Sep 26
Disebut masjid nabawi karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu menyebutnya dg kalimah “Masjidku ini”. Masjid ini dibangun oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama para sahabat pada awal tahun 1 Hijriah (September 662 masehi) atau segera setelah beliau hijrah dari Mekah ke Madinah. Masjid Nabawi dibangun di atas tanah milik dua anak yatim Shal dan Suhail yg dibeli dg harga 10 dinar, dan ditambah tanah wakaf dari As’ad bin Zurarah serta bekas makam kaum muslimin yg rusak.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa sholat di masjidku ini lebih utama daripada sholat seribu kali di masjid lain kecuali di Masjidil Haram.”

Pada awalnya masjid ini sangatlah kecil, yakni hanya seluas 1.050 meter persegi. Tiang2 dan atap dibuat dari batang kurma sedangkan penerangannya dari pelepah kurma yg dibakar.
Baca lanjutan post »
Sep 23
Kita yg muslim tentunya sudah tahu bahwa Masjidil Haram ini tidak hanya menjadi acuan kiblat dari seluruh muslim di seluruh dunia, melainkan juga menjadi lokasi utama dari ibadah haji. Masjidil Haram, dengan luas wilayah 356,800 meter persegi dg daya tampung lebih dari 1 juta pada satu waktu, adalah masjid terbesar di dunia.

(silahkan klik pada gambar di atas untuk mendapatkan ukuran besar)
Baca lanjutan post »
Sep 13
Barangkali Anda pernah menanyakannya, “Mengapa daerah yang dipilih sebagai tempat kelahiran dan pertumbuhan Islam adalah jazirah Arab, bukannya Eropa atau Indonesia?”
Jika Anda sudah pernah melihat langsung jazirah Arab, mungkin malah semakin bertanya2: meski jazirah saudi adl penyuplai minyak terbesar dunia, tapi negara mereka gersang, miskin air, miskin produk (barang2 hampir semuanya impor; entah dari pakistan, cina, Indonesia, dsb). Bila secara khusus kita bicara negara saudi, maka kita lihat mereka skr memang dapat pemasukan terbesar dari minyak dan haji. Tapi itu kan baru-baru saja; dulu mereka punya apa?

Di mana2 selalu ada gurun, yg ini mending masih ada rumput dan onta. Mostly, semuanya gersang.

Belum lagi klo ada badai pasir seperti ini; sejauh 100 km dari Riyadh ke Bahrain.
Tapi kenapa kok jazirah Arab yg dipilih?
Baca lanjutan post »
Aug 21
Di post sebelumnya telah saya sampaikan bahwa bagaimanapun mahasiwa baru perlu dberi pengondisian keras sesuai dg definisi yg telah saya berikan. Namun ospek dengan model semi militeristik ini “hanya” akan efektif bila dijalankan oleh pihak militer itu sendiri. Nah, lantas apakah itu artinya mahasiwa tidak mampu atau tidak sebaiknya menjadi pelaksana ospek? Tidak juga, karena yg penting tentang ospek bukanlah pilihan metodologinya (apakah pake perploncoan atau yang lain), melainkan tujuan dan esensi yang diupayakan darinya.

Ospek - ajangnya ngemong mahasiswa baru
Ketika mahasiswa menjadi pelaksana ospek, apa yang perlu kita perhatikan di sini adalah untuk menempatkan pengkaderan massal (Ospek) dalam porsi yang sewajarnya. Kita perlu ingat bahwa selain ospek masih ada event pengembangan diri lain seperti Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa, Achievement Motivation Training atau yang lain. Ospek tidak perlu mengambil tujuan belajar yang terlalu muluk.
Membentuk mahasiswa profesional bermental pemimpin yang memiliki sikap kritis, kreatif, inisiatif, proaktif, berpikiran luas, berintegritas pribadi yang dilandasi kejujuran, kebenaran, dan keadilan.
Memang tujuan yang bagus, tapi tidakkah itu berlebihan? Bahkan training atau workshop pengembangan diri profesional saja berhati-hati dalam membuat ukuran sukses para lulusannya. Sekedar maksud baik saja belum cukup, kita juga perlu realistis dan miliki kompetensi yang cukup untuk mewujudkan maksud baik itu.
Baca lanjutan post »
Jul 13
Pada abad 21 ini, anggapan dasar kita tentang kehidupan perekonomian dunia akan kembali berbalik. Di abad 20 kita telah melihat berakhirnya dominansi eropa atas perekonomian dan perpolitikan global. Sementara di abad 21 kita melihat berakhirnya dominansi Amerika, dan bersamaan dengan itu, kita melihat Cina, India, dan Brazil terus bertumbuh sebagai kekuatan baru yg diperhitungkan di kancah dunia. Namun perubahan yg terjadi di abad ini akan lebih dalam dari sekedar penyeimbangan ekonomi dan geopolitik dunia.
Tantangan sebenarnya yg dihadapi di abad 21 adalah terkait realita bahwa seluruh umat manusia akan menanggung nasib yg sama di planet yg penuh sesak ini. Kita mencapai abad di mana telah terdapat 6,6 milyar orang hidup di sebuah ekonomi global yg terintekoneksi. Manusia telah mengisi setiap niche ekologi di muka bumi, mulai dari daerah tundra dingin hingga di daerah hutan tropis dan padang pasir tandus. Di beberapa tempat, masyarakat telah melampaui kapasitas tampung dari wilayah ybs, hingga yg timbul adl kelaparan kronis, degradasi lingkungan dan eksodus besar-besaran dari penduduk yg merana.
Baca lanjutan post »
Recent Comments