<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>akhmadGuntar dotcom &#187; Manajemen Karir</title>
	<atom:link href="http://akhmadguntar.com/category/manajemen-karir/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://akhmadguntar.com</link>
	<description>Manajemen Produktivitas &#38; Pengembangan Diri</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Apr 2012 09:57:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Facebook Sebagai Tempat Pertaruhan Reputasi</title>
		<link>http://akhmadguntar.com/facebook-sebagai-tempat-pertaruhan-reputasi/</link>
		<comments>http://akhmadguntar.com/facebook-sebagai-tempat-pertaruhan-reputasi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Mar 2012 00:32:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Guntar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manajemen Karir]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akhmadguntar.com/?p=1670</guid>
		<description><![CDATA[Memikirkan bagaimana status update Facebook harusnya seperti ketika memilih hendak kenakan baju apa atau pilih potongan gaya rambut seperti apa: harus dipikir masak-masak. Facebook sekarang bukan lagi tempat privat antar kita dan teman-teman atau keluarga terdekat. Facebook adalah tempat publik, tempat kita diseleksi dan dipilih. Facebook membatasi pertemanan hingga 5.000 “teman”. Asumsi yang mendasari adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" title="tombol-suka-facebook.jpg" src="http://akhmadguntar.com/wp-content/uploads/2012/02/tombol-suka-facebook.jpg" border="0" alt="Tombol suka facebook" width="490" height="218" /></p>
<p>Memikirkan bagaimana status update Facebook harusnya seperti ketika memilih hendak kenakan baju apa atau pilih potongan gaya rambut seperti apa: harus dipikir masak-masak. Facebook sekarang bukan lagi tempat privat antar kita dan teman-teman atau keluarga terdekat. Facebook adalah tempat publik, tempat kita diseleksi dan dipilih.</p>
<p>Facebook membatasi pertemanan hingga 5.000 “teman”. Asumsi yang mendasari adalah bahwa ketika Anda sudah tersambung dengan sebegitu banyak orang, sesungguhnya jejaring Anda tidak lagi berisi koneksi riil; akan ada banyak orang yang Anda tidak betul-betul kenal di sana. Robin Dunbar, seorang anthropologist, mengatakan bahwa manusia hanya punya kapabilitas kognitif untuk tersambung dengan kisaran 150 orang saja di satu waktu. Dengan kata lain, otak kita hanya bisa menampung informasi pribadi dari orang-orang dalam jumlah yang terbatas. Lantas mereka yang di atas 150? Penggemar? <img src='http://akhmadguntar.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  Atau sekedar iseng dan asal saja meng-add kita?</p>
<p>Apapun, Facebook bukan tempat yang tepat untuk asal bicara.</p>
<p>Setiap kali kita memposting update di Facebook dan Twitter, kita sedang coba mempengaruhi bagaimana cara pandang orang-orang terhadap diri kita. Orang lain —terutama yg masih belum begitu kenal— akan menilai kita dari profil dan status update. Facebook akhirnya ibarat iklan bagi kepribadian, kualitas diri dan kompetensi kita.</p>
<p>Status Facebook  akan membantu orang lain dalam menentukan apakah kita ini layak dijadikan teman, atau kenalan. Status Facebook juga akan jadi pertimbangan besar bagi pemberi kerja untuk memanggil Anda di sesi wawancara. Buat apa mewawancara pelamar kerja yang isi status update-nya melulu bencana (omongan buruk atas orang lain atau diri sendiri dan apapun yang mbikin gerah).</p>
<p>Pampang foto sedang traveling? Itu bisa diartikan Anda orang yang terbuka dan berjiwa petualang. Banyaknya orang yang pergi bersama Anda? Itu menggambarkan tipikal kepribadian Anda yang extroversion. Entah melalui sikap menebak-nebak yang sok tau atau bagaimana, nyatanya orang akan coba menilai Anda dari apa yang tampak di Facebook. Bahkan menariknya, <a href="http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1559-1816.2011.00881.x/full">suatu studi</a> sampai bisa menunjukkan betapa profil (dan status update) Facebook bisa menjadi prediktor atas kesuksesan akademik seseorang. Saya sampai ndak habis pikir karenanya <img src='http://akhmadguntar.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Untuk urusan kerja, dalam suatu studi yang dipublikasikan di <a href="http://www.wiley.com/bw/journal.asp?ref=0021-9029">Journal of Applied Social Psychology</a>, terdapat simpulan yang menarik: terdapat korelasi yang tinggi antara persepsi hasil pencermatan profil Facebook seseorang dan kinerja mereka di tempat kerja. <a href="http://www.baltimoresun.com/business/technology/ct-biz-0220-work-advice-huppke-20120219,0,1971723.column">Studi semacam ini</a> tentu perlu jadi pengingat yang serius buat kita, bahkan sebagai pribadi. Malahan, evaluasi di Facebook dikatakan bisa lebih akurat daripada tes kepribadian yang sering digunakan perusahaan. Sekitar 70% perekruit kerja (meski ini bukan data di Indonesia) membatalkan panggilan terhadap kandidat karyawan begitu mengetahui profil Facebook dari yang bersangkutan. Bagaimanapun, angka <a href="http://mashable.com/2011/10/23/how-recruiters-use-social-networks-to-screen-candidates-infographic/">91% perekruit menggunakan social media untuk men-screening kandidat</a> adalah fakta yang menarik.</p>
<p> Silahkan Anda cermati infographics di bawah ini yang menunjukkan perihal apa saja yang membuat para perekruit menolak atau menerima kandidat untuk jadi masukan dalam menata status update kita, bahkan jika Anda tidak sedang mencari kerja sekalipun.<br />
<div id="attachment_1674" class="wp-caption aligncenter" style="width: 474px"><a href="http://akhmadguntar.com/wp-content/uploads/2012/03/How-Recruiters-Screen-Candiates-Using-Social-Media.jpg"><img src="http://akhmadguntar.com/wp-content/uploads/2012/03/How-Recruiters-Screen-Candiates-Using-Social-Media-464x1024.jpg" alt="Bagaimana perekruit menyaring kandidat dg Social Media" title="Bagaimana perekruit menyaring kandidat dg Social Media. " width="464" height="1024" class="size-large wp-image-1674" /></a><p class="wp-caption-text">Silahkan klik untuk ukuran penuh</p></div></p>
<p>Petikan pembelajaran buat yang ada kepentingan untuk cari kerja: perhatikan ujaran di Facebook dan social media. Anda tak ingin reputasi Anda terluka karenanya.</p>
<p>Lebih jauh tentang personal branding di Facebook, silahkan simak <a href="http://mashable.com/2009/04/02/facebook-personal-brand/">apa kata Dan Schawbel di sini</a>.</p>
<p>Anda punya kiat untuk ber-Facebook secara produktif untuk karir dan kebaikan?</p>
<div class="shr-publisher-1670"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' data-shr_layout='button_count' data-shr_showfaces='false' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2Ffacebook-sebagai-tempat-pertaruhan-reputasi%2F' data-shr_title='Facebook+Sebagai+Tempat+Pertaruhan+Reputasi'></a><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2Ffacebook-sebagai-tempat-pertaruhan-reputasi%2F'></a><a class='shareaholic-googleplusone' data-shr_size='medium' data-shr_count='true' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2Ffacebook-sebagai-tempat-pertaruhan-reputasi%2F' data-shr_title='Facebook+Sebagai+Tempat+Pertaruhan+Reputasi'></a><a class='shareaholic-tweetbutton' data-shr_count='horizontal' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2Ffacebook-sebagai-tempat-pertaruhan-reputasi%2F' data-shr_title='Facebook+Sebagai+Tempat+Pertaruhan+Reputasi'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><img src="http://akhmadguntar.com/?ak_action=api_record_view&id=1670&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akhmadguntar.com/facebook-sebagai-tempat-pertaruhan-reputasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kiat Sukses untuk Masa-masa Awal Sang Karyawan</title>
		<link>http://akhmadguntar.com/kiat-sukses-untuk-masa-masa-awal-sang-karyawan/</link>
		<comments>http://akhmadguntar.com/kiat-sukses-untuk-masa-masa-awal-sang-karyawan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Sep 2010 13:46:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Guntar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manajemen Karir]]></category>
		<category><![CDATA[karir]]></category>
		<category><![CDATA[karyawan]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen karir]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akhmadguntar.com/?p=1417</guid>
		<description><![CDATA[[Mohon maaf, repost setelah kapan lalu database sempat corrupt tanpa bisa dipulihkan total] Selamat, Anda telah diterima sebagai karyawan. Sekarang, apa yang bisa dilakukan untuk mengoptimalkan pengalaman saat-saat pertama Anda dalam bekerja? 1. Hiduplah di Bawah Standar Ideal Anda Tahun pertama Anda sebagai orang gajian akan berpengaruh betul pada bagaimana pola pengeluaran Anda. Buatlah keputusan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>[Mohon maaf, repost setelah kapan lalu database sempat corrupt tanpa bisa dipulihkan total]</p>
<p>Selamat, Anda telah diterima sebagai karyawan. Sekarang, apa yang bisa dilakukan untuk mengoptimalkan pengalaman saat-saat pertama Anda dalam bekerja?</p>
<p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/662241_f496.jpg" alt="Kiat Sukses untuk Masa-masa Awal Sang Karyawan" /></p>
<h3>1. Hiduplah di Bawah Standar Ideal Anda</h3>
<p>Tahun pertama Anda sebagai orang gajian akan berpengaruh betul pada bagaimana pola pengeluaran Anda. Buatlah keputusan yang sengaja dan sadar untuk bisa miliki pengeluaran yang lebih kecil daripada pemasukan Anda. Kemampuan Anda untuk bisa melakukan ini akan memberikan fleksibilitas dan kuasa untuk mencapai lebih di masa depan nanti. Meskipun Anda bisa membiayai kost seharga satu juta per bulan, tapi cobalah cari yang agak jauh di bawahnya saja (lagipula, jika Anda baru diterima kerja, besar kemungkinan Anda masih bujangan, bukan?). Meskipun untuk perihal yang memang membuat Anda merasa lebih produktif bila didelegasikan (misal menyuci dan menyetrika baju) boleh dan baik saja bila Anda keluarkan uang untuknya.</p>
<h3>2. Carilah Kesempatan Belajar di Setiap Pekerjaan dan Tugas-tugas di Dalamnya</h3>
<p>Terutama bila Anda memang betul-betul baru mulai bekerja, maka uang biasanya bukanlah jadi yang utama, bukan? Maksud saya, pengalaman pembelajaran harusnya jadi lebih yang terpenting bagi Anda. Dan memang betul, membentuk pengalaman penuh pembelajaran dalam hal pengetahuan, keterampilan dan mentalitas memang jauh lebih berharga untuk kepentingan jangka panjang daripada memperturutkan hasrat untuk mendapatkan sebanyak mungkin uang di awal. Jangan kecil hati manakala Anda bekerja di perusahaan kecil yang struktur dan prosedur kerjanya belum ideal. Malah sebetulnya di sana pembelajaran Anda bisa diikuti dengan sumbangsih nyata kepada perusahaan melalui sumbang gagasan dan turut menjadi agen perubahan.</p>
