Bulan ini adalah saat di mana para mahasiswa baru di banyak kampus mulai merinding hebat: Ospek sudah dekat, GAWWAT. Orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek) memang identik dengan perploncoan, padahal tidak selalu demikian halnya. Apapun, telah banyak kritik dan penentangan dari masyarakat. Ada banyak yang mengajukan argumen tentang mengapa ospek perploncoan harus dihapuskan. Nah, tulisan saya berikut adalah tentang mengapa ospek perploncoan masih terus lestari hingga sekarang dan juga tentang pemikiran saya mengapa pengondisian keras masih dibutuhkan.
Bagi Anda yang sudah berkutat lama dengan issue ospek dan pengkaderan massal mahasiswa baru, mustinya pertanyaan berikut sudah tak asing:
Mengapa sih ospek perploncoan susah dihapuskan? Apa yang membuat aktivitas ini begitu berharga sehingga segala upaya yang dilakukan pihak rektorat untuk menghapusnya seringkali berakhir dengan keberatan luar biasa dan kegagalan?
Sesuai dengan namanya, apakah tujuan awal dari Ospek adalah untuk membantu mahasiswa baru mengenal program studi dan kampusnya? Iya, memang. Tapi bukan itu yang jadi pertimbangan kenapa perploncoan menjadi bagian lekat darinya. Dalam maksud saya menawarkan alternatif atau modifikasi dari model ospek yang ada, saya merasa akan lebih adil kiranya untuk terlebih dahulu menilik baik-baik maksud dan logika pembentukan budaya perploncoan ini. Jangan hanya mencela tanpa berusaha memahami, karena di balik aktivitas yang unik ini pasti ada motif baik yang bisa kita temukan. Tidak mungkin perploncoan bisa menjadi budaya bila bukan karena kemanfaatan positif yang bisa dihasilkan darinya.

Senior yg melakukan ospek seperti ini mustinya punya tujuan baik. Sekarang tinggal kita telusuri lagi bagaimana sih kok bisa perploncoan yang kayak gini bisa dibilang punya manfaat positif. [foto diambil dari koleksi mas Dhana]
Perlu kita ketahui bahwa fenomena Ospek dengan perploncoan ini juga terjadi di negara-negara lain (silahkan googling dg keyword initiation ceremonies). Konsep Ospek Perploncoan sudah dikenal sejak lama. Suku Thonga dari Afrika Selatan adalah salah satu suku tertua yang masih memelihara tradisi perploncoan untuk anak lelaki yang ingin mendapat pengakuan sebagai seorang lelaki dewasa.
Ketika seorang bocah telah berusia antara 10 hingga 16 tahun, dia dikirim oleh orang tuanya di “curcumcision school” yang diselenggarakan tiap 4 atau 5 tahun sekali. Ritual inisiasi ini dimulai dengan berlarinya setiap bocah dalam garis panjang yang di sana telah berbaris para lelaki dewasa yang akan memukuli mereka dengan tongkat kayu di sepanjang perjalanan. Di akhir perjalanan, baju sang bocah akan dilucuti dan rambutnya dicukur habis. Dia lalu harus menjalani tiga bulan masa inisiasi untuk menjalani enam ujian utama: dipukuli (oleh lelaki dewasa yang telah dilantik), bertahan dalam cuaca dingin tanpa baju dan selimut, kehausan, makan makanan yg sungguh tak enak & layak, dihukum (semisal dg meremukkan jari ketika ketahuan melanggar aturan), dan terancam tewas selama menjalani ritual. Semua ini mengingatkan saya pada cerita di film 300! di mana pemuda Spartan harus menjalani masa2 dengan ritual inisiasi yang mirip dengan suku Thonga ini.

Ospek perploncoan suku tribal dan spartan memang amat keras, namun seluruh aktivitas perploncoan mereka relevan dengan untuk apa mereka dimaksudkan hidup; yakni petarung untuk berperang.

