Meminimalkan Dampak Negatif Pornografi; yang Penting Motifnya Sepakat, kan? ^_^
Pemikiran Add commentsApa sudah dijamin moralitas bangsa ini makin baik jika dilakukan pemblokiran situs porno di internet ? Apa sudah dijamin generasi penerus bangsa akan lebih baik jika situs porno diblokir ? Emg ada yg berani njamin, hayo?
Jepang adalah negara maju yang pornografinya juga bukan main majunya. Tapi sungguh bukan pornografi yg menjadikan Jepang maju. Sama juga pornografi di Amerika, sebagai penyumbang terbesar pornografi dunia, tetaplah bukan pornografi yg jadikan Amerika negara superpower spt sekarang.

Hanya krn menkominfo belum menjabarkan strategi dan tahapan penyadaran masyarakat lalu kemudian motif untuk memberantas pornografi ini dipersalahkan. Amat disayangkan bila kita lantang berbicara keliru hanya karena kita kurang mendapat informasi. Jangan ribut dulu masalah cara, metodologi atau teknologi pemblokiran situs porno. Motif untuk menyehatkan bangsa dg meminimalisir pornografi itu sebenernya sepakat ngga, hayo?
Klo emg udah sepakat ya sudah, berarti klo memang ada kelemahan dlm metodologi dan strategi, maka jadikan saja itu masukan yg tentunya menkominfo akan sangat menyambut baik.
Kenapa kok ngurusin pornografi, kenapa kok nggak ngurusin yg lain semisal pengangguran, kemiskinan, pemberantasan korupsi, jalan yg rusak, banjir atau yg lain? Knp kok pemerintah ndak pintar mbikin prioritas? Well…… Sepengetahuan saya, setiap pihak punya perannya masing2. Yg namanya pemerintah itu kan bukan cuman satu departemen. Masing2 punya tugas dan juga anggaran sendiri2. Yg penting adl setiap peran menjalan spt apa yg dia perlu & bisa lakukan sesuai dg kompetensi, kapasitas dan kewenangannya.
Bisa jadi penghasilan warnet menurun, dan tyt kurangnya content edukatif bagi siswa jg jadi penyumbang masalah, teknologi blocking yg belum matang jg jd issue besar, bentuk pembinaan moral dlm bentuk kajian jg belum optimal, orang tua jg belum sepenuhnya bisa jadi pendamping bagi anak. Masalah memang banyak, tentu saja. Namun sudah pasti, hanya karena masalahnya sulit kita lantas memilih utk mundur dan menyerah dalam mensolusikannya, bukan? Jangan pula kita jadikan pesimisme thd kebobrokan moral bangsa ini sbg pembenaran utk takut/ragu bertindak benar.
Saya pikir begini: jika memang motifnya sudah sepakat, bahwa sepaham pornografi perlu ditanggulangi, maka marilah kita sekarang berlomba2 memberikan saran dan kontribusi. Berbeda pendapat tentu boleh, asal respect tetap ada.
Yg penting adl setiap pihak menjalankan peran dan berikan kontribusinya masing2. Kebijakan ini sesungguhnya merupakan ajakan utk bersinergi; bagi para da’i, bagi para pakar IT, bagi orang tua. Jika kita menyepakati motif dan memahami bahwa memang pornografi dan kekerasan bukanlah modal yg relevan utk membangun bangsa, maka ya marilah kita berikan sumbangsih kita sebaik mungkin.
sehingga pada akhirnya, setiap kita ini…. Anda ini bagian dari solusi … atau masalah?
PS: Perlu saya akui, bahwa yg membuat saya optimis dg program ini adl krn saya telah mengenal Pak Nuh scr pribadi sejak beliau belum menjadi rektor di ITS. Dengan karakter yg penuh integritas, akhlak yg terpuji, dan kompetensi yg mumpuni, saya percaya pak Nuh adl orang tepat utk amanah ini.
