengorbankan urusan anak dan rumah tangga. Jika Anda sudah bekerja, mungkin Anda pernah terpikir untuk bisa mencari penghasilan tambahan di luar waktu kerja utama. Kita akan membahas tentang kerjaan part-time yang terbuka baik untuk remaja, mahasiswa, ibu rumah tangga, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/part-time-jobs_4-22-08.jpg" alt="Kiat Mencari Kerja Sambilan (Part-Time)" width="500" height="375" /><br />
Jika Anda adalah ibu rumah tangga, mungkin sempat terpikir untuk bisa bekerja kembali tanpa harus mengorbankan urusan anak dan rumah tangga. Jika Anda sudah bekerja, mungkin Anda pernah terpikir untuk bisa mencari penghasilan tambahan di luar waktu kerja utama. Kita akan membahas tentang kerjaan part-time yang terbuka baik untuk remaja, mahasiswa, ibu rumah tangga, dan siapapun yang bermaksud mencari  uang tambahan. Pemberi kerja malah ada yang lebih menyukai pekerja part-time karena dengan begitu mereka tidak perlu memberi benefit semacam asuransi kesehatan apalagi tunjangan pensiun.</p>
<p>Menurut saya, berikut ini adalah yang perlu Anda perhatikan dalam mencari kerjaan sambilan atau part time:<br />
<span id="more-1205"></span></p>
<h3>Cermat Dalam Mengambil Peluang</h3>
<p>Banyak perusahaan/pemberi kerja di Indonesia yang membuka lowongan kerja part time namun ternyata beban kerjanya full time. Indikasinya bahkan terkadang bisa langsung tampak sejak di lowongan yang mereka buat:<em> bisa bekerja dalam kondisi tertekan; bersedia bekerja over time</em>. Entah bagaimana dengan Anda, namun bagi saya itu bukanlah peluang yang menarik untuk dijadikan sambilan.</p>
<p>Sebuah pekerjaan tidak bisa disebut part-time hanya karena Anda tidak harus berada di kantor setiap harinya. Itu sama sekali tidak menggambarkan beban kerja dan juga investasi energi dan kompetensi yang dibutuhkan untuk merampungkan kerja yang diminta.</p>
<p>Apalagi jika sampai ada peluang yang sangat besar menggiurkan dengan janji kerja yang sebegitu ringan dan terkesan amat mudah untuk dilakukan. Mencetak uang sementara Anda tidur, XX juta dalam seminggu/sehari, atau apalah pokoknya itu. Jika hasilnya memang betul seperti yang dikatakan, maka pasti itu tidak dia yang bersangkutan capai dengan kerja ala sambilan, setidaknya pada awalnya hingga beberapa bulan/tahun.</p>
<p>Yang namanya sambilan ya itu berarti kerjaan yang bisa disambi dalam mengerjakannya, yakni sembari kita menyeriusi kerjaan utama kita. Target yang kita cari adalah target hasil, dengan alokasi dan durasi yang kita punya kewenangan atasnya.</p>
<h3>Gali Peluang Dari Teman &amp; Rekanan</h3>
<p>Ambil Peluang Dari siapapun yang pernah merasakan untung dan manfaat dari hasil kerja dan kontribusi Anda. Maka tentu menjadi amat penting bagi kita untuk senantiasa membangun reputasi baik terhadap siapapun yang pernah kita berinteraksi dengannya.</p>
<p>Maka tak salah jika Anda tanyakan pada pemberi kerja Anda sebelumnya. Bila Anda telah bubuhkan reputasi dan prestasi bagus di tempat kerja lama Anda, maka besar kemungkinan Anda akan tetap diterima meskipun untuk kerjaan part-time.</p>
<p>Jangan lupa, minimal Anda perlu dapatkan rekomendasi dari rekan kerja lama atau mantan supervisor Anda, sekalian informasi kalau-kalau ada peluang bagus yang cocok buat Anda. Ini penting sekali agar Anda bisa mengetahui adanya peluang yang tak terpublikasikan atau tak direncanakan oleh pihak perusahaan. Misal saja: bisa jadi dari rekanan Anda akan mendapat peluang kerja dari perusahaan yang sebenarnya membutuhkan tenaga kerja namun tidak memiliki cukup anggaran untuk menggaji karyawan, dan lantas tidak terpikir untuk merekruit pekerja sambilan.</p>
<p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/cwln354l.jpg" alt="Kiat Mencari Kerja Sambilan (Part-Time)" /></p>
<h3>Jangan Jauh-Jauh dari Kompetensi dan Hobi Anda</h3>
<p>Ketahui Betul Apa-Apa yang Bisa Anda Tawarkan. Pahami betul kompetensi Anda dan apa-apa yang bisa Anda kontribusikan dalam bentuk skill serta pengetahuan. Jangan ambil seluruh tawaran di depan mata tanpa terlebih dahulu membuat kriteria. Karena setidaknya kerjaan sambilan Anda dipilih dari dua pertimbangan:</p>
<ol>
<li> Bahwa itu sesuai dengan kompetensi inti Anda</li>
<li> Bahwa itu sesuai dengan hobi/kesenangan Anda</li>
</ol>
<p>Kerja part-time jangan malah jadi beban. Kecuali Anda belum benar-benar temukan kompetensi inti Anda, maka jangan ambil pekerjaan yang benar-benar asing bagi Anda, yang membuat Anda harus belajar hampir dari nol untuknya. Jangan sampai kerjaan sambilan membuat Anda menjadi tak produktif pada kerja utama Anda.</p>
<p>Kerja part time idealnya dibangun dari kompetensi inti atau apa-apa yang Anda sudah bagus di sana. Memang akan ada kompetensi baru yang mau tak mau harus dilatih. Tak mengapa, asal itu masih dibangun dari akar kompetensi yg Anda punya. Jadi jika Anda sudah terbiasa programming, maka ambil saja kerja part-time programming dengan produk yang berbeda dari yang Anda kerjakan sebagai kerjaan utama.  Jika kerja utama adalah menulis aplikasi project, maka sambilan Anda bisa berupa menulis kode untuk plugin atau desain interface aplikasi yang bentuk output kerjanya beda namun kompetensi nya sama. Jika Anda pandai menulis, tak mengapa Anda mengambil peluang kerja sebagai penginput data online. Biarpun misal masih gagap dengan teknologi, awalnya masih harus mempelajari sistem semacam <a href="http://www.odesk.com/w/">odesk</a> atau lainnya. Tak mengapa, toh inti kerjanya adalah menulis.</p>
<p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/f-Part-Time-Job-6218.jpg" alt="Kiat Mencari Kerja Sambilan (Part-Time)" width="500" height="400" /></p>
<p>Sehingga dengan demikian, jika memang ada aspek pekerjaan yang benar-benar Anda tak suka atau sangat tak produktif di sana, jangan ragu untuk mendelegasikan. Jangan ragu untuk berkolaborasi dengan pihak lain. Jangan habiskan energi Anda untuk membangun apa-apa yang bukan aspek terkuat Anda. Dan jangan lupa, meskipun ini kerja sambilan, namun adalah penting sekali bagi Anda untuk mempertunjukkan reputasi dan portofolio Anda.</p>
<p>Karena yang penting lagi dari kerjaan sambilan ini adalah bahwa jika Anda bisa membangun kerja murni dari dasar hobi, maka kerja part-time akan jadi hiburan dan refreshing yang menyenangkan buat Anda. Dan siapa tahu itu malah kemudian menjadi cikal bakal bisnis pribadi Anda suatu saat nanti.</p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://akhmadguntar.com/work-less-live-more-mencapai-semi-pensiun-sejak-dini.html" rel="bookmark" class="crp_title">Work Less, Live More: Mencapai Semi Pensiun Sejak Dini</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/pertanyaan-terkait-latar-belakang-pendidikan-pd-tes-wawancara-kerja.html" rel="bookmark" class="crp_title">Pertanyaan terkait Latar Belakang Pendidikan pada Tes Wawancara Kerja</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/panduan-memilih-tawaran-kerja-bagi-fresh-graduate.html" rel="bookmark" class="crp_title">Panduan Memilih Tawaran Kerja bagi Fresh Graduate</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/career-planning-bagi-mereka-yg-sudah-berkarir.html" rel="bookmark" class="crp_title">Career Planning Bagi Mereka yg Sudah Berkarir</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/berpindah-karir-mengapa-tidak.html" rel="bookmark" class="crp_title">Berpindah Karir? Mengapa Tidak?</a></li></ul></div><img src="http://akhmadguntar.com/?ak_action=api_record_view&id=1205&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akhmadguntar.com/kiat-mencari-kerja-sambilan-part-time.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Cara Berhenti Kerja (Resign) yang Baik</title>
