Tujuan dan Esensi Ospek Pengkaderan Massal

Pemikiran, Wawasan 2 Comments »

Di post sebelumnya telah saya sampaikan bahwa bagaimanapun mahasiwa baru perlu dberi pengondisian keras sesuai dg definisi yg telah saya berikan. Namun ospek dengan model semi militeristik ini “hanya” akan efektif bila dijalankan oleh pihak militer itu sendiri. Nah, lantas apakah itu artinya mahasiwa tidak mampu atau tidak sebaiknya menjadi pelaksana ospek? Tidak juga, karena yg penting tentang ospek bukanlah pilihan metodologinya (apakah pake perploncoan atau yang lain), melainkan tujuan dan esensi yang diupayakan darinya.

Ospek - ajangnya ngemong mahasiswa baru

Ketika mahasiswa menjadi pelaksana ospek, apa yang perlu kita perhatikan di sini adalah untuk menempatkan pengkaderan massal (Ospek) dalam porsi yang sewajarnya. Kita perlu ingat bahwa selain ospek masih ada event pengembangan diri lain seperti Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa, Achievement Motivation Training atau yang lain. Ospek tidak perlu mengambil tujuan belajar yang terlalu muluk.

Membentuk mahasiswa profesional bermental pemimpin yang memiliki sikap kritis, kreatif, inisiatif, proaktif, berpikiran luas, berintegritas pribadi yang dilandasi kejujuran, kebenaran, dan keadilan.

Memang tujuan yang bagus, tapi tidakkah itu berlebihan? Bahkan training atau workshop pengembangan diri profesional saja berhati-hati dalam membuat ukuran sukses para lulusannya. Sekedar maksud baik saja belum cukup, kita juga perlu realistis dan miliki kompetensi yang cukup untuk mewujudkan maksud baik itu.

Baca lanjutan post »

Tinjauan Kritis Ospek Perploncoan Mahasiswa Baru

Pemikiran 15 Comments »

Bulan ini adalah saat di mana para mahasiswa baru di banyak kampus mulai merinding hebat: Ospek sudah dekat, GAWWAT. Orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek) memang identik dengan perploncoan, padahal tidak selalu demikian halnya. Apapun, telah banyak kritik dan penentangan dari masyarakat. Ada banyak yang mengajukan argumen tentang mengapa ospek perploncoan harus dihapuskan. Nah, tulisan saya berikut adalah tentang mengapa ospek perploncoan masih terus lestari hingga sekarang dan juga tentang pemikiran saya mengapa pengondisian keras masih dibutuhkan.

Bagi Anda yang sudah berkutat lama dengan issue ospek dan pengkaderan massal mahasiswa baru, mustinya pertanyaan berikut sudah tak asing:

Mengapa sih ospek perploncoan susah dihapuskan? Apa yang membuat aktivitas ini begitu berharga sehingga segala upaya yang dilakukan pihak rektorat untuk menghapusnya seringkali berakhir dengan keberatan luar biasa dan kegagalan?

Sesuai dengan namanya, apakah tujuan awal dari Ospek adalah untuk membantu mahasiswa baru mengenal program studi dan kampusnya? Iya, memang. Tapi bukan itu yang jadi pertimbangan kenapa perploncoan menjadi bagian lekat darinya. Dalam maksud saya menawarkan alternatif atau modifikasi dari model ospek yang ada, saya merasa akan lebih adil kiranya untuk terlebih dahulu menilik baik-baik maksud dan logika pembentukan budaya perploncoan ini. Jangan hanya mencela tanpa berusaha memahami, karena di balik aktivitas yang unik ini pasti ada motif baik yang bisa kita temukan. Tidak mungkin perploncoan bisa menjadi budaya bila bukan karena kemanfaatan positif yang bisa dihasilkan darinya.

Senior yg melakukan ospek seperti ini mustinya punya tujuan baik. Sekarang tinggal kita telusuri lagi bagaimana sih kok bisa perploncoan yang kayak gini bisa dibilang punya manfaat positif. [foto diambil dari koleksi mas Dhana]

Baca lanjutan post »

Meminimalkan Dampak Negatif Pornografi; yang Penting Motifnya Sepakat, kan? ^_^

Pemikiran 17 Comments »

Meminimalkan Dampak Negatif Pornografi; yang Penting Motifnya Sepakat, kan? ^_^Berawal dari diskusi dengan istri, saya jadi ngasih posting di ruang komen Mas Kamal. Tapi ternyata ada lebih banyak hal yang ingin saya sampaikan.

Rame banget memang pembahasan di blogosphere Indonesia. Tokoh penting semacam Pak Budi Rahardjo termasuk yang tidak bersepakat dg strategi pemerintah yg satu ini. Tapi saya amat senang beliau bukan lagi sekedar beropini atas ketidaksepakatan beliau, namun telah melakukan tindakan nyata untuk menyikapi pornografi ini dg menciptakan & mengajak orang2 utk turut menghasilkan content positif. Namun sayang sekali banyak teman2 yang masih melupakan gambaran besar dari issue ini.

Dari sejak pembahasan pornografi, banyak sekali yang mengklaim pornografi ini sebagai issue yang relatif dan subyektif.

Cuplikan dari komen di blog pak Budi Rahardjo:
“Payudara dara Irian dan Bali atau Badui menantang tanpa halangan itu forno?? Orang Badui dan Bali atau Papua bersikap biasa jadi tidak forno. Orang diluar itu bersikap luar biasa jadilah forno dan forno.”

Coba deh kita sekarang lihat apa arti pornografi menurut kamus besar bahasa Indonesia.

Pornografi:
1. Penggambaran tingkah laku secara erotis dg lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu berahi;
2. Bahan bacaan yg dg sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu berahi.

…. dirancang untuk membangkitkan nafsu berahi.

Apakah pornografi mbikin kecanduan? :roll:

Baca lanjutan post »

Kenapa Berbisnis Atas Dasar Hobi Tidak Sebegitu Mudahnya?

Bisnis, Pemikiran 8 Comments »

 

“The luckiest man is one whose hobby and profession are same.”

Yes, no doubt about it. Tapi kenapa kok ndak sebegitu gampangnya orang2 berprofesi/berbisnis sesuai dg hobi?

Kebanyakan kita barangkali telah tau bahwa hal pertama yg musti dilakukan adalah menemukan (dan mengingat2) ketertarikan dan kecenderungan terbesar - terkait ragam aktivitas yg Anda nikmati, lingkungan kerja yg Anda sukai, teknologi yg Anda suka utk bekerja dengannya, serta macam orang yg Anda suka utk bekerja dengannya. Nyatanya memang ndak sangat gampang juga untuk menemukan ini, karena seringkali alasannya sekedar lupa atau ndak dg sengaja menyempatkan untuknya.

Baca lanjutan post »

WP Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS Log in