Secara tabiat, setiap maba punya kebutuhan untuk merasa dimiliki oleh golongan tertentu (The need to belong and to earn one’s place) yang akhirnya menjadi motif yang kuat bagi mereka untuk mengikuti ospek perploncoan. Di sini akhirnya sukarela dan terpaksa menjadi tak jelas bedanya. Semakin susah bagi maba untuk berkata “tidak” karena dalam dirinya juga ada keinginan untuk berkata “iya”, yakni terkait “perasaan untuk ingin diterima sebagai bagian dari”. Jikapun tidak begitu, mereka masih merasa terpaksa akibat ajakan atau tekanan dari rekan2 satu angkatan. Yang jelas, ini juga yang menjadi alasan kenapa kok perploncoan masih terus ada; karena para pendatang baru seringkali tak kuasa untuk menolak tradisi yang ada. Namun ini bukanlah alasan utama mengapa perploncoan terus ada.
Dengan isi perploncoan yang sedemikian rupa, ada yang beranggapan bahwa ini karena pihak yang melakukan memiliki gangguan psikologis sedemikian rupa sehingga mereka seperti ingin menyakiti, menganiaya atau mempermalukan orang lain. Namun ternyata bukti yang telah ditemukan tidak menunjukkan seperti itu. Dalam riset yang dilakukan terhadap fraternity group yang melakukan perploncoan hebat untuk anggota barunya, para pelaku perploncoan ternyata adalah orang2 terbukti sehat secara kejiwaan dan juga memiliki kepedulian sosial tinggi. Dengan temuan ini, artinya para praja senior STPDN adalah juga orang2 yg secara kejiwaan sehat wal’afiat dan memang mereka juga kerap turut serta dalam aktivitas kemasyarakatan sosial.
Namun anehnya, mereka berubah menjadi kasar hanya pada saat ospek berlangsung. Anda yang pernah merasakan jadi mahasiswa coba saja ingat: bukankah pengkaderan massal ospek selalu saja lebih marak ketimbang acara latihan kepemimpinan atau pekan ilmiah mahasiswa ataupun acara2 yang lain. Mereka2 yang dalam keseharian tampak baik2 saja tiba2 menjadi beringas, kasar dan menyeramkan ketika ospek atau pengkaderan massal berlangsung. Tidak semuanya tentu. Tapi untuk kebanyakan orang, benar kan?
Adalah Elliot Aronson dan Judson Mills yang melakukan observasi terhadap proses ospek di salah satu klub mahasiswa. Mereka temukan bahwa mereka2 yang harus menjalani initiation ceremony atau ospek agar bisa diterima di klub mahasiswa tertentu akan teryakinkan oleh diri mereka sendiri bahwa klub baru itu dan aktivitas2 yang dilakukannya bersifat penting, membanggakan dan sangat menarik.
Anda yang berhasil masuk ke jurusan tertentu dari UI, ITB, ITS, UGM dan universitas2 favorit tentunya bangga karena telah berhasil mengalahkan sekian banyak pesaing. Semakin sengit persaingan yang Anda jalani untuk meraih sesuatu, semakin besar kebanggaan Anda ketika telah berhasil mendapatkannya. Para senior penyelenggara ospek sepertinya bermaksud menambah efek tersebut melalui acara-acara mereka. Ospek dengan perploncoan mereka jadikan sebuah gerbang ujian yang akan membuat mereka yang berhasil melaluinya menjadi merasa institusi (jurusan atau institut) mereka (lebih) menarik, penting dan berharga. Hal ini pada gilirannya membentuk kekuatan arogansi positif sebagai dasar bagi mahasiswa baru untuk membangun kebanggaan atas kampus/jurusannya dan menjadi pembentuk tekad untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan reputasi dari kampus/jurusannya. Setidaknya begitulah maksud dasarnya
Perihal selanjutnya yang melatarbelakangi keberlangsungan ritual ospek ini adalah adanya motif untuk memperkuat ikatan personal yang sering dibahasakan sebagai kesolidan atau kekompakan. Menelusuri lebih jauh, ritual pembentuk kesolidan ini telah dilestarikan sedemikian lama untuk meyakinkan sebuah kelompok bahwa anggota barunya itu memang berkomitmen dan layak untuk menjadi anggota besar dari kelompok.