		<link>http://akhmadguntar.com/bagaimana-cara-berhenti-kerja-resign-yang-baik.html</link>
		<comments>http://akhmadguntar.com/bagaimana-cara-berhenti-kerja-resign-yang-baik.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2009 22:36:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Guntar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manajemen Karir]]></category>
		<category><![CDATA[karir]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen karir]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[resign]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akhmadguntar.com/?p=1042</guid>
		<description><![CDATA[Jika Anda telah sungguh2 yakin bahwa resign adalah keputusan yang terbaik bagi Anda, maka penting sekali bagi Anda untuk menunjukkan cara-cara yang baik, santun dan patut. Berikut ini adalah apa-apa yang baik untuk Anda lakukan tatkala hendak resign. Berikanlah pemberitahuan sejak dini. Kabar-kabar yang lumrah tu antara dua sampai empat minggu. Tapi mengingat setiap perusahaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/eng_gbrown01_BM_Ver_825892g.jpg" alt="Bagaimana Cara Berhenti Kerja (Resign) yang Baik" width="490" height="327" /><br />
Jika Anda telah sungguh<sup>2</sup> yakin bahwa resign adalah keputusan yang terbaik bagi Anda, maka penting sekali bagi Anda untuk menunjukkan cara-cara yang baik, santun dan patut. Berikut ini adalah apa-apa yang baik untuk Anda lakukan tatkala hendak resign.</p>
<p><strong>Berikanlah pemberitahuan sejak dini. </strong>Kabar-kabar yang lumrah tu antara dua sampai empat minggu. Tapi mengingat setiap perusahaan bisa punya aturan berbeda, maka silahkan cek panduan karyawan yang ada.<br />
<span id="more-1042"></span><br />
Beritahu dulu supervisor Anda. <strong>Ikuti rantai komando yang ada di perusahaan Anda. </strong>Manakala Anda keburu bilang ke rekan kerja dan lalu mereka bicara ke mana-mana, bisa terancam reputasi Anda. Jangan munculkan deJikapun Anda bermaksud resign tapi tidak dalam waktu dekat, berhati-hatilah, jangan sembarangan bicara kepada rekan kerja. Bisa-bisa omongan Anda itu akan sampai ke pihak HRD yang akan langsung “mengadili” Anda.</p>
<p><strong>Tawarkan bantuan pada HRD Anda dalam mencari pengganti </strong>buat Anda. Sungguh, ini akan sangat membantu perusahaan. Kepergian Anda tidak akan dianggap ‘lari tanpa tanggung jawab’ oleh kalangan tertentu (biasanya sih oleh mereka yang tak tahu menahu alasan Anda pergi).</p>
<p><strong>Jangan menghilang </strong>selama minggu-minggu terakhir dari pekerjaan Anda. Tetaplah bekerja bersama tim Anda. Jangan terkesan meninggalkan beban, bahkan sejak Anda belum benar-benar keluar dari kerjaan.</p>
<p>Sebelum pergi, <strong>pastikan Anda telah miliki info contact </strong>dari supervisor kunci dan rekan kerja. Mereka semua bagaimanapun adalah relasi Anda dan berpotensi untuk bisa terus menjalin hubungan profesional yang sinergis di kemudian hari.</p>
<p>Sehingga tentu saja, apapun kondisinya, upayakan semaksimal mungkin Anda <strong>menjalin hubungan yang baik dengan perusahaan dan orang-orang yang ada di sana. </strong>Bersikaplah baik, meskipun Anda buenci banget ama bos Anda. Ingat, bos Anda nantinya bukan lagi bos Anda, melainkan bagian dari jaringan Anda. Dengan demikian, urusan dan tabiat hubungan yang Anda punya dengan bos Anda tidaklah lagi sama. Ketahuilah, orang yang breng*** di tempat kerja ternyata bisa malah-malah buaik dan nyenengin ketika di luaran. Ya memang tidak selalu sih, tapi kemungkinan itu ada. Saya sendiri menemukan bahwa mereka yang cocok dan enak untuk dijadikan teman (ngobrol, hanging out) tidak lantas jadi relasi atau partner kerja yang cocok. Demikian juga sebaliknya; mereka yang tidak Anda sukai sebagai rekan kerja bisa jadi teman hanging out yang enak. Coba aja deh.</p>
<p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/resign-1.jpg" alt="Bagaimana Cara Berhenti Kerja (Resign) yang Baik" /></p>
<p>Ungkapkan rasa terima kasih; kepada siapapun. <strong>Buatlah kesan &#8220;akhir&#8221; yang baik. </strong>Untuk supervisor, rekan kerja dan atasan Anda, akan baik sekali manakala Anda mengungkapkan terima kasih secara lesan dan juga tertulis. Dengan sesuatu yang sifatnya tangible (bukan sekedar omongan untuk diingat), rekan kerja atau atasan Anda bisa sewaktu-waktu meliriknya lagi dan kapanpun teringat tentang diri Anda, maka yang terlintas adalah yang baik-baik.</p>
<p><strong>Jangan berkata jelek tentang bos dan rekan kerja Anda</strong>, meskipun Anda pikir mereka pantas dikata-kata jelek.  Anda tak tahu lho, jangan<sup>2</sup>  suatu saat nanti Anda akan dipertemukan lagi dengan mereka dalam suatu bentuk kerja sama. Ini juga berlaku manakala Anda melakukan wawancara kerja di tempat lain. Berkata-kata buruk tentang orang di perusahaan lama Anda pastinya akan malah memperburuk citra Anda.</p>
<p><strong>Jangan rusak properti perusahaan, ataupun mencurinya.</strong> Meskipun Anda pernah diperlakukan tak pantas oleh atasan atau siapapun, tetap saja, mencuri adalah sebuah kejahatan. Bukan hanya reputasi Anda bisa rusak, harta Anda pun jadi tak barokah (bisa tiba-tiba lenyap oleh sebab apapun).</p>
<p><strong>Jangan berbohong, jangan mengkritik. </strong>Manakala Anda ditanya tentang alasan mengapa Anda pergi, sampaikan yang sebenarnya, jangan berbohong. Cepat atau lambat, supervisor Anda bisa temukan alasan yang sebenarnya. Jika demikian halnya, maka buruklah reputasi Anda nantinya. Tidak perlu sampaikan perihal terlalu detail jika memang itu bersifat sensitif.Bahkan jika Anda punya masukan buat perusahaan, tak perlu sampaikan. Jangan tinggalkan perusahaan dengan kritikan. Meskipun orang<sup>2</sup> berpikir kritik itu berguna, tetap saja kritikan itu membawa sensasi kurang menyenangkan. Sampaikan kritik manakala Anda telah benar<sup>2</sup> keluar dari perusahaan, sebisa mungkin dalam suasana yang non formal.</p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://akhmadguntar.com/yang-perlu-dipertimbangkan-sebelum-keluar-kerja-resign.html" rel="bookmark" class="crp_title">Yang Perlu Anda Pertimbangkan Sebelum Keluar Kerja (Resign)</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/7-alasan-kapan-anda-perlu-berhenti-kerja.html" rel="bookmark" class="crp_title">7 Alasan Kapan Anda Perlu Berhenti Kerja</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/jangan-keburu-ambil-keputusan-resign-jika-masalah-belum-disolusikan.html" rel="bookmark" class="crp_title">Jangan Keburu Ambil Keputusan Resign Jika Masalah Belum Disolusikan</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/kiat-menghadapi-rekan-kerja-yang-menjengkelkan.html" rel="bookmark" class="crp_title">Kiat Menghadapi Rekan Kerja yang Menjengkelkan</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/apa-yang-membuat-mereka-naik-gaji.html" rel="bookmark" class="crp_title">Serial Kiat Naik Gaji: Apa Yang Membuat Mereka Pada Bisa Naik Gaji?</a></li></ul></div><img src="http://akhmadguntar.com/?ak_action=api_record_view&id=1042&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akhmadguntar.com/bagaimana-cara-berhenti-kerja-resign-yang-baik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Perlu Anda Pertimbangkan Sebelum Keluar Kerja (Resign)</title>
		<link>http://akhmadguntar.com/yang-perlu-dipertimbangkan-sebelum-keluar-kerja-resign.html</link>
		<comments>http://akhmadguntar.com/yang-perlu-dipertimbangkan-sebelum-keluar-kerja-resign.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 22:47:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Guntar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manajemen Karir]]></category>