<h3>3. Carilah Setiap Peluang untuk Belajar</h3>
<p>Masih terkait dengan yang di atas, sebisa mungkin carilah peluang di mana Anda bisa difasilitasi untuk belajar. Ikutlah beragam program pelatihan yang diadakan oleh perusahaan. Tunjukkan prestasi sedemikian rupa para supervisor bisa melihat potensi Anda, lalu ajukanlah permintaan untuk bisa mengikuti pelatihan di luar perusahaan. Bahkan, Anda juga bisa coba untuk mengajukan program beasiswa untuk pendidikan formal lanjutan. Dan bukan melulu berkisar di pelatihan dan pendidikan formal, Anda juga perlu belajar dari para senior, rekan kerja, dan atasan yang miliki wawasan, keterampilan, dan kebijaksanaan yang lebih dari Anda. Dengan terus memperkaya kesempatan belajar, Anda sesungguhnya sedang memantaskan diri untuk meraih peluang dan tanggung jawab profesional yang lebih besar.</p>
<p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/NewEmployee.jpg" alt="Kiat Sukses untuk Masa-masa Awal Sang Karyawan" /></p>
<h3>4. Bangun Mentalitas Self-Employee dan Entrepreneur</h3>
<p>Meskipun posisi Anda adalah sebagai orang yang digaji, namun cobalah untuk memandang diri Anda sebagai self-employee dan entrepreneur yang miliki kesamaan utama dalam hal kemampuannya untuk menggerakkan diri dan mengambil kendali atas masa depan karirnya. Camkan bahwa atasan Anda tidak bisa dipersalahkan atas karir Anda yang buruk. Adalah diri Anda sendiri yang memegang kendali atasnya. Bahkan, sadari juga bahwa meskipun semisal Anda sudah bekerja selama 20 tahunan di suatu perusahaan, masih akan ada kemungkinan diri Anda dipecat dengan hormat karena keputusan-keputusan yang tidak berada di wilayah kuasa Anda. Dengan mengadopsi mentalitas self-employee dan entrepreneur, Anda tidak harus berikrar untuk betul-betul berhenti dari pekerjaan. Apa yang dipentingkan di sini adalah mentalitas kemandirian dalam bergerak, kemampuan untuk memotivasi diri, kemauan untuk menentukan target performa sendiri dan bergerak untuk betul-betul memenuhinya.</p>
<h3>5. Bangunlah Jaringan Relasi</h3>
<p>Mulai saja dengan yang sederhana: jangan terburu pilih-pilih kenalan, dan ingatlah serta tetaplah jalin hubungan dengan teman-teman di tempat kerja. Cobalah lakukan hal-hal kecil yang meskipun tak bisa rutin dijalankan, yang penting sudah pernah dilakukan: mengirimkan ucapan selamat ulang tahun, ucapan selamat karena anak rekan kerja meraih prestasi tertentu, memberikan kata-kata yg baik di wall facebooknya, apapun itu yang penting bisa membekaskan kebaikan. Targetnya sederhana: Anda harus meninggalkan kesan baik pada siapapun. Dan bicara membangun relasi, pahamilah bahwa ini bukan lantas melulu untuk diri Anda. Apa yang coba dibangun adalah hubungan dua arah yang tidak bertepuk sebelah tangan. Maka coba carilah juag orang-orang yang sekiranya bisa Anda bantu; dan itu merupakan cara yang efektif untuk membangun relasi.</p>
<p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/mban669l.jpg" alt="Kiat Sukses untuk Masa-masa Awal Sang Karyawan" /></p>
<h3>6. Bangunlah Kebiasaan Efektif Sejak Dini</h3>
<p>Sejak awal Anda memulai karir, belajarlah untuk membangun kebiasaan efektif sejak dini. Bentuknya bisa bermacam-macam: olahraga secara teratur, membaca buku yang berkualitas, beristirahat secara lebih disiplin dalam waktu dan kualitas yang baik, makan asupan yang menyehatkan, dsb. Seluruh pembiasaan yang Anda lakukan sejak awal akan berdampak panjang hingga masa depan karir Anda.</p>
<h3>7. Pastikan Anda Betul-betul Menyukai Pekerjaan Anda</h3>
<p>Tidak ada pekerjaan yang betul-betul ideal. Untuk pekerjaan yang awalnya Anda begitu idam-idamkan sekalipun, pasti di sana akan ada aspek pekerjaan yang Anda tidak sukai. Maka yang penting di sini adalah belajar untuk menyukai. Mentang-mentang perasaan Anda tak nyaman tidak lantas itu menandakan Anda berada di pekerjaan yang salah, meskipun itu bisa jadi merupakan indikasi. Pahamilah bahwa ketika Anda mengkomitmenkan untuk terus belajar, itu artinya secara konsisten Anda menempatkan diri untuk keluar dari zona nyaman, yang pastinya itu membuat merasa Anda kurang nyaman. Maka belajarlah untuk merasa nyaman dari pengetahuan bahwa Anda senantiasa belajar dan berkembang. Cobalah temukan beberapa aspek dari pekerjaan yang Anda memang betul-betul bisa bagus di sana.</p>
<div class="shr-publisher-1417"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' data-shr_layout='button_count' data-shr_showfaces='false' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2Fkiat-sukses-untuk-masa-masa-awal-sang-karyawan%2F' data-shr_title='Kiat+Sukses+untuk+Masa-masa+Awal+Sang+Karyawan'></a><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2Fkiat-sukses-untuk-masa-masa-awal-sang-karyawan%2F'></a><a class='shareaholic-googleplusone' data-shr_size='medium' data-shr_count='true' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2Fkiat-sukses-untuk-masa-masa-awal-sang-karyawan%2F' data-shr_title='Kiat+Sukses+untuk+Masa-masa+Awal+Sang+Karyawan'></a><a class='shareaholic-tweetbutton' data-shr_count='horizontal' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2Fkiat-sukses-untuk-masa-masa-awal-sang-karyawan%2F' data-shr_title='Kiat+Sukses+untuk+Masa-masa+Awal+Sang+Karyawan'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><img src="http://akhmadguntar.com/?ak_action=api_record_view&id=1417&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akhmadguntar.com/kiat-sukses-untuk-masa-masa-awal-sang-karyawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>9 Kiat Menjadi Supervisor Handal</title>
		<link>http://akhmadguntar.com/9-kiat-menjadi-supervisor-handal/</link>
		<comments>http://akhmadguntar.com/9-kiat-menjadi-supervisor-handal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jun 2010 22:15:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Guntar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manajemen Karir]]></category>
		<category><![CDATA[karir]]></category>
		<category><![CDATA[karyawan]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen karir]]></category>
		<category><![CDATA[manajer]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan karir]]></category>
		<category><![CDATA[pensiun]]></category>
		<category><![CDATA[sukses karir]]></category>
		<category><![CDATA[supervisor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akhmadguntar.com/?p=1314</guid>
		<description><![CDATA[Supervisor adalah seseorang yang ditugasi untuk membuat perencanaan, melakukan pengawasan dan pengelolaan terhadap orang-orang yang ada di bawahnya berdasarkan hierarki jabatan. Berikut ini adalah kiat untuk menjadi supervisor yang lebih baik khususnya dalam kaitannya menghadapi mereka yang disupervisi. 1. Perhatikan betul momen interaksi Anda. Bersikaplah lebih cermat dari biasanya di setiap interaksi dan komunikasi antara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/supervisorpengawas.jpg" alt="9 Kiat Menjadi Supervisor Handal" /></p>
<p>Supervisor adalah seseorang yang ditugasi untuk membuat perencanaan, melakukan pengawasan dan pengelolaan terhadap orang-orang yang ada di bawahnya berdasarkan hierarki jabatan. Berikut ini adalah kiat untuk menjadi supervisor yang lebih baik khususnya dalam kaitannya menghadapi mereka yang disupervisi.</p>
<h3>1. Perhatikan betul momen interaksi Anda.</h3>
<p>Bersikaplah lebih cermat dari biasanya di setiap interaksi dan komunikasi antara Anda dan anak buah. Lebih cermat di sini dalam artian bersikap reflektif dan awas: &#8220;Apakah aku mau manakala disuruh atau dinasehatin dengan cara seperti ini?&#8221;, &#8220;Apakah aku sudah menunjukkan rasa hormat kepada mereka yang aku suruh ataukah aku terkesan mentang-mentang dan sok?&#8221;, &#8220;Apakah cara ngomong yang seperti ini bisa dipahami oleh mereka?&#8221;<br />
<span id="more-1314"></span><br />
Ada kalanya anak buah enggan membuka mulut terhadap supervisor karena mereka khawatir terlihat bodoh atau mereka bermaksud mencari tahu sendiri apa-apa yang sebenarnya mereka tidak mengerti. Maka bersikaplah cermat dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan reflektif seperti di atas. Baca juga bahasa tubuhnya, apakah bola matanya melihat ke kiri samping atau atas selama beberapa saat lalu sesudah itu dia mengernyitkan dahi? Itu tandanya dia tak punya suatu pengalaman pun dari ingatannya yang membuat dia bisa pahami omongan Anda. Apakah dia mendengarkan Anda sambil menutupi mulutnya dengan telapak tangan setelah itu dia silangkan tangan di depan dada apalagi sambil menatap Anda sambil tundukkan kepala? Itu artinya dia awalnya ragu dengan apa yang Anda sampaikan, dia membandingkan dengan apa-apa yang dia ketahui dan lalu tidak bersepakat dengan Anda.</p>
<h3>2. Dapatkan masukan langsung dari anak buah Anda.</h3>
<p>Terutama di saat momen informal, coba tanyakan kepada anak buah tentang apa-apa yang bisa membuat Anda bisa lakukan tugas dengan lebih baik;</p>
<ul>
<li> Kamu pernah nggak punya supervisor yang sip? Dia orangnya kayak gimana? dan apa yang biasa dia lakukan?</li>
<li> Kamu masih inget nggak pujian paling indah yang pernah kamu dapatkan dari supervisor kamu? Itu pujian atas apa?</li>
<li> Pernah nggak kamu nemui supervisor kamu lagi menjengkelkan atau bersikap apapun yang kamu jadi bener-bener nggak suka? Kalau nggak pernah, kira-kira apa yang bakal mbikin kamu jengkel ama supervisor kamu?</li>
<li> Menurut kamu sendiri, apa yang kamu butuhkan untuk membuat kerjaanmu jadi tambah bagus?</li>
<li> Menurutmu aku punya sifat apa yang bisa mbikin temen-temenmu benci atau gak betah sama aku?</li>
</ul>
<p>Seluruh pertanyaan di atas pada dasarnya menanyakan persepsi anak buah terhadap supervisor sehingga bisa ditemukan informasi yang spesifik dari tiap orang. Anda tidak sebaiknya menghabiskan seluruh pertanyaan itu pada satu orang. Atau jikapun Anda memang punyai karyawan yang amat kritis, jangan tanyakan itu semua pada satu waktu. Untuk karyawan yang kurang kritis (atau kurang cerdas), Anda sebaiknya berikan dia waktu untuk menjawab; entah beberapa jam atau hingga keesokan harinya.</p>
<h3>3. Dengarkan dengan lebih baik</h3>