Referensi:
- Dampak pornografi pada pernikahan dan keluarga
- Riset penuh terkait dampak pornografi pada pernikahan dan keluarga
- Efek Pornografi
- Masalah Amerika - Sex Abuse
Pindah Halaman: 1 2






April 4th, 2008 at 1:09 pm
[...] membaca ulasan lengkapnya di sini: Meminimalkan Dampak Negatif Pornografi. Ditulis oleh Akhmad Guntar | LMT Trustco Surabaya [...]
April 4th, 2008 at 1:26 pm
telanjur jadi industri, pak. pasarnya juga luas. seperti rokok saja, karena punya dampak buruk lantas dilarang, tapi konon mendatangkan pajak besar dan melibatkan banyak tenaga kerja. akhirnya setengah hati melarangnya..
April 4th, 2008 at 1:34 pm
sering mengakses situs porno adalah bukti ketidakberdayaan , menikmati sesautu yang berbau porno adalah sebuah proses onani (baca:memuaskan diri sendiri) yang dilandasi ketidakpercayadiri-an atas sesuatu yang dimilikinya.pembenaran apapun boleh dilakukan, tetapi tetap, bagi saya menikmati sesuatu yang berbau porno adalah gejala awal disfungsi seksual.
April 5th, 2008 at 12:13 am
wah betul2 salut mas, tulisan yang punya daya pikat yang menyadarkan orang pornografi sesungguhnya.saya tidak habis fikir kenapa banyak yang menolak, padahal udah jelas2 its bad.perlahan tapi pasti, meminimalkan kejahatan2 yang ada, it’s so real.
April 5th, 2008 at 1:10 am
Saya setuju porografi diberantas.
Nah yang jadi pokok persoalan adalah siapakah yang memberantas? bagaimana caranya? sepihak atau partsisipati? Kolektif atau fasis melalui kekuasaan negara?
Dampak negatif pornografi kan sudah ada sejak dulu, sejak seksualitas tidak dianggap sebagai sesuatu yang manusiawi di Indonesia. Karena alasan tradisi, moral, agama, etika, dll, generasi Indonesia (ambil contoh) 70an-80an-90an tidak pernah mendapatkan pendidikan tentang seksualitas. Baik ditingkat yang paling kecil, keluarga, maupun di lembaga masyarakat semisal sekolah. Nah karena informasi yang disumbat tersebut, jadilah salah jalan dalam mengakses seksualitas, kemudian berubah menjadi pasar pornografi. Mucullah kekerasan seksual dalam berpacaran, berkeluarga- antar pasangan, hingga pada tingkat masyarakat (pemerkosaan, pedofil, pelecehan ditempat publik, dll).
Nah yang menjadi soal, si pemerintah sudah superior dimuka, ‘pokoknya mau blokir’ akses informasi dalam hal ini internet, padahal kebebasan informasi adalah pilar penting untuk membangun Demokrasi sekarang (gara-gara informasi dunia maya internet-tyt faktor pendukung masyarakat untuk lebih berdaya) , nah duduk soalnya adalah, apakah kebijakan ini melibatkan publik? partisipatifkah? Demokratiskah?.
Dalam hal ini saya tetap mendukung kebebasan informasi, nggak usah diblokir, masalahnya ada di orang-bukan medium informasi-internet. Saya percaya setiap orang berhak untuk mendapatkan informasi yang dia mau, yang mau lihat dan baca dan akses yang dia perlu (mutlak).
Kenapa tidak berpikir untuk menggadeng departemen pendidikan saja, semisal membuat kurikulum tentang pendidikan seksualitas, kesehatan reproduksi, resiko dan bahaya macam apa seksualitas bagi anak-anak dan remaja menerapkannya disekolah dan pendidikan keluarga (bukan diteror terus sama agama), kalau ketakutannya adalah masa depan anak-anak Indonesia. Saya pikir sudah saatnya kita lebih dewasa menghadapi persoalan ini.
*Tolak kontrol Negara!, Jangan takut kebebasan informasiā¢*
Trims.