		<category><![CDATA[karir]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen karir]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[resign]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akhmadguntar.com/?p=1037</guid>
		<description><![CDATA[Anda mungkin tergoda untuk berhenti dari kerja karena masalah-masalah yang ada di kantor. Resign adalah keputusan besar. Senada dengan posting kemarin, senyampang masalah yang Anda hadapi masih bisa disolusikan, maka ambil dulu penyikapan. Kebanyakan perihal yang susah untuk disolusikan adalah apa-apa yang asalnya dari luar. Sehingga secara umum, pastikan dulu bahwa masalahnya adalah di kerjaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/j04385851-main_Full.jpg" alt="Yang Perlu Anda Pertimbangkan Sebelum Keluar Kerja (Resign)" width="494" height="329" /><br />
Anda mungkin tergoda untuk berhenti dari kerja karena masalah-masalah yang ada di kantor. <em>Resign </em>adalah keputusan besar. Senada dengan posting kemarin, senyampang masalah yang Anda hadapi masih bisa disolusikan, maka ambil dulu penyikapan. Kebanyakan perihal yang susah untuk disolusikan adalah apa-apa yang asalnya dari luar. Sehingga secara umum, pastikan dulu bahwa masalahnya adalah di kerjaan dan faktor yang berada di luar kendali Anda, bukan dari diri Anda sendiri. Jangan-jangan biangnya ada di Anda dan lantas Anda menyalahkan semuanya pada kerjaan sampai-sampai Anda lalai mengevaluasi diri. Maka lakukanlah evaluasi diri yang sejujur-jujurnya.<br />
<span id="more-1037"></span><br />
Sementara untuk masalah yang datang dari luar, sedapat mungkin solusikan dulu sekuat tenaga. Jangan keburu menyerah; karena tidak menjamin di tempat lain Anda tak akan temui permasalahan serupa.</p>
<h3><strong>Tatkala Pekerjaan Anda mengganggu kehidupan berkeluarga Anda. </strong></h3>
<p>Terutama bila Anda punya tugas rangkap sebagai seorang ibu rumah tangga yang mulia. Anda harus menyiapkan sarapan dan makan siang untuk seluruh anggota keluarga? Bagaimana bila Anda meminta jadwal kerja yang lebih fleksibel, semisal saja waktu masuk yang lebih siang agar Anda bisa melakukan kerjaan rumah sebelum berangkat ke kantor. Hal ini sudah diterapkan di Indosat (Surabaya) di mana karyawan bisa memilih tiga opsi jam masuk (tentu dengan konsekuensi jam pulang).</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/ksmn1614l.jpg" alt="Yang Perlu Anda Pertimbangkan Sebelum Keluar Kerja (Resign)" width="294" height="400" /></p>
<h3><strong>Tatkala Anda dapat review performa yang buruk. </strong></h3>
<p>Okai, Anda tidak mendapatkan nilai sempurna, atau malah di bawah rata-rata. Dengan anggapan bahwa sistem reviewnya itu fair, tidakkah itu malah membantu Anda dalam menindaklanjuti mana2 yang jadi titik lemah Anda. Bayangkan saja bila tidak ada review sama sekali tapi tiba-tiba datang pemberitahuan bahwa dengan menyesal Anda harus diberhentikan atau diturunjabatan. Tapi kemudian, tahukah Anda bahwa tidak semua sistem reviewnya itu valid. Istri saya yang bekerja di salah satu perusahaan multinasional merasakan sendiri betapa perihal politis dan group interest amat mempengaruhi proses review performa. Meskipun performa kerjanya sudah di atas rata-rata (dari penilaian supervisor dan atasan langsung), Istri saya kebagian review yang buruk dari HRD yang ada di Jakarta sana karena jatah review yang bagus sudah jadi gilirannya yang lain. Jika Anda adalah karyawan yang handal, maka tatkala Anda mengancam untuk keluar (tidak disarankan), maka pasti perusahaan secara tiba2 akan memberi Anda review yang baik untuk menahan Anda agar tetap tinggal.</p>
<h3><strong>Tatkala Anda tidak akur dengan rekan kerja. </strong></h3>
<p>Baik dengan teman kerja yang sepangkat, dengan supervisor atau atasan, Anda bermasalah. Ini memang bisa jadi permasalahan yang mengganggu, apalagi bila kaitannya denga atasan Anda.</p>
<blockquote><p>Ketika orang-orang keluar dari perusahaan, seringkali bukan karena perusahannya itu sendiri, melainkan karena pimpinan mereka. &#8211; Ken Blanchard</p></blockquote>
<p>Hal ini juga pernah terjadi pada istri saya, dia punya rekan kerja yang benar2 menjengkelkan minta ampun. Saya sendiri dulu menunjukkan secara eksplisit ketidaksukaan saya pada atasan tertinggi yang punya masalah moralitas sampai-sampai saya terancam untuk dipecat dengan alasan seremeh apapun.<br />
Memang, pegawai yang berbakat bisa jadi bergabung pada perusahaan karena pimpinannya yang kharismatik, gaji yang besar, program pengembangan diri yang luar biasa atau yang lain. Tapi yang membuat dia bisa bertahan lama dan yang menentukan produktivitasnya adalah hubungan dia dengan pimpinan terdekatnya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/mban1669l.jpg" alt="Yang Perlu Anda Pertimbangkan Sebelum Keluar Kerja (Resign)" width="364" height="400" /></p>
<p>Jangan keburu keluar tanpa coba mensolusikan. Jika Anda buru-buru keluar, Anda akan jadi pihak yang kalah sejak awal. Yang jelas, sejak awal pastikan dulu bahwa bukan Anda biang masalahnya. Sedapat mungkin Anda harus usahakan Anda keluar dalam kondisi yang tidak bermusuhan dengan orang-orang yang ada di tempat kerja Anda. Ingat bahwa teman kerja, supervisor dan atasan Anda punya keluarga dan relasi yang bisa bicara apa saja tentang Anda. Dan Anda tentunya ingin mereka bicara baik to tentang Anda.</p>
<h3>Tatkala Perusahaan Anda menetapkan sebuah kebijakan yang sama sekali Anda pikir tidak bijak.</h3>
<p>Perubahan memang tidak mudah. Anda perlu mengerti betul kondisi Anda; ketidaksukaan Anda itu karena diri Anda yang memang enggan untuk berubah atau karena Ada betul-betul meyakini bahwa kebijakan itu berdampak buruk bagi perusahaan. Jika memang kasusnya adalah yang kedua, maka silahkan bicarakan dengan atasan, bawa fakta dan pertimbangan rasional.</p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://akhmadguntar.com/bagaimana-cara-berhenti-kerja-resign-yang-baik.html" rel="bookmark" class="crp_title">Bagaimana Cara Berhenti Kerja (Resign) yang Baik</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/jangan-keburu-ambil-keputusan-resign-jika-masalah-belum-disolusikan.html" rel="bookmark" class="crp_title">Jangan Keburu Ambil Keputusan Resign Jika Masalah Belum Disolusikan</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/7-alasan-kapan-anda-perlu-berhenti-kerja.html" rel="bookmark" class="crp_title">7 Alasan Kapan Anda Perlu Berhenti Kerja</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/menghadapi-turnover-bagaimana-mempertahankan-karyawan-handal.html" rel="bookmark" class="crp_title">Menghadapi Turnover: Bagaimana Mempertahankan Karyawan Handal</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/ketika-para-jagoan-hengkang-dari-perusahaan.html" rel="bookmark" class="crp_title">Ketika Para Jagoan Hengkang dari Perusahaan</a></li></ul></div><img src="http://akhmadguntar.com/?ak_action=api_record_view&id=1037&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akhmadguntar.com/yang-perlu-dipertimbangkan-sebelum-keluar-kerja-resign.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Keburu Ambil Keputusan Resign Jika Masalah Belum Disolusikan</title>
		<link>http://akhmadguntar.com/jangan-keburu-ambil-keputusan-resign-jika-masalah-belum-disolusikan.html</link>
		<comments>http://akhmadguntar.com/jangan-keburu-ambil-keputusan-resign-jika-masalah-belum-disolusikan.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Aug 2009 22:21:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Guntar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manajemen Karir]]></category>
		<category><![CDATA[karir]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen karir]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[resign]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akhmadguntar.com/?p=1035</guid>