Memang aneh, tapi perploncoan modern juga memiliki enam unsur yang sama dengan ospek di tribal world; mulai dari pemukulan, exposure pada dingin, siksaan haus, makan makanan yang memuakkan, hukuman, hingga ancaman kematian. Seperti ospek yang dilakukan di salah satu kampus ternama di Bandung, di sana mahasiswa baru diinjak-injak senior secara beramai-ramai, long march di gunung dalam keadaan kurang makan, kurang minum, dan tidur pun di atas pohon. Sementara di kampus lain perploncoan di kampus lain di Jawa Barat -seperti yang kita tahu- telah mengakibatkan kematian dari salah satu prajanya.






August 13th, 2008 at 12:32 am
Salam mas guntar, kebetulan sy jg mau menulis tentang pengkaderan :Dsaya setuju yang diungkapkan mas guntar, tapi sy agak sedikit aneh, foto2 yang aksi telanjang itu bukan di Indonesia lho mas, tapi di philipina.itu perasaan juga bukan ospek deh.Kalo di philipina aksi telanjang itu menurut mereka sudah biasa sebagai ungkapan kebebasan. Lah wong di university of philipine aja byk patung2 telanjang (ungkapan kebebasan itu).. hehehe…
August 13th, 2008 at 1:55 am
ini loh mas berita tentang foto2 telanjang itu dari philipina http://grandparagon.com/index.php/2008/06/22/foto-dan-video-ratusan-mahasiswa-berlari-bugil-di-filipina/
August 13th, 2008 at 6:37 am
saya sependapat dengan tulisan ini tentang bagaimana suatu perpeloncoan memang diperlukan, tetapi perlu dikritisi bahwa ospek yang sekarang telah menyatu dengan dunia pendidikan reguler. Hal ini yang saya gugat, karena bukan pada tempatnya.
apakah mas guntar pernah diospek? berapa kali mas guntar diospek? ospek yang seperti apa? saya pernah diospek 10 kali lebih mulai dari smp sampai menjadi mahasiswa karena saya mengikuti banyak kegiatan organisasi yang rata-rata berkaitan dengan pembelajaran mental seperti pramuka, pencak silat, dan mapala. saya menerima banyak perlakukan seperti ditendang, dipukuli, dilucuti pakaiannya, ditampar, disuruh makan daun, ditenggelamkan, dan lain sebagainya. selama itu saya menikmatinya, karena memang pada tempatnya yaitu organisasi-organisasi tempat penempaan mental.
tetapi ketika ospek masuk dalam dunia pendidikan dan menjadi ritual masuk dalam dunia tersebut, membuat saya bertanya? untuk apa? dan tentunya ini adalah sebuah “pemaksaan psikologis” tidak seperti ketika saya memang benar-benar masuk dalam suatu organisasi, yang itu merupakan minat dan sudah tujuan saya.
jikapun generasi saya masih diospek ketika masuk SMA atau kampus dan bahkan generasi sebelumnya mengalami ospek yang lebih dasyat? apa pengaruhnya dengan mental mereka? apa pengaruhnya dengan orang-orang indonesia? mengapa masih banyak korupsi yang notabene dilakukan oleh para intelektual yang katanya berasal dari universitas-universitas besar yang terkenal dengan ospeknya?
hehe.. cuma sekedar sharing saja, thanks.
kenzs last blog post..Pergerakan Aksi Massa Mahasiswa Indonesia Terjebak dalam Tong Kosong?
August 13th, 2008 at 10:49 am
Sebenarnya pesan saya bukanlah bahwa perploncoan diperlukan (berdasarkan definisi yg saya berikan), melainkan pengondisian keras perlu diterapkan. Namun keras di sini bukanlah kekerasan, penindasan, dan penyiksaan.
Saya pernah diospek, Mas. Sering. Seperti yg telah saya sampaikan di halaman akhir
. Dan berbeda dg sampean, meskipun saya merasakan manfaatnya, tapi saat menjalani dulu saya tidak menikmatinya
.
Karena memang penting, pembinaan mentalitas tu harusnya bukan hanya diterapkan di kepramukaan. Atau mungkin lebih tepatnya sebaiknya setiap siswa diwajibkan aja ikut pramuka (saya dulu tidak ikut pramuka). Intinya sama sekali bukan agar mereka diplonco, melainkan agar mental mereka diperkuat & dibina. Pramuka kan ekskul yg amat bagus.