<p>Semakin Anda handal dalam mendengarkan kebutuhan orang lain, semakin orang lain akan merasa dihargai, hingga kemudian semakin juga mereka menghargai dan mendengarkan Anda. Tidak hanya itu, mereka akan lebih permisif atas kesalahan atau khilaf yang Anda pernah lakukan.</p>
<p>Terkadang anak buah sekedar ingin agar suaranya didengarkan (terutama perempuan) tanpa kemudian menuntut ada penyelesaian dari apa-apa yang mereka sampaikan. Maka jangan selalu terbebani bahwa Anda harus mengakhiri sesi obrolan Anda dengan solusi. Yang wajib Anda lakukan adalah membiarkan dia berbicara hingga rampung, melakukan parafrase sewajarnya, mengorek informasi yang relevan dari apa yang sekiranya belum disampaikannya, dan tidak mempersalahkan apa-apa yang dia rasakan.<br />
Mendengarkan orang lain juga berarti tidak hanya terpaku pada sampaian lesan. Perhatikan juga sikap tubuhnya, perhatikan juga apa kebutuhan yang dia punya yang terungkap dari sumber-sumber yang lain, terutama dari teman satu wilayah kerja.</p>
<h3>4. Ciptakan atmosfer yang aman untuk berbicara lepas</h3>
<p>Supervisor yang sedemikian tampak berkuasa bisa membuat anak buah sungkan atau malah sampai tak berani bersuara. Jika Anda bersungguh-sungguh ingin meminta umpan balik dari anak buah, maka Anda harus membuat mereka merasa aman dulu untuk bersuara dengan jujur. Hal ini Anda lakukan dengan sejak awal mengatakan betapa Anda menghargai kejujuran yang disampaikan dengan cara yang baik (misal untuk bicara keburukan, jangan di depan umum). Setelah ada yang benar-benar bersuara kepada Anda, maka jangan pernah hukum. Jika memang dia menyampaikan dengan cara yang kurang santun, atau bahkan informasi yang dia sampaikan ternyata bohong, maka jangan sampai para anak buah salah mengira bahwa Anda membenci sikap keterbukaannya.</p>
<p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/ulurantangansupervisi.jpg" alt="9 Kiat Menjadi Supervisor Handal" /></p>
<h3>5. Jika memang ada perilaku atau performa buruk, tangani dengan cepat dan tegas</h3>
<p>Perilaku yang buruk (berbohong, menyalahgunakan kewenangan, memanipulasi, korupsi) harus diberantas sejak masih berupa tindakan-tindakan sederhana. Kepedulian Anda dalam menangani &#8220;dosa-dosa&#8221; kecil akan membuat anak buah Anda sungkan dan ragu sekedar untuk merencanakan &#8220;dosa-dosa&#8221; besar. Di sinilah letak ketegasan. Sementara itu, manakala umpan balik atau penyikapan diberikan setelah kesalahan terjadi berlarut-larut, maka bisa jadi banyak hal yang sudah tidak lagi diingat dan tidak terasa urgen lagi perihalnya. Oleh karenanya, lakukan evaluasi dengan segera.</p>
<h3>6. Berlatihlah dalam menemukan kebaikan orang lain</h3>
<p>Semakin Anda terampil dalam menemukan kebaikan dan performa baik anak buah, sekecil apapun itu, dan lalu mengungkapkan kepada mereka &#8211;apalagi di hadapan orang banyak, itu akan membuat reputasi Anda semakin meningkat di hadapan anak buah. Bahkan mereka yang belum tampakkan performa baik pun menjadi hormat dan suka pada Anda.<br />
Yang biasanya terjadi adalah, performa buruk dikecam dan diungkit-ungkit, namun performa baik dianggap sudah biasa karena sudah selayaknya memang begitu. Saya sendiri mengalaminya, memang tidak mudah untuk memuji kebaikan-kebaikan kecil dan tidak selalu menggaris bawah pada kesalahan-kesalahan. Namun itulah kualitas yang diharapkan oleh anak buah.</p>
<h3>7. Jangan Jai&#8217;m secara berlebihan</h3>
<p>Jaga image atau ja&#8217;im memang diperlukan. Berbicara dengan bahasa indonesia formal dan mengenakan pakaian resmi memang bisa mengundang rasa hormat, yang mana itu penting untuk dipunya seorang supervisor. Namun jangan lantas keterusan. Ingatlah bahwa rasa hormat anak buah harusnya bukan sekedar dari busana dan cara bicara (tapi itu tetap penting), melainkan sejak awal sang supervisor perlu miliki pengetahuan, skill, dan mentalitas yang lebih baik atau yang memang bisa diteladani. Maka manakala di luar kantor, jangan terus terbawa kondisi formal, karena toh masih ada hal lain yang bisa datangkan hormat selain dari formalitas. Banyak sekali perihal yang bisa digali dari anak buah manakala mereka sedang tidak terkondisikan secara formal dan tidak sedang merasa ada jarak yang jauh antara mereka dan Anda sang supervisor.</p>
<h3>8. Tunjukkan bahwa Anda peduli pada anak buah sebagai manusia</h3>
<p>Dalam bisnis yang kian kompetitif seperti sekarang ini, bersikap tegas dan selalu bercara pandang &#8220;ini bisnis, jangan main-main&#8221; mudah sekali untuk dilakukan. Yang lebih sulit adalah menyeimbangkannya dengan cara pandang bahwa anak buah bagaimanapun juga manusia; mereka punya kebutuhan untuk dihargai, dimengerti kebutuhan dan emosinya, serta diperhatikan. Penelitian yang dilakukan oleh Gallup menunjukkan bahwa bagaimana sikap dan perasaan sang atasan terhadap anak buah memberi dampak positif yang besar pada bagaimana anak buah akan bersikap dan berperforma pada pekerjaan mereka.</p>
<p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/kerjasupervisor.jpg" alt="9 Kiat Menjadi Supervisor Handal" /></p>
<p>Karyawan yang merasa dirinya diperhatikan akan merasa enggan untuk meninggalkan tanggung jawab, semakin kecil peluangnya mengalami kecelakaan kerja, semakin kecil kemungkinannya mengajukan komplain atau klaim, menjadi enggan untuk berbuat buruk seperti mencuri, lebih susah untuk berhenti, dan tentunya akan lebih berpeluang bicara baik tentang supervisor mereka ke rekanan, teman, dan keluarga.<br />
Bentuk konkrit yang menunjukkan Anda peduli semisal adalah:</p>
<ul>
<li> Mengetahui siapa anak buah Anda di luar pekerjaan; keluarganya, hobinya, anaknya sekarang berapa, dan apa-apa yang tidak relevan dengan urusan pekerjaan.</li>
<li> Menanyakan bagaimana kabar anak buah Anda, misal ketika tampak sakit, bingung, sangat bergembira atau emosi intens lainnya.</li>
<li> Manakala anak buah Anda tak sungkan untuk menanyakan informasi yang tak terkait kerja; misal tentang tempat rekreasi yang cocok untuk keluarga, tempat rental kendaraan yang bagus dan murah, dsb.</li>
<li> Menunjukkan ketertarikan pada karir profesional anak buah Anda</li>
<li> Membantu anak buah Anda memecahkan masalah terkait pekerjaan</li>
</ul>
<h3>9. Teladankan sikap sopan dan menghormati</h3>
<p>Di tengah lingkungan kerja yang sedemikian padat urusan, karyawan bisa tenggelam dalam pekerjaan mereka dengan bertumpuk email, SMS, dan dokumen kerja. Terkadang itu semua bisa membuat seseorang lupa untuk menanggapi dengan cara-cara yang baik hingga akhirnya menimbulkan perasaan tak nyaman di pihak lain. Hal ini semisal saja:</p>
<ul>
<li> Tidak membalas panggilan telepon, email, atau SMS. Ini membuat pihak lain jadi geregetan, utamanya untuk urusan yang mendesak.</li>
<li> Tidak memberitahu bahwa Anda sudah benar-benar membaca pesan email yang telah terkirim atau apakah yang sudah dikirimkan itu memang betul-betul sesuai dengan apa yang diinginkan.</li>
<li> Malas berucap &#8220;Minta tolong&#8221; dan &#8220;Terima kasih&#8221;</li>
<li> Hadir rapat terlambat</li>
</ul>
<p>Dan kiat terakhir ini lah yang secara umum perlu dijadikan pegangan: jadilah teladan, dalam perihal sekecil apapun.</p>
<div class="shr-publisher-1314"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' data-shr_layout='button_count' data-shr_showfaces='false' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2F9-kiat-menjadi-supervisor-handal%2F' data-shr_title='9+Kiat+Menjadi+Supervisor+Handal'></a><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2F9-kiat-menjadi-supervisor-handal%2F'></a><a class='shareaholic-googleplusone' data-shr_size='medium' data-shr_count='true' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2F9-kiat-menjadi-supervisor-handal%2F' data-shr_title='9+Kiat+Menjadi+Supervisor+Handal'></a><a class='shareaholic-tweetbutton' data-shr_count='horizontal' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2F9-kiat-menjadi-supervisor-handal%2F' data-shr_title='9+Kiat+Menjadi+Supervisor+Handal'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><img src="http://akhmadguntar.com/?ak_action=api_record_view&id=1314&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akhmadguntar.com/9-kiat-menjadi-supervisor-handal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Work Less, Live More: Mencapai Semi Pensiun Sejak Dini</title>
		<link>http://akhmadguntar.com/work-less-live-more-mencapai-semi-pensiun-sejak-dini/</link>
		<comments>http://akhmadguntar.com/work-less-live-more-mencapai-semi-pensiun-sejak-dini/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 05:30:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Guntar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manajemen Karir]]></category>
		<category><![CDATA[karir]]></category>
		<category><![CDATA[karyawan]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen karir]]></category>
		<category><![CDATA[manajer]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan karir]]></category>
		<category><![CDATA[pensiun]]></category>
		<category><![CDATA[sukses karir]]></category>
		<category><![CDATA[supervisor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akhmadguntar.com/?p=1232</guid>
		<description><![CDATA[Work Less, Live more adalah buku panduan &#8220;how-to&#8221; yang ditulis oleh Bob Clyatt terkait bagaimana cara sampai pada kondisi semi-pensiun di kehidupan Anda. Meskipun buku ini memberikan penekanan yang besar pada pengaturan finansial pribadi dan urusan investasi, namun perihal menariknya adalah terkait filosofi bagaimana hidup semi-pensiun. Ini bukan hanya perkara finansial, namun juga bagaimana menjaga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><a href="http://www.amazon.com/Work-Less-Live-More-Retire/dp/1413302009"><img class="alignright" src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/4174REZ2RCL_BO2204203200_PIsitb-sti.jpg" alt="Work Less, Live More:  Mencapai Semi Pensiun Sejak Dini" width="240" height="240" />Work Less, Live more</a> adalah buku panduan &#8220;how-to&#8221; yang ditulis oleh Bob Clyatt terkait bagaimana cara sampai pada kondisi semi-pensiun di kehidupan Anda. Meskipun buku ini memberikan penekanan yang besar pada pengaturan finansial pribadi dan urusan investasi, namun perihal menariknya adalah terkait filosofi bagaimana hidup semi-pensiun. Ini bukan hanya perkara finansial, namun juga bagaimana menjaga kesehatan psikologis selama masa transasi dan hidup sepenuh-penuhnya di masa pensiun.</p>