		<description><![CDATA[Seperti yang saya tulis pada post kemarin, ada alasan2 yang membuat seorang karyawan dalam kondisi pantas untuk mengundurkan diri atau resign. Namun penting kita perhatikan bahwa keputusan untuk resign tidaklah boleh didasarkan atas suatu kasus yg mana kita belum disolusikan dg baik. Berikut adalah email konsultasi yg ditujukan kepada saya oleh salah seorang pembaca blog [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/overload_pic_uaue.jpg" alt="Jangan Keburu Ambil Keputusan Resign Jika Masalah Belum Disolusikan" width="496" height="328" /><br />
Seperti yang saya tulis pada post kemarin, ada alasan<sup>2</sup> yang membuat seorang karyawan dalam kondisi pantas untuk mengundurkan diri atau resign. Namun penting kita perhatikan bahwa keputusan untuk resign tidaklah boleh didasarkan atas suatu kasus yg mana kita belum disolusikan dg baik. Berikut adalah email konsultasi yg ditujukan kepada saya oleh salah seorang pembaca blog akhmadGuntar.com. Sebagian isi email saya potong untuk lebih meringkas isi. Jika Anda tidak ada waktu untuk membaca pertanyaan, inti dari kasus yg disampaikan adalah:</p>
<blockquote><p>Dalam kasus overload kerja, apakah bijak untuk mengambil keputusan resign?</p></blockquote>
<p><span id="more-1035"></span><br />
<span style="text-decoration: underline;"><strong>PERTANYAAN:</strong></span></p>
<p>Saya pernah bekerja di perusahaan XXXXX selama 7 tahun sebagai staf adminitrasi produksi dan pembelian menggunakan ijazah SMEA. Saya ditrima bekerja sebagai staf keuangan dan akuntansi di radio. Tapi cuma bertahan 3 bulan (cuman masa training aja).</p>
<p>Saya diterima kerja di perusahaan trading ekspor kerajinan. Gaji yg diterima disini memang lebih tinggi dibanding di tempat kerja yang lama, tapi saya merasa tidak enjoy dengan pekerjaan saya. Saya baru bekerja selama 6 bulan. Saya merasa stress dengan pekerjaan yang saya hadapi. Volume pekerjaan begitu menumpuk, semua diminta cepat oleh kantor pusat dan tanggung jawab yang berat. Saya bekerja di perusahaan cabang sebagai staf administrasi keuangan dan umum (itu yang tertulis dalam job disk saya..he3). Tapi dalam prakteknya, srabutan, sampai2 pekerjaan saya sendiri malah terbengkalai. Yang saya kerjakan : Buat daftar penerimaan barang, ..dst dst. Bener-bener ga bisa fokus.</p>
<p>Sebenarnya, saya akan mengutamakan pekerjaan utama saya dulu, baru bantu bagian lain. Tapi tetap tidk bisa. Lah gimana, barang tersebut keburu dikirim, jadi semua staf membantu proses QC, packing dll. Di tempat kerja ini, saya sudah bener-bener tidak semangat. Bawaannya pngin resihgn melulu. Saya merasa reward yang diberikan sudah tidak sesuai dengan tanggung jawab yang berat&#8230;he3<br />
<img class="alignright" style="margin-left: 4px; margin-right: 4px;" src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/library_left.jpg" alt="Jangan Keburu Ambil Keputusan Resign Jika Masalah Belum Disolusikan" width="160" height="376" /></p>
<ol>
<li>Bijaksana tidak melakukan resign pada saat belum mendapat pekerjaan baru? Mengingat susahnya mencari pekerjaan. Terus terang saya msih takut menyandang gelar pengangguran. Saya dulu pernah nganggur 1 bulan, rasanya sudah bosan banget.</li>
<li> Apakah saya harus bertahan di perusahaan trading ekpor tersebut? Dalam artian, baru resign setelah ada kepastian ditrima di tempat yang baru.</li>
<li> Jika saya terus bertahan di perusahaan tersebut, terus terang saya merasa kesulitan mengatur waktu untuk mengikuti tes panggilan di perusahaan2 yang saya lamar. Jadi sering bolos, jadi tidak enak sendiri&#8230;he3</li>
<li> Akhir bulan Agustus 2009, manajer saya akan cuti 3 bulan karena malahirkan. Segala tugasnya dilimpahkan saya. Termasuk ..dst. Apabila saya diterima bekerja di perusahaan lain, maka saya akan mengajukan resign. Apabila saya resign pada saat manajer saya masih cuti, maka kantor benar-benar kacau dan tidak jalan. Karena staf yang dikantor saya hanya tinggal 2 orang disainer dan 1 staf lapangan. Mereka benar-benar tidak bisa menggantikan tugas saya dan manajer saya. Apabila saya tetap resign, etis tidak Pak?  Resign dari kantor pada saat kantor membutuhkan saya. Terus terang saya benar-benar tidak enak dengan Bapak Direktur.</li>
</ol>
<p>Apa yang harus saya perbuat? Atas saran dan petunjuk dari Bapak, saya sampaikan terima kasih.</p>
<p>Wassalam</p>
<p>Ed-Dw</p>
<p>&#8230;</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">TANGGAPAN SAYA</span><br />
</strong></p>
<p>Mbak Ed-Gw yang smoga dirahmati Allah,</p>
<p>Terkait kasus mbak Ed-Gw, mari kita lihat kondisinya dalam persepsi yg <em>empowering</em></p>
<p>bahwa mbak Ed-Gw punya jobdesc yang kemana2, itu sebenarnya menguntungkan lho:</p>
<p>Pertama: Membuat mbak Ed-Gw punya potensi besar menjadi karyawan yang punya kontribusi signifikan, sedemikian rupa sehingga susah sekali untuk dapet pengganti yg sepadan. Hal ini tentu akan memberi mbak Ed-Gw semacam bargaining power yg kuat. Bargaining power ini pada gilirannya akan membuat mbak Ed-Gw jadi lebih mudah untuk meminta sesuatu kepada atasan.</p>
<p>Kedua: Membuat kompetensi, wawasan dan pengalaman mbak Ed-Gw menjadi berkembang, ini pada gilirannya akan membuat mbak Ed-Gw akan jadi lebih mudah untuk mendapatkan peluang kerja di tempat lain. Mereka yg mudah dapet kerjaan adalah mereka yg bersedia berkontribusi di luar batasan jobdesc resmi mereka. Memang, batas &#8216;kelewatan&#8217; itu ada. Tapi secara umum, apa yg membuat seorang karyawan bernilai adalah komitmen kontribusinya kepada perusahaan.</p>
<p>Dari kasus yg mbak Ed-Gw alami, saya amat menyarankan agar mbak Ed-Gw ndak keburu ambil keputusan utk berhenti. Apa yg sepertinya belum mbak Ed-Gw lakukan adalah ngobrol dg supervisor atau atasan, dan ini sangat penting utk dilakukan. Kasus overload yg mbak Ed-Gw alami amat bisa jadi juga akan dialami di tempat kerja lain, dan terus akan jadi kondisi yg berulang sampai kemudian mbak Ed-Gw belajar dari pengalaman ini.</p>
<p>Coba deh ngobrol dg atasan. Dalam banyak kasus, karyawan perempuan tu gimana2 lebih punya peluang besar untuk curhat secara efektif ke bos ketimbang karyawan laki-laki.</p>
<p>Apa yg diobrolin?</p>
<ol>
<li> Jika kiranya bisa bertahan dg workload semacam itu,maka mbak Ed-Gw bisa minta naik gaji atau benefit apapun.</li>
<li> JIka kiranya enggan bertahan dg workload dan tak keberatan dg gaji yg diterima skr, maka mbak Ed-Gw bisa minta ke atasan tambahan karyawan administrasi baru dg mbak Ed-Gw bertindak sbg supervisor atau pengarahnya. Hal ini membawa dua keuntungan: pertama, beban mbka Ed-Gw teringankan, stres berkurang. dua, mbak Ed-Gw jadi belajar kompetensi baru.</li>
</ol>
<p>Jika ingin resign sebelum dapat kerjaan, saya pikir itu bukanlah pilihan yg baik. Jikapun risikonya adl jadi sering bolos, ya itu memang konsekuensinya. Maka skr tinggal gimana membuat agar tidak perlu sering bolos, yakni dg membangun kompetensi yg kukuh. Dan ini tentunya dilakukan dg mengoptimalkan ikhtiar dr kerjaan yg skr.</p>
<p>Saya pikir tidaklah menguntungkan manakala mbak Ed-Gw ikut tes wawancara, &#8220;Kenapa kok ingin pindah kerja?&#8221; JIka jawabannya adalah &#8220;Karena work overload&#8221; maka akan ada anggapan &#8220;Orang ini kayaknya susah diajak kerja keras deh&#8221; atau &#8220;Masalah gitu lak yo umum,sih. (dan memang iya) Masak dia nggak bisa mengkomunikasikan dg atasanya.&#8221;</p>
<p>Ada banyak hal yg perlu dipikirkan untuk berhenti kerja. Kelebihan beban kerja adalah salah satu sebabnya, tapi kasus ini bisa kok diatasi dg pengkomunikasian yg baik ke atasan.</p>