April 5th, 2008 at 12:07 pm
nice, tulisannya sangat mencerahkanbetul juga mayoritas dari kita sebetulnya sepakat akan dampak buruk dari pornografi
adit’s last blog post..Thin, Solusi alternatif web server Ruby
April 6th, 2008 at 10:35 am
mpokB:
Di Amerika, posisi pornografi sudah spt rokok dan bahkan promosi besar2an susu sapi, yg tyt kurang baik baik bagi kesehatan. Kongres sudah dapet suplai yg luar biasa dari Industri. Perihal lain, Amerika bener2 menganut demokrasi sempurna di mana kebenaran ada dalam pendapat mayoritas, shg ukuran moralitas pun diukur dari preferensi mayoritas.
Sementara di Indonesia, saya kira masalahnya belum sampai sepelik di sana. Meski kita pake demokrasi, tapi masih ada acuan moralitas dan tatakrama. Pornografi tidaklah memiliki riwayat asal yg sama dg rokok yg awalnya di’halal’kan. Syukurnya, pornografi masih dianggap sbg perihal yg tabu utk dipertontonkan scr publik, terlebih bagi anak2.
Masih belum terlambat kok
Meister:
(tersenyum penuh arti)
aRul:
Semoga kita senantiasa diberikan hidayah utk bisa berpikir benar dan juga bertindak benar
April 6th, 2008 at 10:41 am
Andri Cahyadi:
Sungguh menyenangkan bila kita mengawali dari kesamaan niat (bhw pornografi perlu diberantas). Di sinilah kemudian kita banyak sumbang saran ttg cara, tahapan, dst.
Pendidikan seks memang penting utk diberikan sejak di keluarga, saya sepakat. Termasuk juga oleh para da’i dan tokoh agama. Utk di sekolah2, saya usulkan mbikin content edukatif yg terstandarisasi. Konkritnya adl bentuk multimedia, bagus lagi klo bentuk film yg dibintangi artis2 populer. Informasi yg benar dan bijak ttg seks harus disampaikan dg cara2 yg appealing dan menggerakkan emosi & tindakan. Shg bukan hanya dept.pendidikan saja yg perlu andil, dan malah bukan cuma produsen film.
Saya juga sepakat bahwa kebebasan informasi itu penting. Bila melihat maksud dasar dari gagasan sampean, tentu yg sampean maksud adl kebebasan informasi yg edukatif, yg membuat masyarakat mampu berdaya, yg berarti bukan content2 pornografi yg inspiratif (utk menindaklanjutinya dg tindakan)
Saya pikir kebijakan menkominfo ini akan jadi pemicu yg produktif, semisal bagi orang tua. Orang tua bs jadi akan bilang, “Wadoh, jangan pake blocking informasi, dong. Saya akan didik anak saya, wis“. Dept.Pendidikan akan bilang, “Wah, ngawur ae blocking content, ajak saya dong: biar saya bikin program edukasi seks utk remaja“. Smentara menkominfo terus mengembangkan model blocking yg bijak & efektif. Smg berbagai pihak makin tergerak utk berkontribusi berdasarkan kompetensi dan kewenangannya masing2
April 6th, 2008 at 12:40 pm
OOT : komentar mas tentang UU ITE sebelumnya ada di posting satunya, mmm salah masuk
hehe
April 7th, 2008 at 9:59 am
di negara maju, pornografi mungkin legal, tapi ga sembarangan, tidak hantam kromo…sebuah kasus di Inggris, orang bermain seks di pinggir jalan diancam hukuman setelah tiga kali peringatan nggak digubris…perspektif polisi adalah norma kesopanannorma itu yang kita ga punya…ga jalan, lebih parah lagi munafiknya banyak, di sini juga paradoksnya besar. kelihatannya alim, tapi bolong semua di dalamnya
Hedi’s last blog post..Bicara Sepakbola
April 9th, 2008 at 3:51 pm
konten p0rn0 gak mungkin akan hilang dari jagad maya. makanya, memang filternya bukan di ISP, komputer, router atau pemerintah. Filter yang paling bagus adalah pada niat masing-2 netter. kalo memang sudah niat cari gambar parno, filter sekuat apapun pasti akan jebol juga, khan?
