May 21

Pada posting tentang belajar manajemen karir ala manga, telah saya sampaikan bahwa Anda sebenarnya tidak akan mampu membuat peta hidup diri secara sempurna hingga jauh ke depan di saat Anda berusia 21 – atau 31 atau 41 atau bahkan 51. Anda mungkin berpikir bahwa X akan membawa ada ke Y, dan Y akan membawa Anda pada Z… Tapi nyatanya yg terjadi bukan seperti itu. Hidup ini bukanlah persoalan aljabar matematika. Riilnya, X bisa jadi akan membawa Anda ke W, dan W mungkin akan membawa Anda ke warna biru, warna biru bisa jadi akan membawa Anda ke ayam goreng sambel. Read the rest of this entry »
Popularity: 3% [?]
May 20

Sebelum membaca tulisan ini, sebaiknya Anda cermati dulu beda antara karir, pekerjaan dan profesi.
Nah, sekarang issuenya, manakala sudah kadung terjun sekian lama di profesi atau pekerjaan tertentu, apakah merupakan hal yang bijak jika harus berpindah ke karir yang mensyaratkan adanya profesi tertentu?
Mengapa tidak?
Jangan2 pilihan yang Anda ambil dulu memang kurang tepat atau kurang relevan lagi dengan kondisi sekarang. Bisa jadi dulu Anda belum mendapatkan informasi yang cukup untuk menentukan pilihan karir. Silahkan direnungkan: Jika sekarang Anda diberi kesempatan untuk memulai lagi dari awal, apakah Anda akan tetap menjalani serangkaian pekerjaan seperti yang Anda lakukan hingga saat ini? Apakah Anda memang ingin mencapai kebesaran Anda dengan pekerjaan atau profesi tepat seperti sekarang ini?
Jika jawaban Anda adalah tidak, maka apa yang Anda punya sekarang sebenarnya masih sekedar pekerjaan atau profesi, dan bukanlah sebuah karir. Karir Anda berarti ada di luaran sana. Read the rest of this entry »
Popularity: 3% [?]
May 19

Jika Anda ditanya: “Karir Anda sebenarnya apa?” apakah akan sama jawabannya dengan ketika Anda ditanya “Apa sih pekerjaan Anda?” ataukah Anda bakal menjawabnya dg “Profesi saya adalah …”
Lah, mengapa sih kok dibikin ruwet kayak gitu? Kenapa pake merepotkan diri dengan banyak istilah? Kenapa ndak cukup gunakan saja istilah Karir, dengan anggapan bahwa itu sama dengan pekerjaan dan juga profesi.
Itu nanti sama saja klo ada orang asing yang ingin menyebut gabah, beras, bubur, dan nasi dalam satu istilah saja: nasi. Padahal kita tahu masing2 punya karakteristik dan fungsi yang berbeda. Tingkat akurasi kita dalam memaknai “nasi” akan berpengaruh pada kemampuan kita untuk melakukan tindakan secara bersesuaian dengan maknanya masing2. Klo sudah tau bahwa itu beras, maka ya jangan langsung dimakan, dan jangan juga menyuguhkan makanan dalam bentuk masih berupa beras. Jika kemudian semua disamakan sebagai “nasi”, bukankah salah kaprah bakal terjadi.
Read the rest of this entry »
Popularity: 4% [?]
Apr 02
“The luckiest man is one whose hobby and profession are same.”
Yes, no doubt about it. Tapi kenapa kok ndak sebegitu gampangnya orang2 berprofesi/berbisnis sesuai dg hobi?
Kebanyakan kita barangkali telah tau bahwa hal pertama yg musti dilakukan adalah menemukan (dan mengingat2) ketertarikan dan kecenderungan terbesar – terkait ragam aktivitas yg Anda nikmati, lingkungan kerja yg Anda sukai, teknologi yg Anda suka utk bekerja dengannya, serta macam orang yg Anda suka utk bekerja dengannya. Nyatanya memang ndak sangat gampang juga untuk menemukan ini, karena seringkali alasannya sekedar lupa atau ndak dg sengaja menyempatkan untuknya.
Read the rest of this entry »
Popularity: 20% [?]
May 31
Kemarin baru saja saya mengelola Technopreneur Workshop dg peserta adik2 saya dari T.Informatika ITS. Amat menarik; tidak satu pun dari peserta membuat gagasan bisnis yang terkait dg software. Gagasan mereka berkisar mulai dari pet’s salon, kerajinan tangan, transportasi umum alternatif sampai butik pakaian tradisional.
Trus yang kayak gitu itu apa lantas boleh dibilang pengkhianat?
ya ndak laah. Yang penting kan kita bisa jadi insan yang bawa kemanfaatan bagi masyarakat, ndak nganggur dan merasa tertekan dalam status itu.

Bisnis Pets’ Boutique. Anda tertarik? 
Read the rest of this entry »
Popularity: 24% [?]
Recent Comments