<p>Silahkan dikomunikasikan dulu ya dg atasannya <img src='http://akhmadguntar.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://akhmadguntar.com/yang-perlu-dipertimbangkan-sebelum-keluar-kerja-resign.html" rel="bookmark" class="crp_title">Yang Perlu Anda Pertimbangkan Sebelum Keluar Kerja (Resign)</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/bagaimana-cara-berhenti-kerja-resign-yang-baik.html" rel="bookmark" class="crp_title">Bagaimana Cara Berhenti Kerja (Resign) yang Baik</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/7-alasan-kapan-anda-perlu-berhenti-kerja.html" rel="bookmark" class="crp_title">7 Alasan Kapan Anda Perlu Berhenti Kerja</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/pertanyaan-tentang-kemampuan-manajerial-pada-tes-wawancara-kerja.html" rel="bookmark" class="crp_title">Pertanyaan tentang Kemampuan Manajerial Pada Tes Wawancara Kerja</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/4-tabiat-dunia-kerja-yg-anda-harus-tahu.html" rel="bookmark" class="crp_title">4 Tabiat Dunia Kerja yg Anda Harus Tahu</a></li></ul></div><img src="http://akhmadguntar.com/?ak_action=api_record_view&id=1035&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akhmadguntar.com/jangan-keburu-ambil-keputusan-resign-jika-masalah-belum-disolusikan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>7 Alasan Kapan Anda Perlu Berhenti Kerja</title>
		<link>http://akhmadguntar.com/7-alasan-kapan-anda-perlu-berhenti-kerja.html</link>
		<comments>http://akhmadguntar.com/7-alasan-kapan-anda-perlu-berhenti-kerja.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Aug 2009 22:30:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Guntar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manajemen Karir]]></category>
		<category><![CDATA[karir]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen karir]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[resign]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akhmadguntar.com/?p=1033</guid>
		<description><![CDATA[Meskipun banyak yang menganggap cari kerja itu tidaklah mudah-mudah amat, tapi begitu sudah dapet kerjaan, tidak berarti kita bisa betah di sana. Jika memang ada alasan yang kuat, ya memang tak ada salahnya kita berhenti kerja dan beralih ke pekerjaan yang lain. Berikut ini adalah beberapa alasan yang membuat seseorang jadi kepikir untuk berhenti kerja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/resign.jpg" alt="7 Alasan Kapan Anda Perlu Berhenti Kerja" width="432" height="248" /><br />
Meskipun banyak yang menganggap cari kerja itu tidaklah mudah-mudah amat, tapi begitu sudah dapet kerjaan, tidak berarti kita bisa betah di sana. Jika memang ada alasan yang kuat, ya memang tak ada salahnya kita berhenti kerja dan beralih ke pekerjaan yang lain. Berikut ini adalah beberapa alasan yang membuat seseorang jadi kepikir untuk berhenti kerja atau resign. Apakah Anda mengalaminya?</p>
<p><strong>1.</strong><strong> Perusahaan Anda sedang mengalami tanda-tanda kehancuran yang disebabkan karena budaya buruk</strong>: para klien dan konsumen pada menghilang, uang juga pada menghilang, ada rumor kemelut dan kebangkrutan. Selama masalahnya tidak terkait oleh budaya dan mentalitas orang2 yang ada di sana, maka Anda boleh saja tetap bertahan. Loyalitas Anda pasti akan kemudian dibayar mahal.<br />
<span id="more-1033"></span><br />
<strong>2. Hubungan Anda dengan manajer dan atasan sedemikian rusaknya hingga tak bisa diperbaiki</strong>. Yang penting, pastikan ini bukan karena kesalahan Anda; bukan karena Anda orangnya ternyata tak bisa dipercaya, sering bolos, atau berperangai jelek terhadap atasan karena sebab-sebab tak rasional dan sentimentil).</p>
<p><strong>3.</strong> <strong>Kondisi hidup Anda sudah berubah</strong>. Mungkin karena Anda baru saja menikah atau punya momongan, sementara gaji dan benefit yang Anda dapatkan tidaklah mencukupi. Anda perlu dapatkan peluang yang lebih baik untuk mensupport kebutuhan keluarga.</p>
<p><strong>4. Anda punya</strong> <strong>nilai dan budaya yang berbeda dengan perusahaan</strong>. Mungkin saja perusahaan Anda punya budaya yang egaliter, sementara Anda menginginkan ada fasilitas khusus seperti tempat parkir spesial atau ruangan khusus untuk mereka yang berprestasi atau punya pangkat. Atau mungkin perusahaan Anda sebegitu tegas garis hierarki dan senioritasnya, sementara Anda inginkan kondisi yang lebih fleksibel. Atau mungkin Anda punya nilai kejujuran dan integritas yang itu tidak tampak sama sekali di perusahaan. Ketidaksingkronan nilai diri Ada dan perusahaan tidak hanya membuat Anda sengsara, tapi juga rugi buat perusahaan.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/dbrn731l.jpg" alt="7 Alasan Kapan Anda Perlu Berhenti Kerja" width="400" height="300" /></p>
<p><strong>5. Ketika</strong> <strong>etika perusahaan Anda telah rusak</strong>. Mungkin saja perusahaan atau manajer Anda mulai berbohong tentang kualitas produk atau tentang kapan produk dikirimkan. Anda mulai menyadari bahwa perusahaan Anda mencuri informasi dari para pesaing. Apapun deh, sebaiknya jangan bertahan di perusahaan yang etiknya sudah rusak.</p>
<p><strong>6. </strong><strong>Tingkat stres kerja Anda sedemikian tingginya</strong> sampai-sampai kesehatan fisik, pikiran dan spiritual Anda terganggu. Tambah lagi bila ternyata hubungan Anda dengan keluarga jadi turut terganggu. Waspadailah tanda-tanda  kepayahan total. Jika itu tak bisa diatasi, berarti sudah saatnya Anda berganti pekerjaan.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/mba0080l.jpg" alt="7 Alasan Kapan Anda Perlu Berhenti Kerja" width="363" height="400" /></p>
<p><strong>7.</strong> <strong>Anda sudah bertumbuh sedemikian rupa dan butuh tantangan baru</strong>. Saat pertama kali masuk, And amasih jadi seorang amatir. Seiring dengan pembelajaran yang dialami, Anda selalu mencari tantangan dan peluang pengembangan diri. Tentu saja, untuk itu Anda berharap adanya reward. Memang sih, promosi kecil itu ada, kenaikan gaji juga ada, tapi kecil banget, dan Anda benar-benar tak melihat ada tangga karir yang bisa didaki. Sehingga Anda mulai rasakan ketidakpuasan; ibarat sedang mengarungi sebuah jalan yang buntu. Jika demikian halnya, jangan-jangan ini merupakan pertanda bagi Anda untuk berpindah kerja.</p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://akhmadguntar.com/bagaimana-cara-berhenti-kerja-resign-yang-baik.html" rel="bookmark" class="crp_title">Bagaimana Cara Berhenti Kerja (Resign) yang Baik</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/yang-perlu-dipertimbangkan-sebelum-keluar-kerja-resign.html" rel="bookmark" class="crp_title">Yang Perlu Anda Pertimbangkan Sebelum Keluar Kerja (Resign)</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/jangan-keburu-ambil-keputusan-resign-jika-masalah-belum-disolusikan.html" rel="bookmark" class="crp_title">Jangan Keburu Ambil Keputusan Resign Jika Masalah Belum Disolusikan</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/minta-naik-gaji-kok-susah.html" rel="bookmark" class="crp_title">Serial Kiat Naik Gaji: Minta Kenaikan Gaji Aja Lho Kok Susah Banget</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/tips-negosiasi-gaji-pada-tes-wawancara-kerja.html" rel="bookmark" class="crp_title">Tips Negosiasi Gaji pada Tes Wawancara Kerja</a></li></ul></div><img src="http://akhmadguntar.com/?ak_action=api_record_view&id=1033&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akhmadguntar.com/7-alasan-kapan-anda-perlu-berhenti-kerja.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesalahan yang Perlu Dihindari pada saat Tes Wawancara Kerja</title>
		<link>http://akhmadguntar.com/kesalahan-pada-tes-wawancara-kerja.html</link>