April 11th, 2008 at 6:31 am
April 27th, 2008 at 8:08 pm
Deteksi Jawa Pos 27 April 2008 membuat survei terkait pemblokiran situs pornografi. Mayoritas responden menganggap pemblokiran situs biru tidak efektif. Mengapa?
Hmm…. alasan yg ‘bagus’. Let’s see…
Semisal sebagian masyarakat menolak pemusnahan/pelarangan sabu2 yg mbikin orang jadi teler dan rusak scr intelektual mental. Kenapa?
Hmm…
Lho, kok berani2nya saya menyama2kan pornografi dg obat2an terlarang? Oh, maaf, saya rupanya mengira bhw kita sudah sependapat bhw pornografi adl masalah.
Metodologi masih bisa terus disempurnakan. Yg penting motifnya sepakat, kan?
April 28th, 2008 at 1:02 am
Sudah saatnya indonesia BERbebas dari yang namanya pornografi. karena pada dasarnya budaya nude-isme di indonesia sudah dari dulu ada!! liat aja bali n irian ! kalo tidak dari sekarang kapan lagi ada kesempatan untuk kaum nudist indonesia untuk bangkit. Every body lov sex (BENER KAN!!). DIA SUKA NUNJUKIN AKU SUKA NGELIATIN.Dan sudah saatnya juga bagi kaum nuda indonesia berkata F*<k you sambil menghaturkan jari tengah kepada kaum tua bila mana PERLU. memang negara indonesia bukan negara liberal. oleh sebab itu bilah langkah kriminal yang perlu diambil, maka oke lah kita ambil.BY THE WAY!! PAPUA TIDAK AKAN PERNAH MERDEKA DAN ANDRI CAHYADI “A*J*Ng”
May 24th, 2008 at 10:18 pm
@ ko pu tai tu
Anda tak harus memaki saya dengan kata-kata kasar (hate speech:lihat definisi http://en.wikipedia.org/wiki/Hate_speech) untuk berbeda pendapat dengan saya. Anda boleh tidak setuju dan bebas merdeka memiliki opini tanpa harus menghasut dan berkata-kata kurang ajar.
Sebagai individu merdeka, saya berhak dalam mengemukakan kebebasan berpendapat dan beropini.
Mari tumbuh dan berkembang, saling menghormati pendapat, sudah saatnya Indonesia menjadi bangsa beradab. Bukan bangsa bar-bar yang selalu menggunakan kekerasan dalam segala hal.
June 23rd, 2008 at 2:02 pm
terimakasih, artikel anda bagus dan menarik, artikel anda:http://seni-budaya.infogue.comhttp://seni-budaya.infogue.com/meminimalkan_dampak_negatif_pornografi_yang_penting_motifnya_sepakat_kan_anda bisa terus promosikan artikel anda di http://www.infogue.com yang akan berguna untuk semua pembaca. Telah tersedia plugin/ widget vote & kirim berita dan beberapa pilihan widget lainnya yang ter-integrasi dengan sekali instalasi mudah bagi pengguna. Salam!
June 24th, 2008 at 7:44 am
menurut saya sih yang paling bagus menghindari pornografi adalah meningkatkan kualitas iman…dan memperbanyak kegiatan yang positif….maaf hidup tidak hanya seks….banyak hal lain yang masih dapat dilakukan
suwiryos last blog post..MOZILLA FIREFOX 3
October 26th, 2008 at 10:25 am
yups……sebgai anak muda yang diharapkan bangsa,tentunya harus tahu banget bahya g ditimbulkan dari pornografi,,,,belum sattnya tu….entar kalau udah nikah tu baru boleh ma pasngannya.orang yang sabar kan akn ditambah nikmatnya.jngan bermaksiat euyyy,,,dosa….teu…!
November 17th, 2008 at 12:29 pm
Tulisan yg Bagus
Enak bwt dibaca
Minta ijin dunz buat saya poasting di blog saya
Salam
^_^