<p>Semi Retire atau semi pensiun adalah kondisi bekerja paruh waktu dengan alasan usia atau kesehatan. Namun kemudian gagasan semi pensiun berkembang untuk orang-orang yang tidak merasa puas dengan pekerjaan mereka dalam hal rutinitas atau apapun yang memicu ketidakbetahan. Semi pensiun dianggap merupakan cara untuk lakukan transisi dari full time kerja dan full time pensiun. Dengan semi pensiun, seseorang akan punya waktu untuk lakukan perpindahan gigi dari atmosfer kerja ke atmosfer pensiun.  Tabiat part time work dari semi pensiun dimaksudkan untuk beri kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan ketertarikannya di luar kerja. Dengan demikian, ketika yang besangkutan sudah betul -betul pensiun, dia telah memiliki  kesiapan emosi yang cukup.<br />
<span id="more-1232"></span></p>
<p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/retire_22.jpg" alt="Work Less, Live More:  Mencapai Semi Pensiun Sejak Dini" width="500" height="332" /><br />
Dalam bukunya, Clyat mengawali dengan menyatakan bahwa untuk mencapai kondisi semi pensiun, sejak awal kondisi atau motif yang mendasari harus dibikin jelas terlebih dahulu. Dan alasan ini harus yg bersifat compeling atau betul-betul membuat kepengen. Implikasinya, bila Anda memang sudah suka dengan pekerjaan yg sekarang ini dijalani, maka ya sudah, buat apa berhenti?  Sudah suka, dapet duit lagi, lha ngapain berhenti.</p>
<p>Jika bermaksud mengambil jalur semi-pensiun, harusnya itu didasari oleh ketidakpuasan dengan kondisi yg dialami sekarang, dan juga keinginan untuk mengimplentasikan rencana terkait pemanfaatan waktu Anda di masa depan.</p>
<p>Di buku ini, Clyatt amat menekankan tentang hidup hemat. Begitu sudah ada gambaran tentang apa-apa yang dimau, maka berikutnya adalah spend less than you earn. Ini artinya berusaha keras untuk mendapat pemasukan lebih besar dan juga berfokus untuk bisa hidup hemat dalam pengeluarannya. Targetnya adalah untuk memaksimalkan nilai rentang antara pemasukan dan pengeluaran.</p>
<p>Salah satunya caranya adalah dengan mengoptimalkan ikhtiar investasi. Sementara itu, banyak orang merasa tertekan secara berlebihan terkait investasi. Clyatt mengatakan sebenarnya mudah saja manakala prinsip-prinsip dasar dituruti: Invest lah di banyak ranah berbeda, hindari biaya secara cerdas, dan jangan melakukan micromanagement terhadapnya.</p>
<p>Berikutnya, gagasan yang disampikan adalah terkait &#8220;Lakukan Apa Saja yang Anda Mau, Yang Penting Lakukan Sesuatu&#8221;. Banyak orang yang begitu rampung melepas anak mereka berumah tangga,  mereka rasakan mere punya lebih banyak waktu &#8216;luang&#8217; ketimbang apa-apa yg mereka rasa bisa lakukan. Padahal pensiun itu bukan lantas berarti menganggur dan miliki waktu luang yang berlimpah. Maka Clyatt mengatakan bahwa kunci untuk kehidupan semi pensiun yang sukses adalah dengan mengisi jam-jam pribadi dengan beragam aktivitas yang mengaktifkan pikiran, emosi dan tubuh.</p>
<p>Dalam semi retirement, aspek Live More adalah penting. Maka perlu dperhatikan perangkap psikologis yang bisa menjeba seseorang dalam kehidupan semi pensiunnya. Semisal saja, Clyatt meyebut rasa bersalah, kebosanan, kepanikan dan khawatir dan ego sebagai emosi yang perlu diwaspadai. Di bukunya ini dia juga memberikan beberapa saran untuk mengatasinya. Kebanyakan berkisar pada penekanan bahwa bila apa yang diinginkan adalah kebebasan untuk memilih apa yang dilakukan dengan hidup Anda, maka ya sudah, lakukan saja apa-apa yang Anda inginkan.  Miliki tubuh dan pikiran yang sehat, bangunlah hubungan yang baik dengan orang lain, terlibatlah dalam aktivitas yang bermakna. Jangan khawatirkan masa lalu; hiduplah di masa sekarang dan lihat apa-apa yang bisa Anda lakukan di masa depan.</p>
<p>Banyak orang yang berpindah dari kehidupan kerja full time di kantor menuju full time pensiun merasa kesulitan beradaptasi. Biasanya karena mereka merasa kehidupan mereka tidak lagi terstruktur sebagaimana biasa. Banyak yang lantas merasa kebosanan dengan rutinitas, ada juga yang sampai mengalami depresi akibat merasa diri tak menuju ke mana mana. Maka semi pensiun menawarkan suatu pengalaman yang mengaktifkan pikiran, fisik dan perasaan, yang tanpa kemudian terbebani keharusan untuk menghasilkan uang.</p>
<p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/Stivers-9-10-07-work-retire.gif" alt="Work Less, Live More:  Mencapai Semi Pensiun Sejak Dini" width="493" height="376" /></p>
<div class="shr-publisher-1232"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' data-shr_layout='button_count' data-shr_showfaces='false' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2Fwork-less-live-more-mencapai-semi-pensiun-sejak-dini%2F' data-shr_title='Work+Less%2C+Live+More%3A+Mencapai+Semi+Pensiun+Sejak+Dini'></a><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2Fwork-less-live-more-mencapai-semi-pensiun-sejak-dini%2F'></a><a class='shareaholic-googleplusone' data-shr_size='medium' data-shr_count='true' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2Fwork-less-live-more-mencapai-semi-pensiun-sejak-dini%2F' data-shr_title='Work+Less%2C+Live+More%3A+Mencapai+Semi+Pensiun+Sejak+Dini'></a><a class='shareaholic-tweetbutton' data-shr_count='horizontal' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2Fwork-less-live-more-mencapai-semi-pensiun-sejak-dini%2F' data-shr_title='Work+Less%2C+Live+More%3A+Mencapai+Semi+Pensiun+Sejak+Dini'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><img src="http://akhmadguntar.com/?ak_action=api_record_view&id=1232&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akhmadguntar.com/work-less-live-more-mencapai-semi-pensiun-sejak-dini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kiat Mencari Kerja Sambilan (Part-Time)</title>
		<link>http://akhmadguntar.com/kiat-mencari-kerja-sambilan-part-time/</link>
		<comments>http://akhmadguntar.com/kiat-mencari-kerja-sambilan-part-time/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 05:35:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Guntar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manajemen Karir]]></category>
		<category><![CDATA[karir]]></category>
		<category><![CDATA[kerja sambilan]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen karir]]></category>
		<category><![CDATA[part time]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akhmadguntar.com/?p=1205</guid>
		<description><![CDATA[Jika Anda adalah ibu rumah tangga, mungkin sempat terpikir untuk bisa bekerja kembali tanpa harus mengorbankan urusan anak dan rumah tangga. Jika Anda sudah bekerja, mungkin Anda pernah terpikir untuk bisa mencari penghasilan tambahan di luar waktu kerja utama. Kita akan membahas tentang kerjaan part-time yang terbuka baik untuk remaja, mahasiswa, ibu rumah tangga, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/part-time-jobs_4-22-08.jpg" alt="Kiat Mencari Kerja Sambilan (Part-Time)" width="500" height="375" /><br />
Jika Anda adalah ibu rumah tangga, mungkin sempat terpikir untuk bisa bekerja kembali tanpa harus mengorbankan urusan anak dan rumah tangga. Jika Anda sudah bekerja, mungkin Anda pernah terpikir untuk bisa mencari penghasilan tambahan di luar waktu kerja utama. Kita akan membahas tentang kerjaan part-time yang terbuka baik untuk remaja, mahasiswa, ibu rumah tangga, dan siapapun yang bermaksud mencari  uang tambahan. Pemberi kerja malah ada yang lebih menyukai pekerja part-time karena dengan begitu mereka tidak perlu memberi benefit semacam asuransi kesehatan apalagi tunjangan pensiun.</p>
<p>Menurut saya, berikut ini adalah yang perlu Anda perhatikan dalam mencari kerjaan sambilan atau part time:<br />
<span id="more-1205"></span></p>
<h3>Cermat Dalam Mengambil Peluang</h3>
<p>Banyak perusahaan/pemberi kerja di Indonesia yang membuka lowongan kerja part time namun ternyata beban kerjanya full time. Indikasinya bahkan terkadang bisa langsung tampak sejak di lowongan yang mereka buat:<em> bisa bekerja dalam kondisi tertekan; bersedia bekerja over time</em>. Entah bagaimana dengan Anda, namun bagi saya itu bukanlah peluang yang menarik untuk dijadikan sambilan.</p>
<p>Sebuah pekerjaan tidak bisa disebut part-time hanya karena Anda tidak harus berada di kantor setiap harinya. Itu sama sekali tidak menggambarkan beban kerja dan juga investasi energi dan kompetensi yang dibutuhkan untuk merampungkan kerja yang diminta.</p>
<p>Apalagi jika sampai ada peluang yang sangat besar menggiurkan dengan janji kerja yang sebegitu ringan dan terkesan amat mudah untuk dilakukan. Mencetak uang sementara Anda tidur, XX juta dalam seminggu/sehari, atau apalah pokoknya itu. Jika hasilnya memang betul seperti yang dikatakan, maka pasti itu tidak dia yang bersangkutan capai dengan kerja ala sambilan, setidaknya pada awalnya hingga beberapa bulan/tahun.</p>
<p>Yang namanya sambilan ya itu berarti kerjaan yang bisa disambi dalam mengerjakannya, yakni sembari kita menyeriusi kerjaan utama kita. Target yang kita cari adalah target hasil, dengan alokasi dan durasi yang kita punya kewenangan atasnya.</p>
<h3>Gali Peluang Dari Teman &amp; Rekanan</h3>
<p>Ambil Peluang Dari siapapun yang pernah merasakan untung dan manfaat dari hasil kerja dan kontribusi Anda. Maka tentu menjadi amat penting bagi kita untuk senantiasa membangun reputasi baik terhadap siapapun yang pernah kita berinteraksi dengannya.</p>
<p>Maka tak salah jika Anda tanyakan pada pemberi kerja Anda sebelumnya. Bila Anda telah bubuhkan reputasi dan prestasi bagus di tempat kerja lama Anda, maka besar kemungkinan Anda akan tetap diterima meskipun untuk kerjaan part-time.</p>
<p>Jangan lupa, minimal Anda perlu dapatkan rekomendasi dari rekan kerja lama atau mantan supervisor Anda, sekalian informasi kalau-kalau ada peluang bagus yang cocok buat Anda. Ini penting sekali agar Anda bisa mengetahui adanya peluang yang tak terpublikasikan atau tak direncanakan oleh pihak perusahaan. Misal saja: bisa jadi dari rekanan Anda akan mendapat peluang kerja dari perusahaan yang sebenarnya membutuhkan tenaga kerja namun tidak memiliki cukup anggaran untuk menggaji karyawan, dan lantas tidak terpikir untuk merekruit pekerja sambilan.</p>
<p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/cwln354l.jpg" alt="Kiat Mencari Kerja Sambilan (Part-Time)" /></p>
<h3>Jangan Jauh-Jauh dari Kompetensi dan Hobi Anda</h3>
<p>Ketahui Betul Apa-Apa yang Bisa Anda Tawarkan. Pahami betul kompetensi Anda dan apa-apa yang bisa Anda kontribusikan dalam bentuk skill serta pengetahuan. Jangan ambil seluruh tawaran di depan mata tanpa terlebih dahulu membuat kriteria. Karena setidaknya kerjaan sambilan Anda dipilih dari dua pertimbangan:</p>