		<comments>http://akhmadguntar.com/kesalahan-pada-tes-wawancara-kerja.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2009 21:00:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Guntar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manajemen Karir]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa tubuh]]></category>
		<category><![CDATA[karir]]></category>
		<category><![CDATA[karyawan]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen karir]]></category>
		<category><![CDATA[manajer]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[wawancara kerja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akhmadguntar.com/?p=929</guid>
		<description><![CDATA[Dalam tulisan saya terdahulu, telah saya sampaikan tujuh kesalahan yang sering terjadi pada tes wawancara. Maka berikut ini adalah tambahannya: 8. Menjawab pertanyaan dengan sekedar &#8220;ya&#8221; atau &#8220;tidak&#8221; Sang pewawancara kan ingin mengenal Anda dengan baik, dan itu tak mungkin terjadi manakala Anda miskin omongan dan enggan berinisiatif menjabarkan jawaban Anda. Pastikan Anda melengkapi jawaban [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/shutterstock_2558069_crop380w.jpg" alt="Kesalahan yang Perlu Dihindari pada saat Tes Wawancara Kerja" width="450" height="295" /></p>
<p>Dalam tulisan saya terdahulu, telah saya sampaikan <a href="http://akhmadguntar.com/manajemen-karir/7-kesalahan-yang-harus-dihindari-di-tes-wawancara-kerja/">tujuh kesalahan yang sering terjadi pada tes wawancara</a>. Maka berikut ini adalah tambahannya:</p>
<h3>8. Menjawab pertanyaan dengan sekedar &#8220;ya&#8221; atau &#8220;tidak&#8221;</h3>
<p>Sang pewawancara kan ingin mengenal Anda dengan baik, dan itu tak mungkin terjadi manakala Anda miskin omongan dan enggan berinisiatif menjabarkan jawaban Anda. Pastikan Anda melengkapi jawaban Anda dengan cerita dan contoh konkrit.</p>
<p><span id="more-929"></span></p>
<h3>9. Menghindari kontak mata.</h3>
<p>Bila Anda menghindari kontak mata, Anda tak akan bisa membangun hubungan personal dengan pewawancara Anda. Kontak mata bisa membuat Anda tampak hormat dan perhatian. Tapi seperti yang telah saya sampaikan di tulisan sebelumnya, kontak mata memang tidak perlu dilakukan secara berlebihan.</p>
<h3>10. Berbicara terlalu cepat</h3>
<p>Ini khususnya bagi Anda para orang visual. Anda memang punya banyak informasi penting yang perlu disampaikan, tapi bukan lantas Anda harus berbicara sedemikian cepatnya sampai-sampai si pewawancara tak paham dengan omongan Anda. Setiap kali pertanyaan sedang diajukan, selalu sempatkan diri untuk menarik napas dalam-dalam, tahan sebentar, lalu lepaskan. Di sini Anda menggunakan pernafasan perut, bukan dada. Latihlah omongan Anda bersama teman untuk mengetahui kecepatan yang ideal untuk berbicara.</p>
<p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/tapping.jpg" alt="Kesalahan yang Perlu Dihindari pada saat Tes Wawancara Kerja" width="494" height="396" /></p>
<h3>11. Tampak gelisah dan memperturutkannya</h3>
<p>Orang yang gelisah biasanya menampakkan sikap tubuh yang buruk, misal saja memainkan gelang atau arloji di tangan, berkali-kali menggeser posisi pantat di tempat duduk, atau menggerak-gerakkan kaki seperti sedang bekerja dengan mesin jahit manual. Semua itu bisa membuat Anda tidak tampak profesional. Dan bila Anda tak kelihatan profesional, Anda tidak akan diterima.</p>
<h3>12. Tidak menggali informasi terkait perusahaan</h3>
<p>Manakala terhadap pertanyaan &#8220;Apa yang Anda ketahui tentang perusahaan ini?&#8221; seseorang menjawab dengan &#8220;Mmm&#8230;.tidak banyak.&#8221; maka besar kemungkinan dia tak akan diterima. Tampaknya seseorang ini tidak cukup tertarik pada perusahaan ybs sampai<sup>2</sup> dia malas melakukan riset terhadapnya, mencari berita<sup>2</sup> di media terkait dengannya. Sama juga, jangan sampai kemudian ketika di akhir si pewancara menanyakan apakah ada yang hendak ditanyakan, lalu ditanggapi dengan &#8220;Anu, kalau boleh tahu, perusahaan ini sebenarnya bergerak di bidang apa, ya?&#8221;</p>
<p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/mba0591l.jpg" alt="" /></p>
<h3>12. Berbohong</h3>
<p>Jangan berbohong atau menambah-nambahi bumbu atas pengalaman kerja atau sejarah akademik Anda. Sang pewawancara akan memeriksa itu semua. Bila ketahuan telah berbohong, Anda tak akan diterima. Bila sudah kadung diterima dan lalu ketahuan bahwa Anda berbohong, Anda akan dipecat.</p>
<h3>13. Tidak menjawab pertanyaan</h3>
<p>Ada kalanya seseorang tak bisa menjawab pertanyaan si pewawancara, lalu menyampaikan apa-apa yang tak ada hubungannya dengan pertanyaan. Jangan coba mengelak dari pertanyaan, si pewawancara pasti mengetahuinya. Yang parah adalah manakala seseorang gagal memahami maksud dari pertanyaan dan meracau tak karuan.</p>
<h3>14. Bicara terlalu banyak</h3>
<p>Sang pewawancara bukanlah sobat Anda, dan juga bukan therapist yang bermaksud untuk menyembuhkan penyakit Anda. Apa yang dia ingin tahu adalah kualitas dan kompetensi yang membuat Anda layak diterima. Dia tak ingin tahu tentang masalah dan urusan<sup>2</sup> pribadi Anda.</p>
<h3>15. Gagal &#8220;menjual diri&#8221; dalam menjawab pertanyaan</h3>
<p>Anda harus menjawab pertanyaan dalam bentuk-bentuk yang itu bisa mengungkap kualitas diri Anda yang itu relevan dengan kebutuhan perusahaan. Bila misal Anda ditanya bagaimana penilaian sobat baik Anda terhadap diri Anda, maka alih-alih menjawab &#8220;Mereka pikir saya ini orangnya asyik dan gaul&#8221;, maka katakan &#8220;Mereka pikir saya ini punya prinsip, loyal dan bisa diandalkan. Para sobat saya selalu bisa percaya pada diri saya.&#8221;</p>
<h3>16. Lalai mengucapkan terima kasih di akhir sesi wawancara</h3>
<p>Di dunia bisnis, sikap ramah itu berbalas dan dikenang. Sang pewawancara akan menghargai manakala Anda bersikap ramah dan hormat.</p>
<h3>17. Melupakan nama si pewawancara</h3>
<p>Baik lupa pada nama-nama sang pewawancara atau menyebutnya dengan salah berkali-kali bisa membuat kesan sang pewawancara pada Anda jadi kurang baik.</p>
<h3>18. Berbahasa secara tidak benar</h3>
<p>Entah menggunakan bahasa gaul atau menggunakan bahasa indonesia secara salah akan membuat Anda terkesan tak profesional. Tak perlu juga mencampuradukkan bahasa indonesia dengan bahasa inggris untuk kata dan makna yang jelas-jelas telah terwakilkan dengan baik dalam bahasa indonesia, apalagi kalau sampai Anda melafalkannya dengan salah.</p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://akhmadguntar.com/mengatur-bahasa-tubuh-untuk-membangun-kesan-pertama-yang-baik-di-wawancara-kerja.html" rel="bookmark" class="crp_title">Mengatur Bahasa Tubuh untuk Membangun Kesan Pertama yang Baik di Wawancara Kerja</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/empat-mitos-seputar-tes-wawancara-kerja.html" rel="bookmark" class="crp_title">Empat Mitos Seputar Tes Wawancara Kerja</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/7-kesalahan-yang-harus-dihindari-di-tes-wawancara-kerja.html" rel="bookmark" class="crp_title">7 Kesalahan Yang Harus Dihindari di Tes Wawancara Kerja</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/panduan-tes-wawancara-utk-program-beasiswa-perguruan-tinggi-s1.html" rel="bookmark" class="crp_title">Panduan Tes Wawancara utk Program Beasiswa Perguruan Tinggi S1</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/pertanyaan-pembuka-interview-ceritakan-ttg-diri-anda.html" rel="bookmark" class="crp_title">Pertanyaan Pembuka Interview: Ceritakan ttg Diri Anda</a></li></ul></div><img src="http://akhmadguntar.com/?ak_action=api_record_view&id=929&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akhmadguntar.com/kesalahan-pada-tes-wawancara-kerja.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengatur Bahasa Tubuh untuk Membangun Kesan Pertama yang Baik di Wawancara Kerja</title>