Semakin rahasia atau underground, semakin ekstrim dan luar biasa sebuah ritual ospek dilangsungkan, maka dikatakan semakin kuat pula ikatan, komitmen dan rasa saling ketergantungan yang terbentuk. Demikian temuan dari Robert B. Chialdini ketika menjelaskan fenomena effort extra. Semakin besar upaya yang harus dilakukan untuk mencapai sebuah komitmen, semakin besar pula pengaruh yang dihasilkan untuk membentuk perilaku orang2 yang melakukannya.
Ada debat yang terjadi terkait apakah benefit semacam ini merupakan fakta atau sekedar asumsi. Memang dikenal apa yang dinamakan sebagai Stockholm Syndrome, yakni respon psikologis yang terkadang ditemui di tawanan culik, di mana mereka -anehnya malah- menunjukkan loyalitas pada si penawan, terlepas dari segala kondisi bahaya yang telah dikenakan pada dirinya. Fenomena aneh ini juga terjadi pada korban kekerasan rumah tangga di mana sang korban malah menunjukkan kesetiaan pada sang pelaku kekerasan dalam artian enggan untuk meninggalkan sang pelaku meskipun telah diberi tempat yang aman. Fenomena ini dinamai Trauma-Bonding. Saya cukup ndak habis pikir dengan fenomena ini, tapi nyatanya hal ini memang bisa terjadi.
Artinya apa? Tindakan kekerasan yang dikenai oleh senior tidak hanya akan membentuk ikatan emosi antar sesama mahasiswa baru, namun juga antar mahasiswa baru dengan seniornya. Setidaknya begitulah maksud awalnya.
Perlu kiranya saya sampaikan sedikit tentang mengapa Stockholm Syndrome dan Trauma-Bonding ini bisa terjadi. Dalam ospek perploncoan, mahasiswa baru pada awalnya akan menganggap dirinya satu bagian atau berada di pihak yang sama dengan senior sebagai bentuk pertahanab dirinya. Mengapa? Ya karena klo mereka mengidentifikasikan diri secara berlawanan akan menghasilkan hukuman atau siksaan. Meskipun begitu, rasa cemas dan takut masih ada. Dalam kondisi demikian, maka kebaikan sekecil apapun yang dinampakkan oleh senior akan dimagnifikasi atau terlihat lebih besar dari yang seharusnya. Sama seperti di rambut yang hitam lebat sempurna, ketombe akan jadi sangat terlihat. Lama kelamaan, mahasiswa baru tidak hanya akan bersimpati pada seniornya, namun juga merasa ingin membelanya (silahkan baca studi kasus dari fenomena ini) dan terikat secara emosional dengannya.
Dengan menilik pada definisi dan contoh2 yang ada, ospek yang kita kenal sekarang menurut saya tidaklah memiliki kondisi yang cukup untuk memunculkan Stockholm Syndrome maupun Trauma-Bonding. Fenomena unik ini hanya bisa terjadi dalam tekanan emosi dan kelelahan fisik yang luar biasa, yang mana kondisi ini biasanya terpenuhi dalam perploncoan. Namun mahasiswa baru tidaklah berada dalam ruang isolasi dalam durasi waktu tertentu sbg syarat cukup untuk memunculkan efek unik itu, melainkan masih berinteraksi dengan keluarganya serta masih berinteraksi dan mendapat masukan dari media dan teman2.
So, jika lantas saya simpulkan. Perploncoan memang bisa menimbulkan perasaan solid, kompak dan terikat secara emosional. Bukan hanya antar mahasiswa baru, namun juga antar maba dengan senior. Syarat2nya adalah sebagai berikut:
- Terdapat aktivitas fisik yang benar2 menguras tenaga
- Terdapat pengondisian emosi yang sedemikian intens (hingga sasaran merasa amat takut, amat khawatir, amat marah, apapun emosi yang sifatnya ekstrim)
- Dalam lokasi dan durasi waktu yang tak terputus dan cukup lama
- Konsistensi dari senior (semuanya bersikap keras, tidak ada istilah senior lunak)
Nah, dengan syarat yang semacam demikian, bisakah Anda (mahasiswa) memenuhinya? Jikapun bisa, memungkinkan kah hal ini dilakukan?