Dan jika lantas ospek maut masuk kampus, kita memang patut waspada: itu yg ngospek paham ilmunya ngga? Itulah kenapa saya menawarkan alternatif. Pada posting2 berikutnya saya akan sampaikan pemikiran saya tentang ospek dg mahasiswa sbg pelaksana.
Dan akhirnya, ospek (yg skr ini) apalagi perploncoan tidaklah menjamin seseorang tidak korupsi. Karena apa yg disasar adalah mentalitas, bukannya moralitas. Harusnya sih jadi satu, tapi yg selama ini terjadi belumlah begitu. Shg yg dihasilkan adalah orang2 bermental tangguh -salah satunya-, tapi belum tentu mereka bermoral tangguh.
Itulah kenapa mahasiswa baru juga wajib ikut mentoring atau pembinaan agama secara intens selama minimal satu semester, untuk kemudian melanjutkan secara non formal untuk seterusnya.
August 13th, 2008 at 1:20 pm
HAPUS semua yang berbau kekerasan, masih banyak cara orientasi yang lebih bangus.
August 13th, 2008 at 9:36 pm
Pekan orientasi studi seharusnya tak menjadi perpeloncoan, namun saatnya bagi adik-adik mahasiswa baru mengenal lingkungannya. Saat masuk Perguruan Tinggi tahun 1970, sayapun mengalami pekan orientasi studi minus perpeloncoan…nAmun dosen harus bertindak tegas dan ikut menunggu para senior agar tak melanggar ketentuan
August 14th, 2008 at 12:25 pm
Membaca posting yang satu ini emang harusnya dengan pemikian yang terbuka. Dalam media, perploncoan lebih banyak disorot tentang sisi kekerasan dan korbannya saja. Akibatnya jadi antipati sendiri. setiap mendengar kata perploncoan yang ada respon menolak.
Posting yang bagus. as usual. ^_^
August 15th, 2008 at 11:10 am
Di UNAIR sekarang udah gak lagi koq pak.
August 16th, 2008 at 3:47 am
setuju ngga setuju sich , soalnya tadi baru liat ospek juga di kampus deket rumah
August 17th, 2008 at 1:18 pm
Zaman sekarang, istilah senior dan junior sudah harus dihilangkan. Justru kedua golongan ini semestinya bergerak selaras. Saya lebih setuju dengan sistem Pengenalan Kampus dimana mahasiswa baru di perkenalkan dengan gaya belajar dan kehidupan kampus. Sehingga tidak ‘kaget’ bila kemudian mendapat tugas yang ‘bejibun’.Singkirkan perploncoan, setuju dengan Kang Akhmad, sangat tidak sesuai dengan tujuan. Kecuali jika dididik untuk menjadi PEMBUNUH.-Salam kenal Kang-
August 17th, 2008 at 8:33 pm
salam.lam knal mas..mhsswa tc jg sy..:Dkalo ngmng masalah pengkaderan/ospek emng g ad habisnya mas..:)sy setuju jika pengkaderan memang harus ad dan sdikit bnyk perlu adanya pengkondisian mhsswa barucmn sekarang memang agak sulit untuk menerapkan hal tersebut dikmpus,y karena berbagai atauran yg mengikat dan berbagai alasan yg mendasari aturan tersebut keluar..ngurusin manusia emng sulit mas..:)
bhagass last blog post..Merah Putih Kampusku
August 20th, 2008 at 6:24 pm
horee sukses membaca semua halamannya :Dtulisannya informatif sekali, sy rasa Mas Guntar bisa mengembangkannya menjadi sebuah bukusaya sendiri ketika membaca tulisan ini, dalam hati “oooh ternyata begitu, ooh ternyata begini”entahlah fenomena OSPEK yg terjadi skrng apa, OSPEK eksis tetapi pengetahuan dan filosofi yg membelakanginya spt tidak eksis, maksud sy kebanyakan baik mhsw baru atau senior banyak yg tidak paham OSPEK itu sendirioh iya, kalo di Bandung terutama di DT ada yg dinamakan SSG (santri siap guna), saya pernah mengikuti pelatihannya, dan sangat terkesan, keras tetapi tidak keras, pelatih tidak diperkenankan menghina, memukul tetapi perjuangan fisik bagi setiap peserta harus dilakukan (nyebur ke kali, camping 3 hari 3 malam dengan jam tidur sedikit, masuk ke “hutan “sendirian tengah malam hanya dengan mengikuti lilin yg diletakan bbrp meter de el el, entahlah mungkin ospek dgn model spt ini yg perlu digalakan
August 20th, 2008 at 6:25 pm
aneh nih , setiap ngasih comment di sini, spasi antar paragraf selalu tidak terbaca
August 21st, 2008 at 8:34 am
[...] post sebelumnya telah saya sampaikan bahwa bagaimanapun mahasiwa baru perlu dberi pengondisian keras sesuai dg [...]