		<link>http://akhmadguntar.com/mengatur-bahasa-tubuh-untuk-membangun-kesan-pertama-yang-baik-di-wawancara-kerja.html</link>
		<comments>http://akhmadguntar.com/mengatur-bahasa-tubuh-untuk-membangun-kesan-pertama-yang-baik-di-wawancara-kerja.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Jun 2009 21:00:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Guntar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manajemen Karir]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa tubuh]]></category>
		<category><![CDATA[karir]]></category>
		<category><![CDATA[karyawan]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen karir]]></category>
		<category><![CDATA[manajer]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[wawancara kerja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akhmadguntar.com/?p=910</guid>
		<description><![CDATA[Kesan pertama Anda dibangun sejak Anda masuk ke area perusahaan, yakni sejak Anda keluar dari tempat parkir bahkan. Maka begitu Anda masuk ke dalam gedung, pastikan Anda sudah tampak keren sejak awal. Pesan non verbal dalam komunikasi ditampakkan dalam banyak hal, salah satunya adalah cara berpakaian. Jika Anda pria, maka perhatikanlah panduan berpakaian yang baik. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kesan pertama Anda dibangun sejak Anda masuk ke area perusahaan, yakni sejak Anda keluar dari  tempat parkir bahkan. Maka begitu Anda masuk ke dalam gedung, pastikan Anda sudah tampak keren sejak awal.</p>
<p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/133w_career.jpg" alt="Mengatur Bahasa Tubuh untuk Membangun Kesan Pertama yang Baik di Wawancara Kerja" /></p>
<p>Pesan non verbal dalam komunikasi ditampakkan dalam banyak hal, salah satunya adalah cara berpakaian. Jika Anda pria, maka perhatikanlah <a href="http://akhmadguntar.com/tips-ampuh/kiat-berbusana-ala-profesional-untuk-pria-laki-laki/">panduan berpakaian yang baik</a>.</p>
<p><span id="more-910"></span><br />
Jika Anda menggunakan jaket, maka jangan ikut bawa masuk; tinggalkan saja di kendaraan Anda.</p>
<p>Jangan celingukan. Jika Anda memang sedang mencari meja registrasi atau tempat duduk, jangan tolehkan kepala Anda ke kanan dan ke kiri secara cepat bak kera kena tulup. Jika Anda pernah melihat orang yang tak tahu jalan atau tersesat dan kemudian tolah toleh tak karuan, Anda pasti paham betapa orang itu tampak bingung dan merasakan ketidakpastian yang besar. Dan yang semacam itu tidaklah boleh ditampakkan di tempat wawancara kerja. Jikapun Anda mencari-cari tempat duduk atau teman, yang Anda gerakkan cukup bola mata dengan tolehan kepala yang pelan.</p>
<p>Semenjak Anda berada di ruang tunggu, aturlah postur tubuh Anda dengan baik dan jangan menampakkan sikap-sikap tubuh yang tidak keren atau miskin wibawa. Ini artinya jangan berjongkok seperti gaya orang mau berak di pinggiran tembok . Meskipun yang lain seperti itu, Anda jangan menirunya. Paksa diri Anda untuk tetap berdiri jika memang tak ada tempat duduk yang tersisa. Meskipun banyak peserta wawancara yang duduk secara berhimpitan sampai-sampai hanya ujung pantat belakang saja yang menyentuh kursi, tidak berarti Anda perlu melakukan hal yang sama.</p>
<p>Jika Anda duduk, entah di ruang tunggu ataupun di dalam ruang wawancara, duduklah dengan punggung tegak, pinggang menempel di sandaran, bahu aga ditarik ke belakang, dengan dagu agak diangkat. Sikap tubuh semacam ini tidak hanya akan membuat Anda tampak keren, tapi juga membuat Anda bisa bernafas dengan lega sehingga gugup pun bisa terkendali.</p>
<p>Ketika Anda masih menunggu, maka jangan bengong; sebaiknya lakukan hal-hal keren seperti membaca majalah bisnis, buku pengembangan diri, apalagi yang berbahasa inggris. Jangan gunakan waktu ini untuk ngegame di handphone atau mengisi TTS. Itu sama sekali tidak keren. Anda juga bisa gunakan waktu menunggu untuk ngobrol dengan orang di sebelah kanan kiri Anda.</p>
<p>Tatkala bertemu dengan pewawancara, jabatlah tangannya dengan erat. Jabat tangan sering digunakan untuk membaca tingkat energi seseorang. Jabatan tangan yang lemas akan menimbulkan kesan yang buruk. Jadilah yang terakhir melepaskan jabatan tangan itu. Itu artinya Anda baru lepaskan ketika jabatan tangannya mulai mengendor. Tak perlu gunakan tangan kiri Anda untuk memegang lengan atau bahu sang pewawancara. Itu namanya SKSD; Sok Kenal Sok Dekat, yang bisa berbahaya manakala sang pewawancara Anda adalah melankolis atau phlegmatis.</p>
<p>Tak mengapa Anda sedikit mencondongkan tubuh ke depan untuk menunjukkan ketertarikan.<br />
Jaga gerakan tangan seminimal mungkin&#8230;.mm&#8230;atau lebih tepatnya, jaga sebisa mungkin agar Anda tidak melakukan ekspresi gerakan tangan ke wajah, misal ke arah mulut, hidung, mata, tengkuk atau telinga. Semua itu dapat mengirimkan pesan bahwa Anda ragu dengan yang Anda sampaikan, atau bahkan Anda sedang berbohong atau mengarang-ngarang jawaban.</p>
<p>Sebaiknya Anda tidak menyilangkan kaki di depan, entah dengan menumpangkan atau menyilangkan kaki di depan. Termasuk juga, sebaiknya Anda tidak menyilangkan tangan di depan dada. Itu semua menunjukkan sikap defensif.</p>
<p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/interviews-sm.jpg" alt="Mengatur Bahasa Tubuh untuk Membangun Kesan Pertama yang Baik di Wawancara Kerja" width="490" /></p>
<p>Lakukan tatapan mata, lakukan secara wajar , tak usah dipaksakan. Di Indonesia, menundukkan atau mengalihkan pandangan masih dianggap sebagai suatu hal yang diperlukan untuk menunjukkan kesopanan atau ketundukan. Ingat bahwa tidak semua pewawancara Anda adalah spesialis pewawancara. Bisa jadi dia adalah bos atau siappun dari jajaran atas perusahaan, yang mana mereka punya kebutuhan untuk dihormati. Memaksakan diri mempertahankan tatapan mata bisa jadi malah dianggap sikap kurang sopan. Dan jika Anda mengalihkan pandangan, jangan ke arah samping atau atas, melainkan ke bawah.<br />
Dengan tatapan mata, apa mengkomunikasikan bahwa Anda adalah pribadi yang percaya diri, dan bahwa Anda mendengarkan dengan seksama apa sang pewawancara sampaikan. Jika Anda adalah orang auditori, sebaiknya tatapan mata ini Anda latihkan secara sadar.</p>
<p>Saat berbicara, perhatikan kecepatan bicara dan volume suara Anda; jaga keduanya agar tetap berada dalam rentang yang nyaman untuk didengar.</p>
<p>Jangan lupa untuk tersenyum, meskipun ini tentu saja harus disesuaikan dengan apa yang sedang dibicarakan. Saat pertanyaan diajukan, tunjukkan muka serius yang tak menyeramkan. Pokoknya gaya mendengarkan yang khusuk deh. Jika di saat ini Anda senyam senyum tanpa alasan jangan-jangan malah diceletuk, &#8220;Anda pikir pertanyaan saya lucu apa?&#8221; (lebay :-p). Senyumlah sejak akan mulai menjawab pertanyaan. Tapi jika Anda memang excited atau menyukai pertanyaan yang diajukan, maka tersenyum pun tak mengapa.</p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://akhmadguntar.com/kesalahan-pada-tes-wawancara-kerja.html" rel="bookmark" class="crp_title">Kesalahan yang Perlu Dihindari pada saat Tes Wawancara Kerja</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/7-kesalahan-yang-harus-dihindari-di-tes-wawancara-kerja.html" rel="bookmark" class="crp_title">7 Kesalahan Yang Harus Dihindari di Tes Wawancara Kerja</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/2-kiat-efektif-utk-membangun-awalan-positif-sbg-pembicara.html" rel="bookmark" class="crp_title">2 Kiat Efektif utk Membangun Awalan Positif sbg Pembicara</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/postur-tubuh-yang-benar-tu-menyehatkan.html" rel="bookmark" class="crp_title">Postur Tubuh yang Benar tu Menyehatkan!</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/panduan-tes-wawancara-utk-program-beasiswa-perguruan-tinggi-s1.html" rel="bookmark" class="crp_title">Panduan Tes Wawancara utk Program Beasiswa Perguruan Tinggi S1</a></li></ul></div><img src="http://akhmadguntar.com/?ak_action=api_record_view&id=910&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akhmadguntar.com/mengatur-bahasa-tubuh-untuk-membangun-kesan-pertama-yang-baik-di-wawancara-kerja.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>10 Kiat Ampuh Agar Anda Dipecat</title>