Bagaimanapun, inilah yang membuat perploncoan masih terus dilestarikan, entah oleh geng motor, geng perempuan, ataupun oleh yg lain. Karena meskipun sang pelaku dan korban tak bisa menjelaskan dasar ilmiahnya, perploncoan tyt mendatangkan manfaat scr emosional bagi mereka (bukan berarti yg trauma tak ada). Common sense dan moralitas kita sudah jelas jelas menentang kekerasan dan penyiksaan, namun faktanya perploncoan tyt memang bisa mendatangkan rasa kompak, solid, kebanggaan, penghargaan yang tinggi pada komunitas.
So?








August 13th, 2008 at 12:32 am
Salam mas guntar, kebetulan sy jg mau menulis tentang pengkaderan :Dsaya setuju yang diungkapkan mas guntar, tapi sy agak sedikit aneh, foto2 yang aksi telanjang itu bukan di Indonesia lho mas, tapi di philipina.itu perasaan juga bukan ospek deh.Kalo di philipina aksi telanjang itu menurut mereka sudah biasa sebagai ungkapan kebebasan. Lah wong di university of philipine aja byk patung2 telanjang (ungkapan kebebasan itu).. hehehe…
August 13th, 2008 at 1:55 am
ini loh mas berita tentang foto2 telanjang itu dari philipina http://grandparagon.com/index.php/2008/06/22/foto-dan-video-ratusan-mahasiswa-berlari-bugil-di-filipina/
August 13th, 2008 at 6:37 am
saya sependapat dengan tulisan ini tentang bagaimana suatu perpeloncoan memang diperlukan, tetapi perlu dikritisi bahwa ospek yang sekarang telah menyatu dengan dunia pendidikan reguler. Hal ini yang saya gugat, karena bukan pada tempatnya.
apakah mas guntar pernah diospek? berapa kali mas guntar diospek? ospek yang seperti apa? saya pernah diospek 10 kali lebih mulai dari smp sampai menjadi mahasiswa karena saya mengikuti banyak kegiatan organisasi yang rata-rata berkaitan dengan pembelajaran mental seperti pramuka, pencak silat, dan mapala. saya menerima banyak perlakukan seperti ditendang, dipukuli, dilucuti pakaiannya, ditampar, disuruh makan daun, ditenggelamkan, dan lain sebagainya. selama itu saya menikmatinya, karena memang pada tempatnya yaitu organisasi-organisasi tempat penempaan mental.
tetapi ketika ospek masuk dalam dunia pendidikan dan menjadi ritual masuk dalam dunia tersebut, membuat saya bertanya? untuk apa? dan tentunya ini adalah sebuah “pemaksaan psikologis” tidak seperti ketika saya memang benar-benar masuk dalam suatu organisasi, yang itu merupakan minat dan sudah tujuan saya.
jikapun generasi saya masih diospek ketika masuk SMA atau kampus dan bahkan generasi sebelumnya mengalami ospek yang lebih dasyat? apa pengaruhnya dengan mental mereka? apa pengaruhnya dengan orang-orang indonesia? mengapa masih banyak korupsi yang notabene dilakukan oleh para intelektual yang katanya berasal dari universitas-universitas besar yang terkenal dengan ospeknya?
hehe.. cuma sekedar sharing saja, thanks.
kenzs last blog post..Pergerakan Aksi Massa Mahasiswa Indonesia Terjebak dalam Tong Kosong?
August 13th, 2008 at 10:49 am
Sebenarnya pesan saya bukanlah bahwa perploncoan diperlukan (berdasarkan definisi yg saya berikan), melainkan pengondisian keras perlu diterapkan. Namun keras di sini bukanlah kekerasan, penindasan, dan penyiksaan.
Saya pernah diospek, Mas. Sering. Seperti yg telah saya sampaikan di halaman akhir
. Dan berbeda dg sampean, meskipun saya merasakan manfaatnya, tapi saat menjalani dulu saya tidak menikmatinya
.
Karena memang penting, pembinaan mentalitas tu harusnya bukan hanya diterapkan di kepramukaan. Atau mungkin lebih tepatnya sebaiknya setiap siswa diwajibkan aja ikut pramuka (saya dulu tidak ikut pramuka). Intinya sama sekali bukan agar mereka diplonco, melainkan agar mental mereka diperkuat & dibina. Pramuka kan ekskul yg amat bagus.