<ol>
<li> Bahwa itu sesuai dengan kompetensi inti Anda</li>
<li> Bahwa itu sesuai dengan hobi/kesenangan Anda</li>
</ol>
<p>Kerja part-time jangan malah jadi beban. Kecuali Anda belum benar-benar temukan kompetensi inti Anda, maka jangan ambil pekerjaan yang benar-benar asing bagi Anda, yang membuat Anda harus belajar hampir dari nol untuknya. Jangan sampai kerjaan sambilan membuat Anda menjadi tak produktif pada kerja utama Anda.</p>
<p>Kerja part time idealnya dibangun dari kompetensi inti atau apa-apa yang Anda sudah bagus di sana. Memang akan ada kompetensi baru yang mau tak mau harus dilatih. Tak mengapa, asal itu masih dibangun dari akar kompetensi yg Anda punya. Jadi jika Anda sudah terbiasa programming, maka ambil saja kerja part-time programming dengan produk yang berbeda dari yang Anda kerjakan sebagai kerjaan utama.  Jika kerja utama adalah menulis aplikasi project, maka sambilan Anda bisa berupa menulis kode untuk plugin atau desain interface aplikasi yang bentuk output kerjanya beda namun kompetensi nya sama. Jika Anda pandai menulis, tak mengapa Anda mengambil peluang kerja sebagai penginput data online. Biarpun misal masih gagap dengan teknologi, awalnya masih harus mempelajari sistem semacam <a href="http://www.odesk.com/w/">odesk</a> atau lainnya. Tak mengapa, toh inti kerjanya adalah menulis.</p>
<p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/f-Part-Time-Job-6218.jpg" alt="Kiat Mencari Kerja Sambilan (Part-Time)" width="500" height="400" /></p>
<p>Sehingga dengan demikian, jika memang ada aspek pekerjaan yang benar-benar Anda tak suka atau sangat tak produktif di sana, jangan ragu untuk mendelegasikan. Jangan ragu untuk berkolaborasi dengan pihak lain. Jangan habiskan energi Anda untuk membangun apa-apa yang bukan aspek terkuat Anda. Dan jangan lupa, meskipun ini kerja sambilan, namun adalah penting sekali bagi Anda untuk mempertunjukkan reputasi dan portofolio Anda.</p>
<p>Karena yang penting lagi dari kerjaan sambilan ini adalah bahwa jika Anda bisa membangun kerja murni dari dasar hobi, maka kerja part-time akan jadi hiburan dan refreshing yang menyenangkan buat Anda. Dan siapa tahu itu malah kemudian menjadi cikal bakal bisnis pribadi Anda suatu saat nanti.</p>
<div class="shr-publisher-1205"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' data-shr_layout='button_count' data-shr_showfaces='false' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2Fkiat-mencari-kerja-sambilan-part-time%2F' data-shr_title='Kiat+Mencari+Kerja+Sambilan+%28Part-Time%29'></a><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2Fkiat-mencari-kerja-sambilan-part-time%2F'></a><a class='shareaholic-googleplusone' data-shr_size='medium' data-shr_count='true' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2Fkiat-mencari-kerja-sambilan-part-time%2F' data-shr_title='Kiat+Mencari+Kerja+Sambilan+%28Part-Time%29'></a><a class='shareaholic-tweetbutton' data-shr_count='horizontal' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2Fkiat-mencari-kerja-sambilan-part-time%2F' data-shr_title='Kiat+Mencari+Kerja+Sambilan+%28Part-Time%29'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><img src="http://akhmadguntar.com/?ak_action=api_record_view&id=1205&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akhmadguntar.com/kiat-mencari-kerja-sambilan-part-time/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Cara Berhenti Kerja (Resign) yang Baik</title>
		<link>http://akhmadguntar.com/bagaimana-cara-berhenti-kerja-resign-yang-baik/</link>
		<comments>http://akhmadguntar.com/bagaimana-cara-berhenti-kerja-resign-yang-baik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2009 22:36:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Guntar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manajemen Karir]]></category>
		<category><![CDATA[karir]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen karir]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[resign]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akhmadguntar.com/?p=1042</guid>
		<description><![CDATA[Jika Anda telah sungguh2 yakin bahwa resign adalah keputusan yang terbaik bagi Anda, maka penting sekali bagi Anda untuk menunjukkan cara-cara yang baik, santun dan patut. Berikut ini adalah apa-apa yang baik untuk Anda lakukan tatkala hendak resign. Berikanlah pemberitahuan sejak dini. Kabar-kabar yang lumrah tu antara dua sampai empat minggu. Tapi mengingat setiap perusahaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/eng_gbrown01_BM_Ver_825892g.jpg" alt="Bagaimana Cara Berhenti Kerja (Resign) yang Baik" width="490" height="327" /><br />
Jika Anda telah sungguh<sup>2</sup> yakin bahwa resign adalah keputusan yang terbaik bagi Anda, maka penting sekali bagi Anda untuk menunjukkan cara-cara yang baik, santun dan patut. Berikut ini adalah apa-apa yang baik untuk Anda lakukan tatkala hendak resign.</p>
<p><strong>Berikanlah pemberitahuan sejak dini. </strong>Kabar-kabar yang lumrah tu antara dua sampai empat minggu. Tapi mengingat setiap perusahaan bisa punya aturan berbeda, maka silahkan cek panduan karyawan yang ada.<br />
<span id="more-1042"></span><br />
Beritahu dulu supervisor Anda. <strong>Ikuti rantai komando yang ada di perusahaan Anda. </strong>Manakala Anda keburu bilang ke rekan kerja dan lalu mereka bicara ke mana-mana, bisa terancam reputasi Anda. Jangan munculkan deJikapun Anda bermaksud resign tapi tidak dalam waktu dekat, berhati-hatilah, jangan sembarangan bicara kepada rekan kerja. Bisa-bisa omongan Anda itu akan sampai ke pihak HRD yang akan langsung “mengadili” Anda.</p>
<p><strong>Tawarkan bantuan pada HRD Anda dalam mencari pengganti </strong>buat Anda. Sungguh, ini akan sangat membantu perusahaan. Kepergian Anda tidak akan dianggap ‘lari tanpa tanggung jawab’ oleh kalangan tertentu (biasanya sih oleh mereka yang tak tahu menahu alasan Anda pergi).</p>
<p><strong>Jangan menghilang </strong>selama minggu-minggu terakhir dari pekerjaan Anda. Tetaplah bekerja bersama tim Anda. Jangan terkesan meninggalkan beban, bahkan sejak Anda belum benar-benar keluar dari kerjaan.</p>
<p>Sebelum pergi, <strong>pastikan Anda telah miliki info contact </strong>dari supervisor kunci dan rekan kerja. Mereka semua bagaimanapun adalah relasi Anda dan berpotensi untuk bisa terus menjalin hubungan profesional yang sinergis di kemudian hari.</p>
<p>Sehingga tentu saja, apapun kondisinya, upayakan semaksimal mungkin Anda <strong>menjalin hubungan yang baik dengan perusahaan dan orang-orang yang ada di sana. </strong>Bersikaplah baik, meskipun Anda buenci banget ama bos Anda. Ingat, bos Anda nantinya bukan lagi bos Anda, melainkan bagian dari jaringan Anda. Dengan demikian, urusan dan tabiat hubungan yang Anda punya dengan bos Anda tidaklah lagi sama. Ketahuilah, orang yang breng*** di tempat kerja ternyata bisa malah-malah buaik dan nyenengin ketika di luaran. Ya memang tidak selalu sih, tapi kemungkinan itu ada. Saya sendiri menemukan bahwa mereka yang cocok dan enak untuk dijadikan teman (ngobrol, hanging out) tidak lantas jadi relasi atau partner kerja yang cocok. Demikian juga sebaliknya; mereka yang tidak Anda sukai sebagai rekan kerja bisa jadi teman hanging out yang enak. Coba aja deh.</p>
<p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/resign-1.jpg" alt="Bagaimana Cara Berhenti Kerja (Resign) yang Baik" /></p>
<p>Ungkapkan rasa terima kasih; kepada siapapun. <strong>Buatlah kesan &#8220;akhir&#8221; yang baik. </strong>Untuk supervisor, rekan kerja dan atasan Anda, akan baik sekali manakala Anda mengungkapkan terima kasih secara lesan dan juga tertulis. Dengan sesuatu yang sifatnya tangible (bukan sekedar omongan untuk diingat), rekan kerja atau atasan Anda bisa sewaktu-waktu meliriknya lagi dan kapanpun teringat tentang diri Anda, maka yang terlintas adalah yang baik-baik.</p>
<p><strong>Jangan berkata jelek tentang bos dan rekan kerja Anda</strong>, meskipun Anda pikir mereka pantas dikata-kata jelek.  Anda tak tahu lho, jangan<sup>2</sup>  suatu saat nanti Anda akan dipertemukan lagi dengan mereka dalam suatu bentuk kerja sama. Ini juga berlaku manakala Anda melakukan wawancara kerja di tempat lain. Berkata-kata buruk tentang orang di perusahaan lama Anda pastinya akan malah memperburuk citra Anda.</p>
<p><strong>Jangan rusak properti perusahaan, ataupun mencurinya.</strong> Meskipun Anda pernah diperlakukan tak pantas oleh atasan atau siapapun, tetap saja, mencuri adalah sebuah kejahatan. Bukan hanya reputasi Anda bisa rusak, harta Anda pun jadi tak barokah (bisa tiba-tiba lenyap oleh sebab apapun).</p>
<p><strong>Jangan berbohong, jangan mengkritik. </strong>Manakala Anda ditanya tentang alasan mengapa Anda pergi, sampaikan yang sebenarnya, jangan berbohong. Cepat atau lambat, supervisor Anda bisa temukan alasan yang sebenarnya. Jika demikian halnya, maka buruklah reputasi Anda nantinya. Tidak perlu sampaikan perihal terlalu detail jika memang itu bersifat sensitif.Bahkan jika Anda punya masukan buat perusahaan, tak perlu sampaikan. Jangan tinggalkan perusahaan dengan kritikan. Meskipun orang<sup>2</sup> berpikir kritik itu berguna, tetap saja kritikan itu membawa sensasi kurang menyenangkan. Sampaikan kritik manakala Anda telah benar<sup>2</sup> keluar dari perusahaan, sebisa mungkin dalam suasana yang non formal.</p>
<div class="shr-publisher-1042"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' data-shr_layout='button_count' data-shr_showfaces='false' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2Fbagaimana-cara-berhenti-kerja-resign-yang-baik%2F' data-shr_title='Bagaimana+Cara+Berhenti+Kerja+%28Resign%29+yang+Baik'></a><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2Fbagaimana-cara-berhenti-kerja-resign-yang-baik%2F'></a><a class='shareaholic-googleplusone' data-shr_size='medium' data-shr_count='true' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2Fbagaimana-cara-berhenti-kerja-resign-yang-baik%2F' data-shr_title='Bagaimana+Cara+Berhenti+Kerja+%28Resign%29+yang+Baik'></a><a class='shareaholic-tweetbutton' data-shr_count='horizontal' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2Fbagaimana-cara-berhenti-kerja-resign-yang-baik%2F' data-shr_title='Bagaimana+Cara+Berhenti+Kerja+%28Resign%29+yang+Baik'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><img src="http://akhmadguntar.com/?ak_action=api_record_view&id=1042&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akhmadguntar.com/bagaimana-cara-berhenti-kerja-resign-yang-baik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Perlu Anda Pertimbangkan Sebelum Keluar Kerja (Resign)</title>