		<link>http://akhmadguntar.com/10-kiat-ampuh-agar-anda-dipecat.html</link>
		<comments>http://akhmadguntar.com/10-kiat-ampuh-agar-anda-dipecat.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Jun 2009 22:00:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Guntar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manajemen Karir]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa tubuh]]></category>
		<category><![CDATA[karir]]></category>
		<category><![CDATA[karyawan]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen karir]]></category>
		<category><![CDATA[manajer]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[wawancara kerja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akhmadguntar.com/?p=900</guid>
		<description><![CDATA[Di blog ini saya sudah banyak menulis tentang bagaimana meningkatkan performa di tempat kerja. Tapi kemudian saya pikir ada baiknya saya menulis tentang kiat ampuh agar bisa dipecat. Mengapa? Karena melakukan hal yang luar biasa seperti keberhasilan memangkas biaya proyek, menge-deal-kan proyek, ataupun yang lain bisa terpupuskan oleh kebiasaan-kebiasaan buruk yang membahayakan. Berikut ini adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/0_62_320.jpg" alt="10 Kiat Ampuh Agar Anda Dipecat" width="461" height="290" /></p>
<p>Di blog ini saya sudah banyak menulis tentang bagaimana meningkatkan performa di tempat kerja. Tapi kemudian saya pikir ada baiknya saya menulis tentang kiat ampuh agar bisa dipecat. Mengapa? Karena melakukan hal yang luar biasa seperti keberhasilan memangkas biaya proyek, menge-deal-kan proyek, ataupun yang lain bisa terpupuskan oleh kebiasaan-kebiasaan buruk yang membahayakan.</p>
<p>Berikut ini adalah cara yang saya pikir ampuh untuk membuat diri Anda dipecat. Sehingga agar Anda mendapatkan manfaat berupa kiat agar tidak dipecat, maka lakukan saja hal yang sebaliknya <img src='http://akhmadguntar.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /><br />
<span id="more-900"></span><br />
<strong>1. Datang telat, jadi karyawan <em>teladtan</em></strong><br />
Datang tepat waktu itu cuma buat mereka yang gocik atau penakut saja. Apalagi klo sudah senior kan ya wajar datangnya telat. Kalau waktu mau berangkat masih masih ngantuk ya tidur lagi aja dulu ga papa. Dalam perjalanan ngantor, tak ada ruginya mampir dulu ke mana gitu untuk urusan pribadi atau yang lain.</p>
<p><strong>2. Jangan lupakan kopi ama jajanannya</strong><br />
Bukan, bukan buat si bos, untuk diri sendiri! Lha sudah niat telat kok, kenapa ndak sekalian aja mampir ke warung kopi dalam perjalanan ke kantor? Jangan lupa jajan gorengannya, perkara nanti baju belepotan kena petis atau minyak, ya risiko, biasa lah.</p>
<p><strong>3. Ngudap di meja kerja</strong><br />
Ini maksudnya jajanan yang tadi dah dibeli, bukan makan siang dong, ah. Klo udah waktunya makan siang, ngapain juga masih mau kerja? Dan nyantai aja, tak usah keburu-buru pengen cepet kerja.</p>
<p><strong>4. Ngambil jam makan siangnya yang lama</strong><br />
Masa untuk makan siang cuman sejam doang? Gila apa? Sejam itu belum cukup ah buat makan sambil ngobrol-ngobrol, guyon-guyon atau pergi keluar untuk urusan pribadi.</p>
<p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/jco0016l.jpg" alt="10 Kiat Ampuh Agar Anda Dipecat" /><br />
<strong>5. Melakukan panggilan pribadi</strong><br />
Klo bukan di kantor, lantas mau di mana lagi bisa cari waktu untuk ngobrol? Dan mumpung pake fasilitas kantor, maka ya dipuas-puasin aja.</p>
<p><strong>6. Asyik internetan</strong><br />
Mengirimkan email untuk urusan pribadi, untuk menyebarluaskan yang lucu-lucu seperti guyonan Ponari Sweat atau gosip-gosip miring seputar produk dan jasa di Indonesia. Oh, iya, dan itu semua menggunakan akun email kantor. Tidak lupa banyak habiskan waktu youtube-an, facebook-an, dan browsing ke mana-mana.</p>
<p><strong>7. Download, download, download&#8230;</strong><br />
Koneksi di kantor untungnya lebih cepet ketimbang yang di rumah. Kesempatan, dipake aja buat donlod seluruh seri serial Friends, film-film terbaru dan bahkan software2 bajakan. Habis gitu dibagi-bagikan ke seluruh komputer yg ada, biar nanti kalo ada tuduhan kita bisa bilang, &#8220;Lha, ini kan bukan cuma saja aja&#8221; sambil berharap bagian IT cukup bodoh untuk bisa membaca kelicikan kita.</p>
<p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/cwln723l.jpg" alt="10 Kiat Ampuh Agar Anda Dipecat" /></p>
<p><strong>8. Buat teman dan terutama client Anda jengkel</strong><br />
Bila ada yang ngajak ngobrol, jangan pedulikan, teruskan saja ngobrol dengan teman Anda atau pura-pura sibuk dengan kerjaan. Jika dia bertanya, tak usah dijawab. Bila Anda lebih sering berbicara melalui telepon, jadikan saluran Anda terus sibuk sehingga penelpon tak bisa masuk. Bila ada yang meninggalkan pesan, jangan repot-repot untuk menelponnya. Jika ada teman yang mengajak Anda berbicara, segera teriakkan, &#8220;Lihat, di belakangmu ada apa?!&#8221; lalu segeralah berlalu meninggalkan dia.</p>
<p><strong>9. Jangan pernah kerja melebihi job description Anda</strong><br />
Bahkan ketika sebuah proyek sedang dalam tahap kritis dan bantuan Anda sedang diharapkan, ingat-ingatlah: &#8220;Itu bukan urusan Anda&#8221;. Begitu juga manakala ada yang meminta Anda untuk melakukan sesuatu, katakan, &#8220;Itu kan bukan kerjaanku&#8221;. Ini akan jadi sangat efektif manakala, semisal saja, seseorang yang kerjanya di cleaning service dan lalu berkata seperti itu kala diminta untuk membersihkan kotoran di wastafel.</p>
<p><strong>10. Pulanglah lebih cepat</strong><br />
Emang yang membuat aturan pulang jam lima itu siapa, sih?  Kalau saja Anda pulang 15 menit saja lebih cepat, ntar kan bisa sampe rumah sebelum waktunya makan malam.</p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://akhmadguntar.com/10-cara-untuk-jadi-pencuri-di-kantor.html" rel="bookmark" class="crp_title">10 Cara untuk Jadi Pencuri di Kantor</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/yang-perlu-dipertimbangkan-sebelum-keluar-kerja-resign.html" rel="bookmark" class="crp_title">Yang Perlu Anda Pertimbangkan Sebelum Keluar Kerja (Resign)</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/menerapkan-saringan-filter-untuk-merapikan-email.html" rel="bookmark" class="crp_title">Menerapkan Saringan (Filter) untuk Merapikan Email</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/distraksi-produktivitas-aktivitas-kerja-yang-tidak-terhitung-kerja.html" rel="bookmark" class="crp_title">Distraksi Produktivitas: Aktivitas Kerja yang Tidak Terhitung Kerja</a></li><li><a href="http://akhmadguntar.com/never-eat-alone-kiat-efektif-membangun-jejaring-3.html" rel="bookmark" class="crp_title">Never Eat Alone: Kiat Efektif Membangun Jejaring (3)</a></li></ul></div><img src="http://akhmadguntar.com/?ak_action=api_record_view&id=900&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akhmadguntar.com/10-kiat-ampuh-agar-anda-dipecat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