August 21st, 2008 at 8:40 am
[...] post sebelumnya telah saya sampaikan bahwa bagaimanapun mahasiwa baru perlu dberi pengondisian keras sesuai dg [...]
August 28th, 2008 at 10:28 am
y selama ni indonesia emang identik dengan kekerasan sebab emang dulu ketika masih di pimpin oleh soharto semua serba berbau militer sehingga semua sendi masyrakat tetap tertanam hal yg berbau militer ato kekerasan karena mulai dari sekarang perlu tindakan penghapusan kekerasan agar tidak terjadi hal yg memalukab seperti perkelahian di MPR
mbah gendengs last blog post..Pelet situs pencari
September 6th, 2008 at 10:23 am
wah sudah lama tidak berkunjung disini. artikel masih sama kayak dulu…….keren!!!
ghosty1sts last blog post..belajar dari Paku dan Pohon
September 18th, 2008 at 7:28 pm
memang betul bahwa semua mahasiswa baru alias MABA, merasa akan takut dan was-was ketika mendengar kata ospek di kampus yang baru dimasukinya, ini dikarenakan banyaknya kejadian atau korban yang jatuh pada saat ospek itu berjalan. kalo seandainya para senior atau seluruh perangkat pengkaderan dalam hal ini ospek mencoba untuk duduk dan rembuk serta menkaji lebih jauh sebuah metodologi ospek yang ideal kalau selama ini hanya berorientasi pada kekerasan fisik kenapa tidak hari ini kita mencoba untuk mengarahkan mereka dari awal untuk keras dalam berifkir…????
September 29th, 2008 at 3:28 am
1 question…kalo ospek ginian sgitu postifnya dmata anda, knapa negara maju tidak meng-adopt system ginian? just think about it….why negara maju bisa maju tanpa ospek yg anda nyatakan memupuk nilai2 positif di dalam diri mahasiswa yg merupakan calon benih2 bangsa.saya yakin ada jalan yg lebih baik drpd ospek militer seperti ini.
September 29th, 2008 at 10:11 am
immank:
Berdasarkan pengalaman dan pengetahuan saya, konsep pengkaderan yg ideal sebaiknya tidak (hanya) datang dari mahasiswa, Mas. Melainkan dari mereka yg telah lulus. Perspektif dan masukan mereka lebih bebas dari tendensi dan motif pragmatis untuk semisal mendapat penghormatan dari yunior.
shinji:
mas Shinji yg baik, pertama perlu diketahui dulu bahwa ospek model brutal, model keras hingga yg model positif mendidik itu sudah ada di negara maju. Tulisan saya ini juga didasarkan atas riset yg dilakukan oleh Elliot Aronson, Judson Mills, dan Robert B. Chialdini di negara2 maju spt Inggris, Amerika, dan Australia.
Konsep Boot Camp yg saya usulkan pada halaman terakhir juga inspirasinya dari negara maju tsb. Jepang dan Korea Selatan yg lebih maju ktimbang Indonesia jg gunakan model pendidikan keras mendidik semacam yg saya sampaikan di halaman terakhir (mrk pake program pendidkan wajib-belajar-militer selama 3-6 bulan).
Ada yg beranggapan raw material masyarakat kita (dlm hal mentalitas) lebih buruk ketimbang Jepang, Amerika atau yg lain. Etos kerja lebih buruk, disiplin lemah, dsb. Shg hal ini ustru menjadikan pengondisian penuh disiplin jadi krusial utk diterapkan.