		<link>http://akhmadguntar.com/yang-perlu-dipertimbangkan-sebelum-keluar-kerja-resign/</link>
		<comments>http://akhmadguntar.com/yang-perlu-dipertimbangkan-sebelum-keluar-kerja-resign/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 22:47:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Guntar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manajemen Karir]]></category>
		<category><![CDATA[karir]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen karir]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[resign]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akhmadguntar.com/?p=1037</guid>
		<description><![CDATA[Anda mungkin tergoda untuk berhenti dari kerja karena masalah-masalah yang ada di kantor. Resign adalah keputusan besar. Senada dengan posting kemarin, senyampang masalah yang Anda hadapi masih bisa disolusikan, maka ambil dulu penyikapan. Kebanyakan perihal yang susah untuk disolusikan adalah apa-apa yang asalnya dari luar. Sehingga secara umum, pastikan dulu bahwa masalahnya adalah di kerjaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/j04385851-main_Full.jpg" alt="Yang Perlu Anda Pertimbangkan Sebelum Keluar Kerja (Resign)" width="494" height="329" /><br />
Anda mungkin tergoda untuk berhenti dari kerja karena masalah-masalah yang ada di kantor. <em>Resign </em>adalah keputusan besar. Senada dengan posting kemarin, senyampang masalah yang Anda hadapi masih bisa disolusikan, maka ambil dulu penyikapan. Kebanyakan perihal yang susah untuk disolusikan adalah apa-apa yang asalnya dari luar. Sehingga secara umum, pastikan dulu bahwa masalahnya adalah di kerjaan dan faktor yang berada di luar kendali Anda, bukan dari diri Anda sendiri. Jangan-jangan biangnya ada di Anda dan lantas Anda menyalahkan semuanya pada kerjaan sampai-sampai Anda lalai mengevaluasi diri. Maka lakukanlah evaluasi diri yang sejujur-jujurnya.<br />
<span id="more-1037"></span><br />
Sementara untuk masalah yang datang dari luar, sedapat mungkin solusikan dulu sekuat tenaga. Jangan keburu menyerah; karena tidak menjamin di tempat lain Anda tak akan temui permasalahan serupa.</p>
<h3><strong>Tatkala Pekerjaan Anda mengganggu kehidupan berkeluarga Anda. </strong></h3>
<p>Terutama bila Anda punya tugas rangkap sebagai seorang ibu rumah tangga yang mulia. Anda harus menyiapkan sarapan dan makan siang untuk seluruh anggota keluarga? Bagaimana bila Anda meminta jadwal kerja yang lebih fleksibel, semisal saja waktu masuk yang lebih siang agar Anda bisa melakukan kerjaan rumah sebelum berangkat ke kantor. Hal ini sudah diterapkan di Indosat (Surabaya) di mana karyawan bisa memilih tiga opsi jam masuk (tentu dengan konsekuensi jam pulang).</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/ksmn1614l.jpg" alt="Yang Perlu Anda Pertimbangkan Sebelum Keluar Kerja (Resign)" width="294" height="400" /></p>
<h3><strong>Tatkala Anda dapat review performa yang buruk. </strong></h3>
<p>Okai, Anda tidak mendapatkan nilai sempurna, atau malah di bawah rata-rata. Dengan anggapan bahwa sistem reviewnya itu fair, tidakkah itu malah membantu Anda dalam menindaklanjuti mana2 yang jadi titik lemah Anda. Bayangkan saja bila tidak ada review sama sekali tapi tiba-tiba datang pemberitahuan bahwa dengan menyesal Anda harus diberhentikan atau diturunjabatan. Tapi kemudian, tahukah Anda bahwa tidak semua sistem reviewnya itu valid. Istri saya yang bekerja di salah satu perusahaan multinasional merasakan sendiri betapa perihal politis dan group interest amat mempengaruhi proses review performa. Meskipun performa kerjanya sudah di atas rata-rata (dari penilaian supervisor dan atasan langsung), Istri saya kebagian review yang buruk dari HRD yang ada di Jakarta sana karena jatah review yang bagus sudah jadi gilirannya yang lain. Jika Anda adalah karyawan yang handal, maka tatkala Anda mengancam untuk keluar (tidak disarankan), maka pasti perusahaan secara tiba2 akan memberi Anda review yang baik untuk menahan Anda agar tetap tinggal.</p>
<h3><strong>Tatkala Anda tidak akur dengan rekan kerja. </strong></h3>
<p>Baik dengan teman kerja yang sepangkat, dengan supervisor atau atasan, Anda bermasalah. Ini memang bisa jadi permasalahan yang mengganggu, apalagi bila kaitannya denga atasan Anda.</p>
<blockquote><p>Ketika orang-orang keluar dari perusahaan, seringkali bukan karena perusahannya itu sendiri, melainkan karena pimpinan mereka. &#8211; Ken Blanchard</p></blockquote>
<p>Hal ini juga pernah terjadi pada istri saya, dia punya rekan kerja yang benar2 menjengkelkan minta ampun. Saya sendiri dulu menunjukkan secara eksplisit ketidaksukaan saya pada atasan tertinggi yang punya masalah moralitas sampai-sampai saya terancam untuk dipecat dengan alasan seremeh apapun.<br />
Memang, pegawai yang berbakat bisa jadi bergabung pada perusahaan karena pimpinannya yang kharismatik, gaji yang besar, program pengembangan diri yang luar biasa atau yang lain. Tapi yang membuat dia bisa bertahan lama dan yang menentukan produktivitasnya adalah hubungan dia dengan pimpinan terdekatnya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/mban1669l.jpg" alt="Yang Perlu Anda Pertimbangkan Sebelum Keluar Kerja (Resign)" width="364" height="400" /></p>
<p>Jangan keburu keluar tanpa coba mensolusikan. Jika Anda buru-buru keluar, Anda akan jadi pihak yang kalah sejak awal. Yang jelas, sejak awal pastikan dulu bahwa bukan Anda biang masalahnya. Sedapat mungkin Anda harus usahakan Anda keluar dalam kondisi yang tidak bermusuhan dengan orang-orang yang ada di tempat kerja Anda. Ingat bahwa teman kerja, supervisor dan atasan Anda punya keluarga dan relasi yang bisa bicara apa saja tentang Anda. Dan Anda tentunya ingin mereka bicara baik to tentang Anda.</p>
<h3>Tatkala Perusahaan Anda menetapkan sebuah kebijakan yang sama sekali Anda pikir tidak bijak.</h3>
<p>Perubahan memang tidak mudah. Anda perlu mengerti betul kondisi Anda; ketidaksukaan Anda itu karena diri Anda yang memang enggan untuk berubah atau karena Ada betul-betul meyakini bahwa kebijakan itu berdampak buruk bagi perusahaan. Jika memang kasusnya adalah yang kedua, maka silahkan bicarakan dengan atasan, bawa fakta dan pertimbangan rasional.</p>
<div class="shr-publisher-1037"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' data-shr_layout='button_count' data-shr_showfaces='false' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2Fyang-perlu-dipertimbangkan-sebelum-keluar-kerja-resign%2F' data-shr_title='Yang+Perlu+Anda+Pertimbangkan+Sebelum+Keluar+Kerja+%28Resign%29'></a><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2Fyang-perlu-dipertimbangkan-sebelum-keluar-kerja-resign%2F'></a><a class='shareaholic-googleplusone' data-shr_size='medium' data-shr_count='true' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2Fyang-perlu-dipertimbangkan-sebelum-keluar-kerja-resign%2F' data-shr_title='Yang+Perlu+Anda+Pertimbangkan+Sebelum+Keluar+Kerja+%28Resign%29'></a><a class='shareaholic-tweetbutton' data-shr_count='horizontal' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2Fyang-perlu-dipertimbangkan-sebelum-keluar-kerja-resign%2F' data-shr_title='Yang+Perlu+Anda+Pertimbangkan+Sebelum+Keluar+Kerja+%28Resign%29'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><img src="http://akhmadguntar.com/?ak_action=api_record_view&id=1037&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akhmadguntar.com/yang-perlu-dipertimbangkan-sebelum-keluar-kerja-resign/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Keburu Ambil Keputusan Resign Jika Masalah Belum Disolusikan</title>
		<link>http://akhmadguntar.com/jangan-keburu-ambil-keputusan-resign-jika-masalah-belum-disolusikan/</link>
		<comments>http://akhmadguntar.com/jangan-keburu-ambil-keputusan-resign-jika-masalah-belum-disolusikan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Aug 2009 22:21:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Guntar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manajemen Karir]]></category>
		<category><![CDATA[karir]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen karir]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[resign]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akhmadguntar.com/?p=1035</guid>
		<description><![CDATA[Seperti yang saya tulis pada post kemarin, ada alasan2 yang membuat seorang karyawan dalam kondisi pantas untuk mengundurkan diri atau resign. Namun penting kita perhatikan bahwa keputusan untuk resign tidaklah boleh didasarkan atas suatu kasus yg mana kita belum disolusikan dg baik. Berikut adalah email konsultasi yg ditujukan kepada saya oleh salah seorang pembaca blog [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/overload_pic_uaue.jpg" alt="Jangan Keburu Ambil Keputusan Resign Jika Masalah Belum Disolusikan" width="496" height="328" /><br />
Seperti yang saya tulis pada post kemarin, ada alasan<sup>2</sup> yang membuat seorang karyawan dalam kondisi pantas untuk mengundurkan diri atau resign. Namun penting kita perhatikan bahwa keputusan untuk resign tidaklah boleh didasarkan atas suatu kasus yg mana kita belum disolusikan dg baik. Berikut adalah email konsultasi yg ditujukan kepada saya oleh salah seorang pembaca blog akhmadGuntar.com. Sebagian isi email saya potong untuk lebih meringkas isi. Jika Anda tidak ada waktu untuk membaca pertanyaan, inti dari kasus yg disampaikan adalah:</p>
<blockquote><p>Dalam kasus overload kerja, apakah bijak untuk mengambil keputusan resign?</p></blockquote>
<p><span id="more-1035"></span><br />
<span style="text-decoration: underline;"><strong>PERTANYAAN:</strong></span></p>
<p>Saya pernah bekerja di perusahaan XXXXX selama 7 tahun sebagai staf adminitrasi produksi dan pembelian menggunakan ijazah SMEA. Saya ditrima bekerja sebagai staf keuangan dan akuntansi di radio. Tapi cuma bertahan 3 bulan (cuman masa training aja).</p>
<p>Saya diterima kerja di perusahaan trading ekspor kerajinan. Gaji yg diterima disini memang lebih tinggi dibanding di tempat kerja yang lama, tapi saya merasa tidak enjoy dengan pekerjaan saya. Saya baru bekerja selama 6 bulan. Saya merasa stress dengan pekerjaan yang saya hadapi. Volume pekerjaan begitu menumpuk, semua diminta cepat oleh kantor pusat dan tanggung jawab yang berat. Saya bekerja di perusahaan cabang sebagai staf administrasi keuangan dan umum (itu yang tertulis dalam job disk saya..he3). Tapi dalam prakteknya, srabutan, sampai2 pekerjaan saya sendiri malah terbengkalai. Yang saya kerjakan : Buat daftar penerimaan barang, ..dst dst. Bener-bener ga bisa fokus.</p>