Dan jika lantas ospek maut masuk kampus, kita memang patut waspada: itu yg ngospek paham ilmunya ngga? Itulah kenapa saya menawarkan alternatif. Pada posting2 berikutnya saya akan sampaikan pemikiran saya tentang ospek dg mahasiswa sbg pelaksana.
Dan akhirnya, ospek (yg skr ini) apalagi perploncoan tidaklah menjamin seseorang tidak korupsi. Karena apa yg disasar adalah mentalitas, bukannya moralitas. Harusnya sih jadi satu, tapi yg selama ini terjadi belumlah begitu. Shg yg dihasilkan adalah orang2 bermental tangguh -salah satunya-, tapi belum tentu mereka bermoral tangguh.
Itulah kenapa mahasiswa baru juga wajib ikut mentoring atau pembinaan agama secara intens selama minimal satu semester, untuk kemudian melanjutkan secara non formal untuk seterusnya.
August 13th, 2008 at 1:20 pm
HAPUS semua yang berbau kekerasan, masih banyak cara orientasi yang lebih bangus.
August 13th, 2008 at 9:36 pm
Pekan orientasi studi seharusnya tak menjadi perpeloncoan, namun saatnya bagi adik-adik mahasiswa baru mengenal lingkungannya. Saat masuk Perguruan Tinggi tahun 1970, sayapun mengalami pekan orientasi studi minus perpeloncoan…nAmun dosen harus bertindak tegas dan ikut menunggu para senior agar tak melanggar ketentuan
August 14th, 2008 at 12:25 pm
Membaca posting yang satu ini emang harusnya dengan pemikian yang terbuka. Dalam media, perploncoan lebih banyak disorot tentang sisi kekerasan dan korbannya saja. Akibatnya jadi antipati sendiri. setiap mendengar kata perploncoan yang ada respon menolak.
Posting yang bagus. as usual. ^_^
August 15th, 2008 at 11:10 am
Di UNAIR sekarang udah gak lagi koq pak.
August 16th, 2008 at 3:47 am
setuju ngga setuju sich , soalnya tadi baru liat ospek juga di kampus deket rumah
August 17th, 2008 at 1:18 pm
Zaman sekarang, istilah senior dan junior sudah harus dihilangkan. Justru kedua golongan ini semestinya bergerak selaras. Saya lebih setuju dengan sistem Pengenalan Kampus dimana mahasiswa baru di perkenalkan dengan gaya belajar dan kehidupan kampus. Sehingga tidak ‘kaget’ bila kemudian mendapat tugas yang ‘bejibun’.Singkirkan perploncoan, setuju dengan Kang Akhmad, sangat tidak sesuai dengan tujuan. Kecuali jika dididik untuk menjadi PEMBUNUH.-Salam kenal Kang-
August 17th, 2008 at 8:33 pm
salam.lam knal mas..mhsswa tc jg sy..:Dkalo ngmng masalah pengkaderan/ospek emng g ad habisnya mas..:)sy setuju jika pengkaderan memang harus ad dan sdikit bnyk perlu adanya pengkondisian mhsswa barucmn sekarang memang agak sulit untuk menerapkan hal tersebut dikmpus,y karena berbagai atauran yg mengikat dan berbagai alasan yg mendasari aturan tersebut keluar..ngurusin manusia emng sulit mas..:)
bhagass last blog post..Merah Putih Kampusku
August 20th, 2008 at 6:24 pm
horee sukses membaca semua halamannya :Dtulisannya informatif sekali, sy rasa Mas Guntar bisa mengembangkannya menjadi sebuah bukusaya sendiri ketika membaca tulisan ini, dalam hati “oooh ternyata begitu, ooh ternyata begini”entahlah fenomena OSPEK yg terjadi skrng apa, OSPEK eksis tetapi pengetahuan dan filosofi yg membelakanginya spt tidak eksis, maksud sy kebanyakan baik mhsw baru atau senior banyak yg tidak paham OSPEK itu sendirioh iya, kalo di Bandung terutama di DT ada yg dinamakan SSG (santri siap guna), saya pernah mengikuti pelatihannya, dan sangat terkesan, keras tetapi tidak keras, pelatih tidak diperkenankan menghina, memukul tetapi perjuangan fisik bagi setiap peserta harus dilakukan (nyebur ke kali, camping 3 hari 3 malam dengan jam tidur sedikit, masuk ke “hutan “sendirian tengah malam hanya dengan mengikuti lilin yg diletakan bbrp meter de el el, entahlah mungkin ospek dgn model spt ini yg perlu digalakan
August 20th, 2008 at 6:25 pm
aneh nih , setiap ngasih comment di sini, spasi antar paragraf selalu tidak terbaca
August 21st, 2008 at 8:34 am
[...] post sebelumnya telah saya sampaikan bahwa bagaimanapun mahasiwa baru perlu dberi pengondisian keras sesuai dg [...]