<p>Sebenarnya, saya akan mengutamakan pekerjaan utama saya dulu, baru bantu bagian lain. Tapi tetap tidk bisa. Lah gimana, barang tersebut keburu dikirim, jadi semua staf membantu proses QC, packing dll. Di tempat kerja ini, saya sudah bener-bener tidak semangat. Bawaannya pngin resihgn melulu. Saya merasa reward yang diberikan sudah tidak sesuai dengan tanggung jawab yang berat&#8230;he3<br />
<img class="alignright" style="margin-left: 4px; margin-right: 4px;" src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/library_left.jpg" alt="Jangan Keburu Ambil Keputusan Resign Jika Masalah Belum Disolusikan" width="160" height="376" /></p>
<ol>
<li>Bijaksana tidak melakukan resign pada saat belum mendapat pekerjaan baru? Mengingat susahnya mencari pekerjaan. Terus terang saya msih takut menyandang gelar pengangguran. Saya dulu pernah nganggur 1 bulan, rasanya sudah bosan banget.</li>
<li> Apakah saya harus bertahan di perusahaan trading ekpor tersebut? Dalam artian, baru resign setelah ada kepastian ditrima di tempat yang baru.</li>
<li> Jika saya terus bertahan di perusahaan tersebut, terus terang saya merasa kesulitan mengatur waktu untuk mengikuti tes panggilan di perusahaan2 yang saya lamar. Jadi sering bolos, jadi tidak enak sendiri&#8230;he3</li>
<li> Akhir bulan Agustus 2009, manajer saya akan cuti 3 bulan karena malahirkan. Segala tugasnya dilimpahkan saya. Termasuk ..dst. Apabila saya diterima bekerja di perusahaan lain, maka saya akan mengajukan resign. Apabila saya resign pada saat manajer saya masih cuti, maka kantor benar-benar kacau dan tidak jalan. Karena staf yang dikantor saya hanya tinggal 2 orang disainer dan 1 staf lapangan. Mereka benar-benar tidak bisa menggantikan tugas saya dan manajer saya. Apabila saya tetap resign, etis tidak Pak?  Resign dari kantor pada saat kantor membutuhkan saya. Terus terang saya benar-benar tidak enak dengan Bapak Direktur.</li>
</ol>
<p>Apa yang harus saya perbuat? Atas saran dan petunjuk dari Bapak, saya sampaikan terima kasih.</p>
<p>Wassalam</p>
<p>Ed-Dw</p>
<p>&#8230;</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">TANGGAPAN SAYA</span><br />
</strong></p>
<p>Mbak Ed-Gw yang smoga dirahmati Allah,</p>
<p>Terkait kasus mbak Ed-Gw, mari kita lihat kondisinya dalam persepsi yg <em>empowering</em></p>
<p>bahwa mbak Ed-Gw punya jobdesc yang kemana2, itu sebenarnya menguntungkan lho:</p>
<p>Pertama: Membuat mbak Ed-Gw punya potensi besar menjadi karyawan yang punya kontribusi signifikan, sedemikian rupa sehingga susah sekali untuk dapet pengganti yg sepadan. Hal ini tentu akan memberi mbak Ed-Gw semacam bargaining power yg kuat. Bargaining power ini pada gilirannya akan membuat mbak Ed-Gw jadi lebih mudah untuk meminta sesuatu kepada atasan.</p>
<p>Kedua: Membuat kompetensi, wawasan dan pengalaman mbak Ed-Gw menjadi berkembang, ini pada gilirannya akan membuat mbak Ed-Gw akan jadi lebih mudah untuk mendapatkan peluang kerja di tempat lain. Mereka yg mudah dapet kerjaan adalah mereka yg bersedia berkontribusi di luar batasan jobdesc resmi mereka. Memang, batas &#8216;kelewatan&#8217; itu ada. Tapi secara umum, apa yg membuat seorang karyawan bernilai adalah komitmen kontribusinya kepada perusahaan.</p>
<p>Dari kasus yg mbak Ed-Gw alami, saya amat menyarankan agar mbak Ed-Gw ndak keburu ambil keputusan utk berhenti. Apa yg sepertinya belum mbak Ed-Gw lakukan adalah ngobrol dg supervisor atau atasan, dan ini sangat penting utk dilakukan. Kasus overload yg mbak Ed-Gw alami amat bisa jadi juga akan dialami di tempat kerja lain, dan terus akan jadi kondisi yg berulang sampai kemudian mbak Ed-Gw belajar dari pengalaman ini.</p>
<p>Coba deh ngobrol dg atasan. Dalam banyak kasus, karyawan perempuan tu gimana2 lebih punya peluang besar untuk curhat secara efektif ke bos ketimbang karyawan laki-laki.</p>
<p>Apa yg diobrolin?</p>
<ol>
<li> Jika kiranya bisa bertahan dg workload semacam itu,maka mbak Ed-Gw bisa minta naik gaji atau benefit apapun.</li>
<li> JIka kiranya enggan bertahan dg workload dan tak keberatan dg gaji yg diterima skr, maka mbak Ed-Gw bisa minta ke atasan tambahan karyawan administrasi baru dg mbak Ed-Gw bertindak sbg supervisor atau pengarahnya. Hal ini membawa dua keuntungan: pertama, beban mbka Ed-Gw teringankan, stres berkurang. dua, mbak Ed-Gw jadi belajar kompetensi baru.</li>
</ol>
<p>Jika ingin resign sebelum dapat kerjaan, saya pikir itu bukanlah pilihan yg baik. Jikapun risikonya adl jadi sering bolos, ya itu memang konsekuensinya. Maka skr tinggal gimana membuat agar tidak perlu sering bolos, yakni dg membangun kompetensi yg kukuh. Dan ini tentunya dilakukan dg mengoptimalkan ikhtiar dr kerjaan yg skr.</p>
<p>Saya pikir tidaklah menguntungkan manakala mbak Ed-Gw ikut tes wawancara, &#8220;Kenapa kok ingin pindah kerja?&#8221; JIka jawabannya adalah &#8220;Karena work overload&#8221; maka akan ada anggapan &#8220;Orang ini kayaknya susah diajak kerja keras deh&#8221; atau &#8220;Masalah gitu lak yo umum,sih. (dan memang iya) Masak dia nggak bisa mengkomunikasikan dg atasanya.&#8221;</p>
<p>Ada banyak hal yg perlu dipikirkan untuk berhenti kerja. Kelebihan beban kerja adalah salah satu sebabnya, tapi kasus ini bisa kok diatasi dg pengkomunikasian yg baik ke atasan.</p>
<p>Silahkan dikomunikasikan dulu ya dg atasannya <img src='http://akhmadguntar.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<div class="shr-publisher-1035"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' data-shr_layout='button_count' data-shr_showfaces='false' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2Fjangan-keburu-ambil-keputusan-resign-jika-masalah-belum-disolusikan%2F' data-shr_title='Jangan+Keburu+Ambil+Keputusan+Resign+Jika+Masalah+Belum+Disolusikan'></a><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2Fjangan-keburu-ambil-keputusan-resign-jika-masalah-belum-disolusikan%2F'></a><a class='shareaholic-googleplusone' data-shr_size='medium' data-shr_count='true' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2Fjangan-keburu-ambil-keputusan-resign-jika-masalah-belum-disolusikan%2F' data-shr_title='Jangan+Keburu+Ambil+Keputusan+Resign+Jika+Masalah+Belum+Disolusikan'></a><a class='shareaholic-tweetbutton' data-shr_count='horizontal' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2Fjangan-keburu-ambil-keputusan-resign-jika-masalah-belum-disolusikan%2F' data-shr_title='Jangan+Keburu+Ambil+Keputusan+Resign+Jika+Masalah+Belum+Disolusikan'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><img src="http://akhmadguntar.com/?ak_action=api_record_view&id=1035&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akhmadguntar.com/jangan-keburu-ambil-keputusan-resign-jika-masalah-belum-disolusikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>7 Alasan Kapan Anda Perlu Berhenti Kerja</title>
		<link>http://akhmadguntar.com/7-alasan-kapan-anda-perlu-berhenti-kerja/</link>
		<comments>http://akhmadguntar.com/7-alasan-kapan-anda-perlu-berhenti-kerja/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Aug 2009 22:30:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Guntar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manajemen Karir]]></category>
		<category><![CDATA[karir]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen karir]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[resign]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akhmadguntar.com/?p=1033</guid>
		<description><![CDATA[Meskipun banyak yang menganggap cari kerja itu tidaklah mudah-mudah amat, tapi begitu sudah dapet kerjaan, tidak berarti kita bisa betah di sana. Jika memang ada alasan yang kuat, ya memang tak ada salahnya kita berhenti kerja dan beralih ke pekerjaan yang lain. Berikut ini adalah beberapa alasan yang membuat seseorang jadi kepikir untuk berhenti kerja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/resign.jpg" alt="7 Alasan Kapan Anda Perlu Berhenti Kerja" width="432" height="248" /><br />
Meskipun banyak yang menganggap cari kerja itu tidaklah mudah-mudah amat, tapi begitu sudah dapet kerjaan, tidak berarti kita bisa betah di sana. Jika memang ada alasan yang kuat, ya memang tak ada salahnya kita berhenti kerja dan beralih ke pekerjaan yang lain. Berikut ini adalah beberapa alasan yang membuat seseorang jadi kepikir untuk berhenti kerja atau resign. Apakah Anda mengalaminya?</p>
<p><strong>1.</strong><strong> Perusahaan Anda sedang mengalami tanda-tanda kehancuran yang disebabkan karena budaya buruk</strong>: para klien dan konsumen pada menghilang, uang juga pada menghilang, ada rumor kemelut dan kebangkrutan. Selama masalahnya tidak terkait oleh budaya dan mentalitas orang2 yang ada di sana, maka Anda boleh saja tetap bertahan. Loyalitas Anda pasti akan kemudian dibayar mahal.<br />
<span id="more-1033"></span><br />
<strong>2. Hubungan Anda dengan manajer dan atasan sedemikian rusaknya hingga tak bisa diperbaiki</strong>. Yang penting, pastikan ini bukan karena kesalahan Anda; bukan karena Anda orangnya ternyata tak bisa dipercaya, sering bolos, atau berperangai jelek terhadap atasan karena sebab-sebab tak rasional dan sentimentil).</p>
<p><strong>3.</strong> <strong>Kondisi hidup Anda sudah berubah</strong>. Mungkin karena Anda baru saja menikah atau punya momongan, sementara gaji dan benefit yang Anda dapatkan tidaklah mencukupi. Anda perlu dapatkan peluang yang lebih baik untuk mensupport kebutuhan keluarga.</p>
<p><strong>4. Anda punya</strong> <strong>nilai dan budaya yang berbeda dengan perusahaan</strong>. Mungkin saja perusahaan Anda punya budaya yang egaliter, sementara Anda menginginkan ada fasilitas khusus seperti tempat parkir spesial atau ruangan khusus untuk mereka yang berprestasi atau punya pangkat. Atau mungkin perusahaan Anda sebegitu tegas garis hierarki dan senioritasnya, sementara Anda inginkan kondisi yang lebih fleksibel. Atau mungkin Anda punya nilai kejujuran dan integritas yang itu tidak tampak sama sekali di perusahaan. Ketidaksingkronan nilai diri Ada dan perusahaan tidak hanya membuat Anda sengsara, tapi juga rugi buat perusahaan.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/dbrn731l.jpg" alt="7 Alasan Kapan Anda Perlu Berhenti Kerja" width="400" height="300" /></p>
<p><strong>5. Ketika</strong> <strong>etika perusahaan Anda telah rusak</strong>. Mungkin saja perusahaan atau manajer Anda mulai berbohong tentang kualitas produk atau tentang kapan produk dikirimkan. Anda mulai menyadari bahwa perusahaan Anda mencuri informasi dari para pesaing. Apapun deh, sebaiknya jangan bertahan di perusahaan yang etiknya sudah rusak.</p>
<p><strong>6. </strong><strong>Tingkat stres kerja Anda sedemikian tingginya</strong> sampai-sampai kesehatan fisik, pikiran dan spiritual Anda terganggu. Tambah lagi bila ternyata hubungan Anda dengan keluarga jadi turut terganggu. Waspadailah tanda-tanda  kepayahan total. Jika itu tak bisa diatasi, berarti sudah saatnya Anda berganti pekerjaan.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/mba0080l.jpg" alt="7 Alasan Kapan Anda Perlu Berhenti Kerja" width="363" height="400" /></p>
<p><strong>7.</strong> <strong>Anda sudah bertumbuh sedemikian rupa dan butuh tantangan baru</strong>. Saat pertama kali masuk, And amasih jadi seorang amatir. Seiring dengan pembelajaran yang dialami, Anda selalu mencari tantangan dan peluang pengembangan diri. Tentu saja, untuk itu Anda berharap adanya reward. Memang sih, promosi kecil itu ada, kenaikan gaji juga ada, tapi kecil banget, dan Anda benar-benar tak melihat ada tangga karir yang bisa didaki. Sehingga Anda mulai rasakan ketidakpuasan; ibarat sedang mengarungi sebuah jalan yang buntu. Jika demikian halnya, jangan-jangan ini merupakan pertanda bagi Anda untuk berpindah kerja.</p>
<div class="shr-publisher-1033"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' data-shr_layout='button_count' data-shr_showfaces='false' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2F7-alasan-kapan-anda-perlu-berhenti-kerja%2F' data-shr_title='7+Alasan+Kapan+Anda+Perlu+Berhenti+Kerja'></a><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2F7-alasan-kapan-anda-perlu-berhenti-kerja%2F'></a><a class='shareaholic-googleplusone' data-shr_size='medium' data-shr_count='true' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2F7-alasan-kapan-anda-perlu-berhenti-kerja%2F' data-shr_title='7+Alasan+Kapan+Anda+Perlu+Berhenti+Kerja'></a><a class='shareaholic-tweetbutton' data-shr_count='horizontal' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2F7-alasan-kapan-anda-perlu-berhenti-kerja%2F' data-shr_title='7+Alasan+Kapan+Anda+Perlu+Berhenti+Kerja'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><img src="http://akhmadguntar.com/?ak_action=api_record_view&id=1033&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akhmadguntar.com/7-alasan-kapan-anda-perlu-berhenti-kerja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesalahan yang Perlu Dihindari pada saat Tes Wawancara Kerja</title>
		<link>http://akhmadguntar.com/kesalahan-pada-tes-wawancara-kerja/</link>
		<comments>http://akhmadguntar.com/kesalahan-pada-tes-wawancara-kerja/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2009 21:00:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Guntar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manajemen Karir]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa tubuh]]></category>
		<category><![CDATA[karir]]></category>
		<category><![CDATA[karyawan]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen karir]]></category>
		<category><![CDATA[manajer]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[wawancara kerja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akhmadguntar.com/?p=929</guid>
		<description><![CDATA[Dalam tulisan saya terdahulu, telah saya sampaikan tujuh kesalahan yang sering terjadi pada tes wawancara. Maka berikut ini adalah tambahannya: 8. Menjawab pertanyaan dengan sekedar &#8220;ya&#8221; atau &#8220;tidak&#8221; Sang pewawancara kan ingin mengenal Anda dengan baik, dan itu tak mungkin terjadi manakala Anda miskin omongan dan enggan berinisiatif menjabarkan jawaban Anda. Pastikan Anda melengkapi jawaban [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/shutterstock_2558069_crop380w.jpg" alt="Kesalahan yang Perlu Dihindari pada saat Tes Wawancara Kerja" width="450" height="295" /></p>
<p>Dalam tulisan saya terdahulu, telah saya sampaikan <a href="http://akhmadguntar.com/7-kesalahan-yang-harus-dihindari-di-tes-wawancara-kerja/">tujuh kesalahan yang sering terjadi pada tes wawancara</a>. Maka berikut ini adalah tambahannya:</p>
<h3>8. Menjawab pertanyaan dengan sekedar &#8220;ya&#8221; atau &#8220;tidak&#8221;</h3>
<p>Sang pewawancara kan ingin mengenal Anda dengan baik, dan itu tak mungkin terjadi manakala Anda miskin omongan dan enggan berinisiatif menjabarkan jawaban Anda. Pastikan Anda melengkapi jawaban Anda dengan cerita dan contoh konkrit.</p>
<p><span id="more-929"></span></p>
<h3>9. Menghindari kontak mata.</h3>
<p>Bila Anda menghindari kontak mata, Anda tak akan bisa membangun hubungan personal dengan pewawancara Anda. Kontak mata bisa membuat Anda tampak hormat dan perhatian. Tapi seperti yang telah saya sampaikan di tulisan sebelumnya, kontak mata memang tidak perlu dilakukan secara berlebihan.</p>
<h3>10. Berbicara terlalu cepat</h3>
<p>Ini khususnya bagi Anda para orang visual. Anda memang punya banyak informasi penting yang perlu disampaikan, tapi bukan lantas Anda harus berbicara sedemikian cepatnya sampai-sampai si pewawancara tak paham dengan omongan Anda. Setiap kali pertanyaan sedang diajukan, selalu sempatkan diri untuk menarik napas dalam-dalam, tahan sebentar, lalu lepaskan. Di sini Anda menggunakan pernafasan perut, bukan dada. Latihlah omongan Anda bersama teman untuk mengetahui kecepatan yang ideal untuk berbicara.</p>
<p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/tapping.jpg" alt="Kesalahan yang Perlu Dihindari pada saat Tes Wawancara Kerja" width="494" height="396" /></p>
<h3>11. Tampak gelisah dan memperturutkannya</h3>
<p>Orang yang gelisah biasanya menampakkan sikap tubuh yang buruk, misal saja memainkan gelang atau arloji di tangan, berkali-kali menggeser posisi pantat di tempat duduk, atau menggerak-gerakkan kaki seperti sedang bekerja dengan mesin jahit manual. Semua itu bisa membuat Anda tidak tampak profesional. Dan bila Anda tak kelihatan profesional, Anda tidak akan diterima.</p>
<h3>12. Tidak menggali informasi terkait perusahaan</h3>
<p>Manakala terhadap pertanyaan &#8220;Apa yang Anda ketahui tentang perusahaan ini?&#8221; seseorang menjawab dengan &#8220;Mmm&#8230;.tidak banyak.&#8221; maka besar kemungkinan dia tak akan diterima. Tampaknya seseorang ini tidak cukup tertarik pada perusahaan ybs sampai<sup>2</sup> dia malas melakukan riset terhadapnya, mencari berita<sup>2</sup> di media terkait dengannya. Sama juga, jangan sampai kemudian ketika di akhir si pewancara menanyakan apakah ada yang hendak ditanyakan, lalu ditanggapi dengan &#8220;Anu, kalau boleh tahu, perusahaan ini sebenarnya bergerak di bidang apa, ya?&#8221;</p>
<p><img src="http://i575.photobucket.com/albums/ss199/akhmadguntar/mba0591l.jpg" alt="" /></p>
<h3>12. Berbohong</h3>
<p>Jangan berbohong atau menambah-nambahi bumbu atas pengalaman kerja atau sejarah akademik Anda. Sang pewawancara akan memeriksa itu semua. Bila ketahuan telah berbohong, Anda tak akan diterima. Bila sudah kadung diterima dan lalu ketahuan bahwa Anda berbohong, Anda akan dipecat.</p>
<h3>13. Tidak menjawab pertanyaan</h3>
<p>Ada kalanya seseorang tak bisa menjawab pertanyaan si pewawancara, lalu menyampaikan apa-apa yang tak ada hubungannya dengan pertanyaan. Jangan coba mengelak dari pertanyaan, si pewawancara pasti mengetahuinya. Yang parah adalah manakala seseorang gagal memahami maksud dari pertanyaan dan meracau tak karuan.</p>
<h3>14. Bicara terlalu banyak</h3>
<p>Sang pewawancara bukanlah sobat Anda, dan juga bukan therapist yang bermaksud untuk menyembuhkan penyakit Anda. Apa yang dia ingin tahu adalah kualitas dan kompetensi yang membuat Anda layak diterima. Dia tak ingin tahu tentang masalah dan urusan<sup>2</sup> pribadi Anda.</p>
<h3>15. Gagal &#8220;menjual diri&#8221; dalam menjawab pertanyaan</h3>
<p>Anda harus menjawab pertanyaan dalam bentuk-bentuk yang itu bisa mengungkap kualitas diri Anda yang itu relevan dengan kebutuhan perusahaan. Bila misal Anda ditanya bagaimana penilaian sobat baik Anda terhadap diri Anda, maka alih-alih menjawab &#8220;Mereka pikir saya ini orangnya asyik dan gaul&#8221;, maka katakan &#8220;Mereka pikir saya ini punya prinsip, loyal dan bisa diandalkan. Para sobat saya selalu bisa percaya pada diri saya.&#8221;</p>
<h3>16. Lalai mengucapkan terima kasih di akhir sesi wawancara</h3>
<p>Di dunia bisnis, sikap ramah itu berbalas dan dikenang. Sang pewawancara akan menghargai manakala Anda bersikap ramah dan hormat.</p>
<h3>17. Melupakan nama si pewawancara</h3>
<p>Baik lupa pada nama-nama sang pewawancara atau menyebutnya dengan salah berkali-kali bisa membuat kesan sang pewawancara pada Anda jadi kurang baik.</p>
<h3>18. Berbahasa secara tidak benar</h3>
<p>Entah menggunakan bahasa gaul atau menggunakan bahasa indonesia secara salah akan membuat Anda terkesan tak profesional. Tak perlu juga mencampuradukkan bahasa indonesia dengan bahasa inggris untuk kata dan makna yang jelas-jelas telah terwakilkan dengan baik dalam bahasa indonesia, apalagi kalau sampai Anda melafalkannya dengan salah.</p>
<div class="shr-publisher-929"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' data-shr_layout='button_count' data-shr_showfaces='false' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2Fkesalahan-pada-tes-wawancara-kerja%2F' data-shr_title='Kesalahan+yang+Perlu+Dihindari+pada+saat+Tes+Wawancara+Kerja'></a><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2Fkesalahan-pada-tes-wawancara-kerja%2F'></a><a class='shareaholic-googleplusone' data-shr_size='medium' data-shr_count='true' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2Fkesalahan-pada-tes-wawancara-kerja%2F' data-shr_title='Kesalahan+yang+Perlu+Dihindari+pada+saat+Tes+Wawancara+Kerja'></a><a class='shareaholic-tweetbutton' data-shr_count='horizontal' data-shr_href='http%3A%2F%2Fakhmadguntar.com%2Fkesalahan-pada-tes-wawancara-kerja%2F' data-shr_title='Kesalahan+yang+Perlu+Dihindari+pada+saat+Tes+Wawancara+Kerja'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><img src="http://akhmadguntar.com/?ak_action=api_record_view&id=929&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akhmadguntar.com/kesalahan-pada-tes-wawancara-kerja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Served from: akhmadguntar.com @ 2012-05-21 22:43:04 -->