August 21st, 2008 at 8:40 am
[...] post sebelumnya telah saya sampaikan bahwa bagaimanapun mahasiwa baru perlu dberi pengondisian keras sesuai dg [...]
August 28th, 2008 at 10:28 am
y selama ni indonesia emang identik dengan kekerasan sebab emang dulu ketika masih di pimpin oleh soharto semua serba berbau militer sehingga semua sendi masyrakat tetap tertanam hal yg berbau militer ato kekerasan karena mulai dari sekarang perlu tindakan penghapusan kekerasan agar tidak terjadi hal yg memalukab seperti perkelahian di MPR
mbah gendengs last blog post..Pelet situs pencari
September 6th, 2008 at 10:23 am
wah sudah lama tidak berkunjung disini. artikel masih sama kayak dulu…….keren!!!
ghosty1sts last blog post..belajar dari Paku dan Pohon
September 18th, 2008 at 7:28 pm
memang betul bahwa semua mahasiswa baru alias MABA, merasa akan takut dan was-was ketika mendengar kata ospek di kampus yang baru dimasukinya, ini dikarenakan banyaknya kejadian atau korban yang jatuh pada saat ospek itu berjalan. kalo seandainya para senior atau seluruh perangkat pengkaderan dalam hal ini ospek mencoba untuk duduk dan rembuk serta menkaji lebih jauh sebuah metodologi ospek yang ideal kalau selama ini hanya berorientasi pada kekerasan fisik kenapa tidak hari ini kita mencoba untuk mengarahkan mereka dari awal untuk keras dalam berifkir…????
September 29th, 2008 at 3:28 am
1 question…kalo ospek ginian sgitu postifnya dmata anda, knapa negara maju tidak meng-adopt system ginian? just think about it….why negara maju bisa maju tanpa ospek yg anda nyatakan memupuk nilai2 positif di dalam diri mahasiswa yg merupakan calon benih2 bangsa.saya yakin ada jalan yg lebih baik drpd ospek militer seperti ini.
September 29th, 2008 at 10:11 am
immank:
Berdasarkan pengalaman dan pengetahuan saya, konsep pengkaderan yg ideal sebaiknya tidak (hanya) datang dari mahasiswa, Mas. Melainkan dari mereka yg telah lulus. Perspektif dan masukan mereka lebih bebas dari tendensi dan motif pragmatis untuk semisal mendapat penghormatan dari yunior.
shinji:
mas Shinji yg baik, pertama perlu diketahui dulu bahwa ospek model brutal, model keras hingga yg model positif mendidik itu sudah ada di negara maju. Tulisan saya ini juga didasarkan atas riset yg dilakukan oleh Elliot Aronson, Judson Mills, dan Robert B. Chialdini di negara2 maju spt Inggris, Amerika, dan Australia.
Konsep Boot Camp yg saya usulkan pada halaman terakhir juga inspirasinya dari negara maju tsb. Jepang dan Korea Selatan yg lebih maju ktimbang Indonesia jg gunakan model pendidikan keras mendidik semacam yg saya sampaikan di halaman terakhir (mrk pake program pendidkan wajib-belajar-militer selama 3-6 bulan).
Ada yg beranggapan raw material masyarakat kita (dlm hal mentalitas) lebih buruk ketimbang Jepang, Amerika atau yg lain. Etos kerja lebih buruk, disiplin lemah, dsb. Shg hal ini ustru menjadikan pengondisian penuh disiplin jadi krusial utk diterapkan.
November 25th, 2008 at 12:54 pm
wow lebih banyak di kasi artikel dunk…….
kayak tips web browser…..
chating software kayak YM, MIRC, dll
chating mobile seperti mig33, mxit, ultamirc, dll
o i yaaaaaaaaaa bisa kasi tips edit FS biar keren penuh dengan animasi dan multimedia
juga software2 yang penting2 lah
religi nya di tambahin OK